RADARSEMARANG.ID, Magelang – Serial Gadis Kretek yang telah tayang di layanan streaming Netflix sejak Kamis (2/11) yang dibintangi para artis kawakan.
Diantaranya Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Putri Marino, Arya Saloka, Tissa Biani, Ibnu Jamil, dan Sha Ine Febriyanti, serial lima episode ini sukses mencuri perhatian para penggemar.
Serial ini tidak hanya menghadirkan cerita menarik dan sejumlah pemeran papan atas. Namun, tempat mereka syuting juga menarik perhatian para penonton.
Selain lokasi syuting seperti Museum Kretek Kudus, Rumah Residen Kedu Kota Magelang, The Sultan Hotel and Residence Jakarta, Los Mbako Menden Klaten, dan Stasiun Tuntang Semarang. Ada satu lokasi yang cukup menarik perhatian, yakni di Kabupaten Magelang.
Di dalam cerita, dengan mengangkat latar kisah mengenai industri kretek di tahun 1960-an, salah satu hal yang mencuri perhatian dari serial Gadis Kretek ini adalah latar tempatnya. Pasalnya, penulis hanya menyebutkan inisial 'Kota M' sehingga banyak orang yang penasaran.
Bukanlah sebuah fiksi, rupanya Kota M memang diambil dari kejadian nyata. Kota M berada di kecamatan Muntilan perbatasan antara Magelang dan Yogyakarta.
Berdasarkan pencarian wartawan Jawa Pos Radar Magelang pada Senin (13/11), salah satu tempat syuting yang menjadi latar belakang dalam cerita ini khususnya di episode pertama yakni, Pasar Kayu Muntilan yang berada di Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.
Tampak beberapa properti yang digunakan dalam pembuatan film tersebut, tersisa sedikit. Salah satunya yang masih tampak adalah sebuah poster yang menunjukkan 10 batang si garet kretek dengan merek merah, diproduksi di Kota M.
Saat proses syuting berlangsung pada akhir Agustus 2022 lalu, sejumlah titik lokasi di kompleks pasar tersebut disulap oleh tim produksi menjadi pasar zaman dahulu era 1960-an.
Lapak pedagang kayu juga ada yang diubah menjadi sejenis warung, restoran jadul, serta gudang penyimpanan rokok kretek.
Evi Handayani, 46, membenarkan, kalau lokasi pasar kayu Muntilan digunakan sebagai tempat syuting Gadis Kretek.
“Dari tengah sampai ujung dibuat shooting semua. Kurang lebih itu dua minggu prosesnya. 2022 kemarin. Agustus ya,” ujarnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Semarang.
Ia mengatakan, dulu lokasi Pasar Kayu Muntilan ini di sewa secara penuh selama dua minggu. Jadi pada waktu itu benar-benar libur, apalagi semuanya digunakan untuk syuting.
“Dulu dibuat kayak warung zaman kuno yang dibuat lapak. Dibuat stand-stand ada rokok tembakau sayuran mainan. Kayak pasar gitu,” terangnya.
Saat ditanya di sewa berapa, Evi mengaku, harga sewanya beda-beda, ada yang Rp 15 juta ada yang Rp 12 juta, ada yang Rp 10 juta, dan ada yang Rp 5 juta.
“Kalau sini dulu sewanya Rp 12 juta, dan punya saya ada dua plang yang di sewa. Karena tempat kita strategis ya kita selama itu kan terus nggak bisa jualan,” ujarnya.
Selain tempatnya disewa, para warga di Pasar Kayu Muntilan juga diajak untuk menjadi pemeran figuran dalam film Gadis Kretek. Evi mengaku, dirinya bersama keluarganya diajak menjadi pemeran figuran.
“Selama menjadi figuran saya mendapatkan sekitar Rp 150.000 per hari. Jadi, kita benar-benar seperti bekerja. Apalagi pada waktu itu masih dalam kondisi transisi setelah Pandemi, jadi sangat membantu,” ujarnya.
Evi menyampaikan, total ada sekitar 50 orang dari warga pasar kayu Muntilan Magelang yang diajak menjadi figuran. Ia bercerita ikut syuting memang benar-benar capek.
“Saya syuting itu dari jam 5 pagi mulai itu jam 6 sore. Untuk, kostumnya saya bawa sendiri, pakai kebaya jadul sama jarik. Pakai kebaya, soale punya to mbahe saya (mbah saya punya). Tapi yang pertama kita pakai baju jadul sama rok jadul gitu (disiapkan) dari timnya sana,” jelasnya.
Sementara itu, hal yang sama juga disampaikan Sohirah, 60. Ia bercerita, awalnya dia melihat kok ada orang banyak ke sini terus pada tanya-tanya.
“Saya tanya, mau buat apa ? mereka menjawab mau buat shooting bu. wah shooting opo, saya bilang gitu saya nggak percaya,” ujar Sohirah.
Namun, selang beberapa hari lagi. Mereka datang seperti melakukan survei. Karena penasaran, ia bertanya ke teman-teman pedagang lainnya, katanya memang mau digunakan untuk syuting.
Setelah rembukan, ternyata kios miliknya dipilih untuk disewa. “Tempat saya ada empat plong yang di sewa, dan di sewa Rp 15 juta,” ujarnya. (rfk/bas)
Editor : Baskoro Septiadi