S Soediarto dan Slamet Rijadi mendapatkan tugas untuk memadamkan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).
Kedua sahabat ini memimpin pasukan masing-masing mendarat di Ambon. Takdir membawa mereka ke penugasan terakhir.
Letnan Selardi, seorang anggota Staf Brigade V, Divisi II TNI mencatat percakapan antara dua sahabat, Letkol S Soediarto dan Letkol Slamet Rijadi. Percakapan tentang kematian.
Dalam buku Mengenang Ignatius Slamet Rijadi, Selardi mendengar percakapan tersebut saat makan pagi di geladak KRI Radjawali yang saat itu dalam perjalanan menuju Ambon.
Latihan terakhir pasukan yang akan didaratkan ke Ambon. Kedua perwira muda tersebut ditugaskan memimpin pasukan untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).
Meski diselingi deru ombak yang berisik di bulan September, Selardi masih bisa mendengar dengan jelas percakapan tersebut.
Sebab mereka hanya duduk berempat sambil menikmati sarapan. Selardi, Slamet Rijadi, S Soediarto dan ajudan Slamet Rijadi, Soekirmo.
“Met, aku nanti akan gugur di sini mendahului kamu,” kata Soediarto.
“Ora isa (tak bisa). Aku lebih dulu. Apa sebabnya kamu harus lebih dulu?” bantah Slamet Rijadi.
“Aku lebih dulu karena aku lebih tua daripada kamu.”
“Ora, aku lebih dulu. Sebab di sini aku Komandan. Aku akan gugur setelah menguasai Ambon.”
Panglima Operasi Penumpasan RMS Kolonel Alexander Evert Kawilarang (Alex Kawilarang) menyiapkan operasi militer untuk mendaratkan pasukan ke wilayah pemberontakan.
Operasi militer dengan sandi Operasi Senopati. Operasi Senopati I berlangsung dari 14 Juli 1950.
Pasukan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) berhasil menguasai pos-pos penting di Pulau Buru. Pada 19 Juli 1950 pasukan APRI berhasil menguasai Pulau Seram.
Operasi Senopati I terus berlangsung. Pada 28 September 1950 diputuskan untuk mendaratkan pasukan ke jantung pemberontak, Kota Ambon. Titik pendaratan di Hitu dan Teluk Tulehu.
Soediarto sebagai komandan Batalyon Banteng Merah (sejumlah sumber menulis Batalyon Gadjah Merah, red) mendapat tugas memimpin pendaratan di Hitu sekitar pukul 07.00.
KRI Hang Toeah memulai serangan dengan membombardir kawasan pantai untuk melumpuhkan pertahanan musuh.
Setelah pasukan RMS mundur dari kawasan pantai, pendaratan pasukan gelombang pertama menggunakan landing craft mechanized (LCM) mengarah ke Tanjung Mamua.
Disusul pendaratan gelombang kedua. Pendaratan pertama dan kedua berlangsung aman, karena pasukan utama RMS sudah meninggalkan pantai.
Pada pendaratan ketiga, Soediarto termasuk di dalam LCM. Tiba-tiba perlawanan dari musuh kembali datang.
LCM yang ditumpangi Soediarto dihantam ombak besar. Apa celah dari pintu kapal yang tidak terlindungi karung pasir pelindung.
Rupanya celah ini berhasil dimanfaatkan seorang sniper RMS. Bidikan penembak jitu dari daratan tepat mengenai perut Soediarto.
Soediarto sempat mendapatkan perawatan di KM Waibalong. Sekitar pukul 21.00, Soediarto gugur.
Surat kabar Java Bode edisi 9 Oktober 1950 memberitakan peristiwa operasi pendaratan 28 Oktober 1950.
Diterangkan, operasi pendaratan ini memakan korban jiwa 20 orang dari APRI. Salah satunya komandan pasukan Soediarto.
Berita tentang gugurnya Soediarto juga dimuat surat kabar Trouw (7 Oktober 1950), Arnhemsche Courant (7 Oktober 1950), Nieuwsbland van het Noorden (7 Oktober 1950), AID de Preangerbode (25 Oktober 1950), de Vrije Pers (25 Oktober 1950), Nieuwe Courant (25 Oktober 1950), Java Bode (25 Oktober 1950), Het Nieuwsblad (26 Oktober 1950).
Sebulan setelahnya, pada awal November 1950, pasukan APRI telah berhasil menguasai sebagian Ambon.
Operasi Senopati II dilancarkan untuk membersihkan sisa-sisa pengikut RMS.
Pada 4 November 1950, pasukan yang dipimpin Slamet Rijadi meneruskan pergerakan untuk merebut Benteng Victoria di dalam Kota Ambon.
Slamet Rijadi yang berada di dalam panser sudah sekitar 30 meter dari Benteng Victoria.
Berkalung teropong dan senjata owen, Slamet Rijadi keluar dari kubah panser untuk memeriksa keadaan.
Meski telah dicegah anak buahnya, Kapten Klees, tapi tak dihiraukan.
“Dor!” Peluru melesat dari Benteng Victoria. Bidikan sniper mengenai perut.
Slamet Rijadi roboh. Meski sempat mendapatkan perawatan, Slamet Rijadi menyusul sahabatnya, Soediarto.
Kedua sahabat ini gugur dalam tugas merebut Ambon. Pemerintah memberi penghargaan dengan menaikkan pangkat mereka, dua tingkat lebih tinggi menjadi Brigjen.
Yang berbeda, pemerintah telah menetapkan Slamet Rijadi sebagai pahlawan nasional, gelar yang tidak diterima Soediarto. (*)
Editor : Pratono