Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Pro Kontra Wisuda Lulusan Sekolah, Pelepasan Siswa Tak Perlu Mewah

Muhammad Iqbal Amarl • Senin, 3 Juli 2023 | 15:59 WIB
Sekolah
Sekolah

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Wisuda untuk siswa PAUD, TK, SD, SMP maupun SMA marak digelar. Kegiatan ini menimbulkan pro dan kontra, terutama di kalangan orangtua. Ada yang merasa keberatan karena harus mengeluarkan banyak biaya, tapi ada juga yang senang dengan alasan sebagai penghargaan terhadap kerja keras anaknya.

Salah satu wali murid SD asal Kaligawe, sebut saja Sri, langsung pusing kepalanya ketika menerima pemberitahuan bahwa sekolah anaknya akan menggelar wisuda. Sebab ia harus mengeluarkan biaya ekstra agar anaknya bisa ikut wisuda. Siswa yang lulus diminta untuk memakai celana hitam, kemeja putih lengan panjang dan jas hitam. "Padahal belum punya semua," keluhnya.

Berbeda dengan Sri, orangtua salah satu siswa SD swasta yang baru lulus, Riyan mengaku mendukung adanya wisuda yang digelar sekolah anaknya. Sebab acara ini menjadi kebanggan bagi siswa maupun orangtua. “Tentu saya senang melihat anak saya diwisuda,” katanya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Rahmulyo Adi Wibowo mengaku mendengar keluhan dari orang tua siswa yang sebenarnya tidak setuju dengan acara wisuda untuk melepas siswa. Pasalnya kegiatan tersebut juga mengeluarkan biaya yang cukup besar sehingga dinilai memberatkan.

“Kemarin ada diskusi, hampir semua tidak setuju. Orang tua minta sekolah menggelar kegiatan yang biasa saja. Karena setelah kelulusan orang tua ini kan pusing, harus mempersiapkan uang untuk kelanjutan sekolah, beli baju dan lainnya,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang Minggu (2/7).

Politikus PDI-Perjuangan ini, menjelaskan acara wisuda sebenarnya bukan suatu kewajiban. Apalagi dari Kemendikbud sudah mengeluarkan edaran, artinya jika sekolah ingin mengadakan kegiatan, tidak boleh ada paksaan bagi orang tua siswa yang tidak ingin ikut.

Hal serupa diungkapkan pengamat pendidikan dari Universitas PGRI Semarang (Upgris) Ngasbun Egar. Ia menilai acara pelepasan memang penting untuk menyampaikan pesan moral kepada siswa ketika mentas dari SD, SMP, ataupun SMA sederajat agar bisa membawa nama baik almamater di sekolah baru ataupun lingkungan.

Namun ia menggarisbawahi, acara pelepasan ini tidak boleh memberatkan orang tua siswa apalagi dengan istilah wisuda. Sebab kata wisuda identik dengan perguruan tinggi yang hampir sama dengan pelantikan gelar tertentu misalnya sarjana, magister ataupun doktor.

“Kalau di tingkat sekolah nggak perlu lah. Apalagi kalau siswa lulus, nggak bawa gelar tertentu. Apalagi kalau digelar mewah di gedung ataupun hotel, saya rasa ini sudah menyimpang. Idealnya digelar perpisahan secara sederhana dan tidak memberatkan,” tambahnya.

Kepala SMP Negeri 18 Semarang Puryadi mengatakan, selama ini pihaknya tidak mengenal istilah wisuda tapi pelepasan siswa. Sebab pada Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), orang tua mengantar dan secara simbolis menyerahkan siswa oleh orang tua kepada pihak sekolah. "Di akhir, mestinya ada simbolis pelepasan juga," kata Puryadi.

Upacara pelepasan, lanjutnya, merupakan permintaan dari orang tua. Sebelumnya pihak sekolah mengundang komite atau orang tua untuk menanyakan apakah ada acara pelepasan atau tidak.

"Biasanya ide orang tua itu sendiri, karena orang mempunyai grup orang tua atau komite. Tahun ini, SMP Negeri 18 Semarang melepas 255 siswa," katanya. Pelepasan siswa-siswi kelas IX SMP Negeri 18 Semarang tahun ini berlangsung di Hotel MG Setos pada 15 Juni 2023.

Ia menambahkan, pihak sekolah sangat taat terhadap aturan atau imbauan dari Dinas Pendidikan maupun pemerintah. "Kalau tidak boleh, ya tidak boleh. Ini kan masih diproses edarannya, ya. Nanti kita tidak melaksanakan," katanya.

Kepala SD Negeri Pekunden Abdul Khalik tak menampik, tiap tahun menyelenggarakan pelepasan siswa. Hal itu dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap siswanya sendiri. Selain itu juga mempertemukan siswa dengan wali murid secara bersamaan atas prestasi yang didapatkan selama belajar

"Memang ada yang berpendapat wisuda hanya untuk yang kuliah saja. Tapi kan tidak semua bisa mengenyam bangku kuliah. Toh ini hanya bentuk seremoni saja supaya anak-anak merasa diapresiasi dan bangga ketika sudah lulus," ujarnya.

Hingga saat ini, kata dia, tidak ada orang tua yang mengeluhkan ihwal penyelenggaraan pelepasan siswa. Sebab, pihak sekolah tak mewajibkan dan semua kembali pada kesepakatan hasil musyawarah orang tua dan pihak sekolah. "Penyelenggaraan juga dikemas secara sederhana," terang Khalik. (mia/fgr/den/ton)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#WISUDA #SEKOLAH