RADARSEMARANG.ID, Nama Iptu Handri Kristanto, di kancah sepakbola Indonesia sudah tidak asing lagi. Anggota Polri yang saat ini menjabat Kapolsek Candisari, Polrestabes Semarang ini, , dulu kerap memimpin laga pertandingan Divisi Utama Liga 1.
Di dunia perwasitan, karir Handri Kristanto cukup moncer. Dua kali meraih penghargaan sebagai wasit terbaik di ajang Indonesian Super League (ISL) pada 2014. Bahkan, ia juga pernah mendapat kesempatan mengikuti seleksi wasit FIFA di Brunei Darussalam.
"Iya, itu dulu, dapat penghargaan dua kali wasit terbaik. Sekarang sudah tidak lagi eksis di wasit. Tapi masih aktif di referee legend Kota Semarang," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (30/6) kemarin.
Pria kelahiran 1982 ini bercerita, karirnya menjadi wasit diawali dari hobinya bermain sepak bola. Handri sempat bergabung dalam klub kesebelasan Persikas Apac Inti Kabupaten Semarang pada 1997 hingga 2000.
"Ketemu Bambang Pamungkas kan di situ. Jadi sejak remaja sudah hobi main bola, di lapangan di kampung-kampung," ujar pria yang berulangtahun setiap 21 Maret itu.
Handri vakum bermain sepak bola dan masuk daftar menjadi anggota Polri tahun 2000. Tugas pertamanya di di Mako Korp Brimob Polri Depok. Kemudian kembali ke Semarang.
Di sela profesinya, ia ikut klub sepak bola kompetisi amatir Kota Semarang. Persatuan Sepak Bola Polisi (PS POP). “Setelah jadi polisi tetap main bola,” kata pria asli Srondol Wetan, Kota Semarang, itu.
Handri tergolong piawai dalam bermain bola. Ia dipercaya menjadi striker pada 2006. Satu tahun kemudian, Handri memutuskan gantung sepatu lantaran mengalami cedera. Dari situ dia memutuskan untuk menjadi wasit.
"Setelah polisi ikut POP Polrestabes Semarang itu cedera, bagian lutut. Terus off setahun. Dipastikan sudah tidak bisa maksimal lagi (bermain bola), akhirnya mengambil jalur wasit," katanya.
Alasannya menjadi wasit, Handri termotivasi dari Widiyanto, anggota Polri yang juga menjadi wasit sepakbola. Dia mendapat lisensi wasit pada 2007. Kariernya mulai eksis pada 2011.
Setahun berikutnya, mulai memimpin pertandingan ISL. Meski sudah lama berkecimpung di dunia bola, rasa grogi masih menyelimuti Handri saat diterjunkan langsung di kompetisi kasta tertinggi di Indonesia itu.
"Itu pasti ada grogi. Apalagi di level Divisi Utama dan ISL," ujar Handri yang mengku menghilangkan rasa grogi dengan bersyukur karena bisa memimpin laga besar.
Selama menjadi wasit, Handri dikenal sebagai pengadil lapangan yang tegas dan lugas dalam memberi keputusan. Suka duka ia jalani dengan penuh semangat dan keikhlasan.
Ia bangga bisa tampil dan menjadi pemimpin pertandingan di hadapan puluhan ribu penonton. Namun ia harus rela mendapat sikap pemain maupun penonton yang agresif karnea keputusannya di lapangan.
“Ya memang kadang ada cemooh para penonton, ya kita tetap konsentrasi mengawal pertandingan dari awal sampai akhir," ucapnya.
Karirnya semakin moncer, Handri tercatat pernah mengikuti seleksi Wasit Elite Asia. Saat itu, hanya dua orang yang terpilih mengikuti seleksi itu di Brunei Darussalam tahun 2014.
Namun, Handri absen karena hendak menempuh sekolah perwira tahun 2016. Kemudian mulai aktif lagi di tahun 2018.
Setahun kemudian, ia memilih gantung peluit dan fokus mengembangkan karirnya di kepolisian. Pada Oktober 2021, dia dilantik menjadi Kapolsek Candisari.
"Ya, soalnya saat ini sedang ada tugas penting lain yang harus saya laksanakan. Saya diberi amanah Kapolsek. Tentunya menjalankan amanah dengan maksimal, karena memang polisi ini menjadi yang utama," kata pria Handri.
Menurutnya, menjadi wasit dan polisi tidak jauh beda. Keduanya, sama-sama mengayomi dan melindungi masyarakat. Sehingga, ketika menjadi wasit atau polisi, Handri merasa masih menjalankan satu profesi.
"Saat jadi wasit itu kan keputusannya juga berpengaruh pada masyarakat. Oleh karena itu wasit atau polisi bagi saya tidak ada beda. " ujar Handri.
"Sama-sama memberikan rasa nyaman kepada yang main, juga penonton. Kalau wasitnya menjalankan tugasnya dengan baik kan yang jelas Harkamtibmas juga baik," pungkasnya. (*/zal)
Editor : Agus AP