RADARSEMARANG.ID - Maulana Fatahillah Adzima, siswa SMA Negeri 3 Semarang punya prestasi luar biasa. Ia diterima di 27 program studi dari 21 universitas luar negeri di delapan negara. Pemuda asal Banyumanik ini akhirnya memilih pinangan dari University of California, Berkeley jurusan teknik sipil (civil engineering).
Dari 398 siswa lulusan SMA Negeri 3 Semarang tahun ini, ratusan di antaranya diterima di PTN bergengsi di Indonesia. Empat siswa bahkan diterima di luar negeri. Namun sosok satu ini menjadi siswa yang mencolok.
Maulana Fatahillah Adzima mendapatkan 27 LoA (Letter of Acceptence) dari 21 kampus yang tersebar di delapan negara. Di antaranya, beberapa universitas bergengsi di Amerika Serikat, Kanada, Australia, Inggris, Bulgaria, Belanda, Spanyol, dan Singapura. Hingga akhirnya pilihannya berlabuh ke teknik sipil University of California, Berkeley.
"Saya memilih teknik sipil di UC Berkeley karena jurusan yang sesuai dengan keinginan saya dan terbaik ketiga di dunia. Selain itu juga salah satu alumnus di sana ialah Gubernur Jawa Barat Kang Emil (Ridwan Kamil, red)," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang Rabu (28/6).
Awalnya, saat SMA, cowok yang akrab disapa Maul ini hanya ingin kuliah di salah satu PTN dalam negeri. Namun, pilihannya berubah dan kepincut saat melihat peluang belajar ke luar negeri terbuka lebar.
Sejak 2022, ia memutuskan berpetualang dan berburu beasiswa luar negeri dalam menempuh pendidikan sarjananya. "Sebenarnya di 2021 akhir sudah ada bayangan untuk kuliah ke luar negeri melalui program Beasiswa Indonesia Maju," akunya.
Alumnus SMP Negeri 2 Semarang itu memang tak pernah absen mengikuti Olimpiade Sains Nasional sejak di bangku SMP. Kebiasaan itu pula dibawanya saat menimba ilmu di SMA Negeri 3 Semarang.
Saat SMP dirinya belum fokus ke satu bidang dan mengikuti olimpiade di bidang fisika, biologi, geografi, hingga ekonomi pun dilakoni. "Saat SMA saya fokuskan ke geografi dan kebumian. Itu pula yang saya angkat saat membuat beberapa essay untuk mendaftar ke berbagai universitas luar negeri ," terangnya.
Perjuangannya pun tak mudah dan instan. Sejak awal memang sudah mempersiapkan diri dengan menggadaikan masa mudanya untuk fokus belajar. Terutama berusaha tampil dalam kompetisi Olimpiade Sains Nasional dan mengikuti program Beasiswa Indonesia Maju.
"Apalagi saat pandemi kemarin benar-benar waktu saya manfaatkan untuk mempersiapkan itu. Belasan jam saya gunakan untuk belajar setiap harinya," ungkapnya.
Komitmennya membidik beasiswa luar negeri membuat dirinya melepaskan kuota eligible SNBP. Agar memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk masuk ke PTN.
Sebelum menentukan pilihan, Maul sudah melakukan riset kampus. Meliputi ranking universitas, kesesuaian topik penelitian, silabus atau modul kuliah. Ia sempat merasa pesimistis dan ragu untuk bisa meraih gelar sarjana ke luar negeri.
Oleh karena itu ia banyak mendaftar ke beberapa universitas luar negeri untuk mem-back up ketika tidak diterima di universitas pilihannya. Namun tak disangka 21 universitas justru menerimanya.
"Saya merupakan angkatan kedua program Beasiswa Indonesia Maju. Jadi pemerintah memberikan delapan kuota pendaftaran gratis untuk sisanya saya bayar sendiri namun mayoritas biaya pendaftarannya gratis," jelas Maul.
Bahkan keluarganya pun juga tak menyangka. Sebelumnya orang tua hanya menginginkan putra keempatnya itu cukup kuliah di universitas ternama di Indonesia. Di sisi lain, juga bangga putra kesayangannya mampu melebarkan sayapnya kuliah ke luar negeri.
"Mungkin cukup berat karena harus berjauhan tapi doa dan dukungan dari orang tua selalu mengalir. Lagipula kesempatan juga tak datang dua kali," tandasnya.
Rencananya, Maul akan berangkat ke Amerika awal Agustus mendatang. Ia juga mempunyai rekan dari Indonesia namun berbeda jurusan.
Selain itu ia juga sudah mengenal beberapa rekan yang kuliah di sana dari berbagai negara. Ia bertekad akan mencapai IPK yang memuaskan. Selain itu juga mengembangkan diri melalui organisasi dan berjejaring. (mia/ton)
Editor : Baskoro Septiadi