Uang itu hasil kerja menjadi loper koran. Bertahun-tahun berlalu, uang itu mengantarkannya menuju ke Tanah Suci. Pada 29 Januari mendatang, ia akan berangkat umrah bersama sang istri.
IDA FADILAH, Radar Semarang
WAJAH Sukamto berseri-seri. Ia terus tersenyum sembari menunjukkan uang koin pecahan Rp 500 dan Rp 1.000 di rumahnya Jalan Dewi Sartika Raya No 46, Kelurahan Sukorejo, Gunungpati. Uang itu disebar di atas karpet merah.
Tampak ribuan koin terkumpul. Pria berpeci hitam dan mengenakan baju koko warna krem ini berbangga hati.
Jerih payahnya selama ini menjadi loper koran berhasil mewujudkan cita-citanya menjalankan ibadah umrah. Ia kumpulkan uang receh hingga dipakai mendaftar umrah bersama istrinya
“Alhamdulillah dari receh ini bisa mewujudkan cita-cita saya pergi umrah,” ucapnya penuh syukur.
Saat didatangi Jawa Pos Radar Semarang, Sukamto sedang mengecek perlengkapan untuk umrah. Tas dan koper warna hitam itu tertempel foto Sukamto Djali. Ia memandangi koper penuh haru. Dari mulutnya tak berhenti mengucap syukur.
Bapak dua anak ini mengaku, awalnya mengumpulkan uang receh karena iseng. Ia senang melihat pelanggan korannya membayar dengan uang koin. Sukamto pun berniat mengumpulkan uang itu dalam toples.
Semakin lama bertambah, ia ganti toples lebih besar. Terus meningkat, akhirnya uang itu ia tuang dalam ember bekas cat. Tak main-main, uang itu terkumpul Rp 16 juta.
Agar lebih mudah dalam menghitung, kata dia, uang koin itu dipindahkan di botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter.
Satu botol berisi Rp 1 juta. Sisanya ia simpan di toples bekas biskuit. Merasa memiliki rezeki lebih, ia lantas memantapkan hati menggunakan uang itu untuk ibadah.
“Sebenarnya ingin ibadah haji, tapi belum dipanggil Allah. Akhirnya memutuskan untuk mendaftar umrah bersama istri,” katanya.
Sukamto bukan seorang pengusaha. Bahkan SD saja tak lulus. Ia hanyalah seorang loper koran, tapi rasa optimistisnya sangat tinggi dalam menggapai asa.
Diceritakannya, pekerjaannya ini dimulai sejak 1989. Kala itu, ia memilih menjadi tukang koran ketimbang bekerja di RSUP dr Kariadi di bagian umum.
Ia menilai, waktu bekerja loper koran lebih efektif.
“Mengantar koran pagi dari selepas subuh, paling sampai jam 07.15 sudah pulang,” tutur pria 63 tahun ini.
Setelahnya, ia berkebun, seperti menanam pisang. Tak terasa, sudah 33 tahun ia mengantarkan koran dan majalah beragam media, termasuk Jawa Pos Radar Semarang.
Ia memiliki 38 pelanggan setiap harinya. Diakuinya, pekerjaan ini sangat menyenangkan. Selain waktu yang efektif, ia juga bisa memperluas wawasan dengan membaca informasi.
Hasil dari keringatnya selama ini, bangun pagi mengantar koran dari satu pelanggan satu ke pelanggan lain, juga berhasil mengentaskan pendidikan kedua anaknya. Mereka sudah menyandang gelar sarjana.
Anak sulungnya menjadi perawat di RSUP dr Kariadi dan membuka usaha studio foto. Sedangkan putrinya menjadi seorang desainer. Tak hanya itu, istrinya, Rusmi, juga berhasil menjadi bidan.
“Lika-likunya berat, kalau diceritakan kadang sedih mengingat perjuangan dulu. Tapi Alhamdulillah sekarang memetik hasil,” katanya.
Kendati sekarang anak-anaknya sudah sukses, ia masih melanjutkan pekerjaan sebagai loper koran.
“Sebenarnya anak-anak sudah melarang, tapi saya masih suka kerja. Saya juga gak mau kalau minta uang ke anak saya,” tuturnya.
Salah satu pelanggannya, Nur Salim, menjadi saksi perjuangan Sukamto. Ia berlangganan koran sejak anak-anaknya masih kecil, hingga kini sudah memasuki perguruan tinggi. Pengusaha bahan bangunan di Sampangan ini turut membantu Sukamto dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
“Saya langganan koran dengan loper Pak Sukamto, kalau membayar pakai uang receh karena dia senang mengumpulkan uang koin,” ujarnya. (*/aro) Editor : Agus AP