Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Dana Desa Belum Cair, Kades Gadaikan Mobil Pribadi

Agus AP • Jumat, 10 April 2020 | 17:12 WIB
KEMBALI KE KAMPUS : Capt Fakhrurrozi kini mengabdikan hidupnya di kampus almamaternya sebagai Wakil Direktur III Bumi Akpelni Semarang. (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEMBALI KE KAMPUS : Capt Fakhrurrozi kini mengabdikan hidupnya di kampus almamaternya sebagai Wakil Direktur III Bumi Akpelni Semarang. (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Mengantisipasi penyebaran Covid-19, Kades Krincing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Heri Purwanto, membuat bilik isolasi khusus untuk warganya yang datang dari perantauan. Bahkan, karena dana desa belum cair, anggaran pembuatan bilik itu didapat dari hasil menggadaikan mobil pribadinya.

AGUS HADIANTO, Magelang, Radar Semarang

Berawal dari keprihatinan dan rasa khawatir terhadap warganya yang masih nekat mudik, Kades Krincing Heri Purwanto akhirnya mengambil langkah. Ya, dirinya pun memutuskan membuat bilik isolasi bagi warganya yang akan pulang dari perantauan.
Sebanyak 20 bilik disiapkannya lengkap dengan kasur dan wifi. Bilik ini akan digunakan sebagai tempat isolasi selama 14 hari. Untuk sementara ini, ada 20 bilik karantina yang akan dibuatnya. Masing-masing bilik berukuran 2,5 meter kali 2,5 meter. Bilik ini dibuat dengan papan triplek. Pembuatan bilik karantina ini berada di gedung serbaguna dan ruang lobi yang bersebelahan dengan Kantor Kepala Desa Krincing.

"Jadi untuk pria-wanita biliknya kita pisahkan. Kita juga akan melengkapi dengan hand sanitizer, masker, tempat cuci bahkan ada Wifi. Ya, kita lengkapi dengan Wifi supaya mereka yang dikarantina juga betah tidak merasa bosan," kata Heri Purwanto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (9/4).
Heri menceritakan, dana yang digunakan dalam membuat bilik beserta peralatannya berasal dari dana desa sebesar Rp 105 juta. Namun karena dana desa belum turun, pihaknya terpaksa berhutang lebih dahulu ke toko bangunan dan toko lainnya.
“Saya saja menggadaikan mobil untuk membeli kebutuhan pembuatan bilik karantina. Mobil Daihatsu Feroza saya. Bayarnya nanti kalau dana desa sudah turun sekitar bulan Mei," ujarnya enggan menyebutkan uang hasil gadainya.

Ia menyebutkan, dana sebanyak itu, selain untuk membuat bilik karantina, juga membeli kebutuhan penunjang lainnya. Antara lain membeli obat-obatan dan juga disinfektan. Selama masa karantina selama 14 hari, Heri menyebut bahwa untuk biaya hidup juga ditanggung secara swadaya.

“Pihak keluarga masing-masing yang menanggung biaya logistiknya, karena desa tidak mampu untuk membiayai mereka nantinya,” bebernya.

Heri memastikan, untuk warga yang akan dikarantina juga dilakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pihaknya juga bekerja sama dengan faskes setempat, seperti puskesmas. “Untuk keamanan menggandeng polsek dan koramil serta relawan setempat,” paparnya.

Dikatakan, persiapan bilik karantina ini dilakukan agar desa Krincing zero Covid-19. Bilik karantina ini, kata Heri, bertujuan memberikan shock teraphy bagi pemudik yang akan pulang, sehingga mereka akan berpikir ulang untuk kembali ke desanya selama pandemi Covid-19 ini. Namun demikian, lanjut Heri, bukan berarti pihak pemerintah desa melarang pemudik untuk pulang.

"Hanya saja ada konsekuensi yang harus diterima yakni harus karantina selama 14 hari. Kalau tidak mau dikarantina, sebaiknya tidak usah pulang ke Krincing,” tandasnya.

Ia menyebutkan, sampai saat ini ada beberapa warga Desa Krincing yang sudah menghubungi mau mudik, terutama dari Jabodetabek. Bahkan, kata Heri, beberapa warga yang dari Kalimantan juga mau pulang. Untuk warga yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya, menurutnya, rata-rata berprofesi sebagai sales perusahaan atau pekerja pabrik. Sedangkan di Kalimantan bekerja di pertambangan atau di kebun kelapa sawit.

"Kalau dari Jakarta dan sekitarnya harus karantina 14 hari karena zona merah, sedangkan dari Kalimantan nanti bisa menyesuaikan asal mereka membawa surat keterangan sehat dari pihak yang berwenang," urainya.

Heri menerangkan, untuk persiapan lain yang dilakukan desa adalah membuat masker secara mandiri dengan memberdayakan penduduk setempat. Saat ini, kata Heri, sudah ada 400 masker yang telah dibuat dan akan dibagikan untuk pemudik ataupun relawan yang berjaga di posko-posko.

Untuk Desa Krincing sendiri, kata Heri, memiliki delapan dusun. Sedang untuk posko pengamanan, terdapat 20 posko. Diakuinya, pihaknya sangat ketat dalam menerima tamu dari luar. Bahkan beberapa waktu lalu ada warga yang kedapatan membawa tamu dari Jakarta.

"Tamu itu terpaksa kami minta untuk segera meninggalkan desa, demi kenyamanan masyarakat lainnya. Karena desa ini merupakan desa strategis dengan banyak lintasan jalan. Sehingga warga luar yang hendak datang ke desa ini harus melalui posko untuk di data dan di steril, seperti cuci tangan dan menggunakan hand sanitizer,” katanya. (*/aro) Editor : Agus AP
#DANA DESA