Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Bangunan Atas Mirip Batu Nisan agar selalu Ingat Akhirat

Agus AP • Selasa, 15 Oktober 2019 | 13:10 WIB
Photo
Photo
Di zaman penjajahan Belanda, ada lima pengusaha kaya di Indonesia, dua di antaranya berasal dari Kota Semarang. Salah satunya pengusaha kulit dan tuan tanah di Jalan MT Haryono Semarang, H Tasripin. Seperti apa jejak kejayaannya?

JOKO SUSANTORADARSEMARANG.ID

JUMAT awal November 2019, Tim Jawa Pos Radar Semarang mengunjungi jejak peninggalan Tasripin di Kampung Kulitan, Kelurahan Jagalan, Semarang Tengah. Koran ini ditemani M. Fachri, generasi keenam keluarga Tasripin dari keturunan H Moenawar Cholil. Sebelum memulai kunjungan di sejumlah bangunan yang pernah dimiliki Tasripin, Fachri, yang juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK)0 Jagalan mengajak koran ini untuk bercengkrama lebih dahulu di kediamannya sambil menceritakan masa kejayaan Tasripin yang diketahui dari cerita ayahnya.

Fachri bercerita didampingi salah satu kerabatnya, Sugi Budi Santoso, yang juga keturunan keenam Tasripin dari trah Abdul Aziz. Saat ini, Sugi tercatat sebagai Ketua RW 02 Kelurahan Jagalan.

Ia bercerita kalau kampung tersebut semuanya sudah dikelola ahli waris. Fachri tidak pernah bertemu langsung dengan Tasripin. Namun ayahnya, Moenawar Cholil, masih sempat melihat hidupnya Tasripin. Diakuinya, hampir semua perguruan tinggi di Semarang dan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) serta perguruan tinggi dari Jerman, Belanda, dan Universitas Kebangsaan Malaysia, pernah berkunjung ke kampung tersebut.

“Saya itu mirisnya bangunan peninggalan Tasripin ini sudah dijadikan bangunan cagar budaya, dan ahli waris sudah diminta untuk melestarikan, tapi kok anggarannya ndak ada. Padahal Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) naik terus, jadi seharusnya PPB bisa lebih rendah,”keluhnya.

Dikatakan, setiap setahun sekali ada pertemuan tahunan Paguyuban Keluarga Besar Tasripin. Namun sifatnya hanya halalbihalal dan silaturahmi. Ia merasa miris karena masyarakat sekarang sudah banyak yang tidak begitu mengenal jejak Tasripin. Padahal di zaman dulu, wilayah ini terkenal dengan kampung elit dan dihuni orang kaya, yang ketika itu disebut kampung tuan tanah.

“Kalau sekarang Kampung Kulitan nggak banyak yang paham. Paling yang paham cuma warga Semarang asli dan sudah tua-tua. Kalau seingat saya ikon Tasripin itu kumisnya tebal, tapi dulu nama panggilanya Tas Kucir,”ujarnya.

Menurut Fachri, di masa kejayaan, Tasripin merupakan seorang pengusaha kulit, pejuang kemerdekaan, memiliki banyak tanah sawah dan diberdayakan. Setiap rumah juga memiliki lumbung penyimpanan padi, wayang, dan gamelan. Semasa hidupnya, Tasripin selalu menekankan agama pada keturunanya. Adapun yang memiliki bakat pedagang, dari cerita ayahnya, salah satunya adalah pamannya, kakak dari Abdul Aziz.

“Dulu setiap rumah ada wayang dan gamelan, tapi generis penerus ndak banyak yang hobi. Kalau dari cerita orangtua, Tasripin dulu punya dua istri. Kemudian Ahmad Tas'an anak dari Tasripin punya istri tiga. Dari istri pertama, dikarunia 11 anak laki-laki. Istri kedua dikarunia 8 anak perempuan, dan dari rahim istri ketiga belum punya keturunan,”ceritanya.

 

Fachri lalu mengajak keliling ke bangunan rumah peninggalan Tasripin. Pertama kali diajak ke bangunan Masjid At Taqwa, yang sebelumnya adalah bangunan Musala Al Jihad. Masjid ini dibangun tiga lantai, letaknya di nomor 195A, Kampung Kulitan. Kemudian sejumlah bangunan rumah, mulai yang dihuni keturunan maupun langsung dari H Nornawar Cholil, Abdoel Aziz alias Abdoel Jalal, M Fauzan, Iwan Hermawan, At Ng Moeljo, dan Tas Amadin, sudah dilakukan perubahan namun konsep tetap model kuno.

Hj Khamidin, Tas Nong Cik, Tas Hudin, Tas An, Tas Slamet dan Ir H Nanang Tas Sunar. Adapun kebanyakan sejumlah bangunan gudang dimiliki Tas Hudin. Selain itu, juga ada peninggalan batik corak Semarangan asli, wayang, kubah masjid dan kentongan masjid. Menariknya sejumlah bangunan corak atasnya ada yang seperti batu nisan. Dari keterangan Fachri sengaja dibuat mirip batu nisan, dengan harapan selalu ingat akhirat.

“Seluruh keluarga besar kalau dikumpulkan ada 1 RW, bisa sampai 300-an orang. Ada yang di Jakarta, Luar Jawa dan Luar Negeri, mulai trah lima ke atas banyak yang melalang buana. Keluarga sekarang juga beragam ada yang birokrat pemerintahan, dokter, pengusaha walet, karyawan perusahaan, dan banyak lagi,”sebutnya.

Sepemahamannya, keturunan yang menonjol dari trah keluarga Taslayung, Tas Hudin, dan Khamidin. Untuk saat ini, Ketua Paguyuban Keluarga Besar Tasripin dijabat Dr Sugiono, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip (anak dari Abdul Aziz).

Saking banyaknya tanah, dikatakanya, di masanya sampai memiliki tanah tersebar di sejumlah wilayah Semarang. Mulai Semarang Tengah, Timur, Utara, dan Jalan Raden Patah, yang kebanyakan saat ini letaknya di dalam kampung. Di luar Kampung Kulitan, ada di Wot Prahu, Pandean, Utri, Pederesan, Brondongan, Gebang Anom, Kampung Baris, Kampung Gandekan, Pusporagan, Kampung Baris, Kentangan, dan banyak lagi.

“Cerita sejarah tradisi keluarga banyak lupa, soalnya sudah lama banget, bagi saya pribadi jadi keturunan Tasripin biasa saja, bangga sih ndak. Tapi cukup kagum dari keturunan tokoh berhasilnya Kota Semarang yang murni darah pribumi saat itu,”jelas Fachri.

Fachri juga menyebutkan Tasripin merupakan salah satu pengusaha sukses di masanya yang asli darah pribumi. Selain itu, juga ada Nitisemito, salah satu pengusaha sukses Indonesia yang jadi pelopor industri kretek di masa itu, yang dipasarkan di wilayah Jawa sampai dengan Sumatera, hingga timur Indonesia. Dengan produk rokok kretek itu diberi nama Tjap Bulatan Tiga.

Selanjutnya KH Samanhudi, pria kelahiran Solo pada 1868 itu merupakan saudagar batik asal Solo dan berhasil mendirikan SDI (Sarekat Dagang Islam). Ketiga HM Sulchan. Pria asal Demak kelahiran 1910 itu di masanya berhasil memiliki perusahaan bernama PT Cejamp, NV HMS & Co, CV Kapok serta Hotel Sky Garden Gombel, Semarang.

Pengusaha ekspor hasil bumi dan opium, Oei Tiong Ham atau dikenal Raja Gula. Pria keturunan Tionghoa tersebut lahir di Semarang. Ibunya merupakan peranakan Jawa. Ia sendiri sangat fasih berbahasa Melayu. Bahkan di zamannya ia berhasil menjadi orang terkaya se-Asia Tenggara.

“Mereka mampu membuktikan sekalipun hidup di zaman penjajahan tapi tidak menjadi penghalang untuk sukses di tanah kelahiran sendiri, bahkan sekalipun keadaan cukup sulit di masa itu. Untuk itu seharusnya sebagai generasi baru tak boleh mengeluh melainkan terus semangat untuk meraih kesuksesan,”pesannya.

Liem Thian Joe dalam buku Riwajat Semarang (1933) menuliskan, keberadaan Kampung Kulitan tak bisa dilepaskan dari rumah potong hewan yang saat ini dikenal sebagai Kampung Jagalan. Sapi dan kerbau yang telah dijagal, selanjutnya dikuliti. Kulit-kulit ini lantas dibawa pulang tukang jagal dan dijemur di pinggir jalan. Wilayah tempat penjemuran kulit sapi dan kerbau ini selanjutnya dikenal sebagai Kampung Kulitan.

Tasripin merupakan juragan di usaha pemotongan hewan dan kulit hewan. Harian De Locomotief edisi 10 Mei 1902 memberitakan bahwa Tasripin mendapatkan izin untuk membuka abattoir atau rumah pemotongan hewan. Usaha Tasripin memang beragam. Surat kabar yang sama edisi 15 Juli 1902 juga memberitakan Tasripin mendirikan pabrik es yang menggunakan bahan baku dari sumur artesis. Berbagai usaha membuat pundi-pundi kekayaan Tasripin menebal hingga di akhir hayatnya.

Harian Bataviaasch Nieuwsblad edisi 11 Agustus 1919 memberitakan kematian Tasripin di usia 85 tahun pada 9 Agustus 1919 jam 10.00. Berita serupa juga dimuat pada surat kabar mingguan De Java Post edisi 15 Agustus 1919,

Surat kabar Het Nieuws van Den Dag voor Nederlandsch-Indie edisi 6 September 1919 menulis, mendiang Tasripin saat meninggal dunia meninggalkan warisan yang diperkirakan senilai 45 juta Gulden Hindia Belanda.

Sebagai perbandingan, pada 1900 pengusaha Oei Tjie Sien yang merupakan ayah raja gula Oei Tiong Ham meninggal dunia dan memiliki harta peninggalan sebesar 17,5 juta Gulden Hindia Belanda, setara 7 juta Dolar Amerika Serikat. Sementara harta Oei Tiong Ham saat meninggal dunia di tahun 1924 ditaksir senilai 200 juta Gulden Hindia Belanda. Jadi harta warisan Tasripin sekitar 18 juta Dolar Amerika Serikat atau hampir seperempat kekayaan orang paling tajir se-Asia Tenggara pada masa itu.

Semasa hidupnya, Tasripin juga peduli dengan kebudayaan Jawa. Nederlandsche Staatscourant edisi 11 Maret 1910 mencatat Tasripin melalui Controleur Demak E L K Schulling menyumbangkan 12 wayang kulit untuk Museum Etnografi Rijks di Leiden Belanda. Wayang sumbangan dari Semarang ini tercatat sebagai koleksi museum dengan nomor seri 1695. (*/pratono/aro) Editor : Agus AP
#TASRIPIN