RADARSEMARANG.ID- Rowlan Asfales sang pencipta sepatu ramah lingkungan menciptakan sepatu yang diberi nama Pijakbumi.
Sepatu tersebut merupakan sepatu yang terbuat dari bahan-bahan yang lebih green atau berasal dari alam dan sedikit dalam proses kimiawi.
Dari hal itulah sehingga sepatu Pijakbumi bisa dikatakan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan sepatu-sepatu lainnya.
Pijak bumi sendiri menggunakan 2 bahan untuk upper sepatu yaitu rami dan dan kenaf alias yute jawa.
Dua bahan tersebut dipasok dari Semarang dan ditenun manual dengan menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin).
Untuk bagian outsole memakai bahan dari getah karet sehingga memang memakai bahan alami yang ramah lingkungan.
Berawal dari pencipta sepatu kecurian sneakers miliknya ditahun 2016, ia akhirnya berkeliling untuk mencari sepatu.
Dari factory outlet di Dago sampai dengan pengrajin sepatu di Cibaduyut. Ia awalnya memandang bahwa sepatu-sepatu yang dijual di pasaran mahal dan tidak sebanding dengan kualitas dan jahitan sepatu.
Kemudian setelah ia bertemu pengrajin sepatu di Cibaduyut yang bisa membuat sepatu secara satuan, dia menemukan ide untuk berbisnis sepatu.
Namun, Dia memandang bahwa proses pembuatan dan lingkungan kerja tidak ideal, banyak sampah hasil produksi yang membahayakan kesehatan, asap rokok, dan senyawa lain yang tidak seharusnya ada.
Sehingga ide itu muncul untuk mengembangkan sepatu yang ramah lingkungan dengan bahan alami serta sedikit proses kimiawi.
Hal itu agar para pengrajin sepatu tidak terpapar dengan residu berbahaya yang dapat menganggu kesehatan dan membuat rantai pasok yang etis serta bertanggung jawab.
Meskipun bahan yang dipakai dalam pembuatan sepatu tersebut susah didapatkan, Rowlan Asfales ingin menjual dengan target market menengah keatas.
Dia tidak ingin sepatu Pijakbumi menjadi produk yang ekslusif, Fales pun menjual sepatu dengan dua pendekatan.
Pendekatan pertama sepatu diproduksi dengan ketrampilan tingkat tinggi, dengan target market menengah keatas, kisaran harganya menembus jutaan.
Pendekatan penjualan kedua adalah sepatu diproduksi semi-massal dan dijual dengan kisaran harga Rp 400an ribu.
Sepatu Pijakbumi juga sudah bersaing di kancah internasional, sepatu tersebut hadir di pameran sepatu di Project Tokyo 2019.
Keunikan dari sepatu Pijakbumi juga diakui oleh kalangan orang Eropa, sewaktu pameran Pijakbumi mendapatkan banyak pujian.
Bahkan pengrajin Cibaduyut pun sudah diakui oleh seseorang pengunjung pameran, pengunjung mengatakan bahwa pengrajin Cibaduyut memang sudah dikenal sebagai produsen top sejak 30-40 tahun silam.
Setelah berpartisipasi dalam pameran di Jepang, gayung bersambut dan Pijakbumi mendapatkan undangan dalam kompetisi di pameran MICAM Miano, di Italia.
Ternyata, sepatu ramah lingkungan tersebut menjadi salah satu pemenang dan berkesempatan untuk melakukan fashion show serta pameran sepatu selama empat hari.
Selain itu Pijakbumi diberikan kesempatan untuk menjadi salah satu peserta di ajang Accelerate2023, Jenewa, Swiss
Editor : Baskoro Septiadi