RADARSEMARANG.ID - Pastinya anda setidaknya pernah melihat trend 'kesenjangan sosial' yang akhir-akhir ini berseliweran di sosial media, khususnya TikTok.
Berbagai pengguna di TikTok membagikan pengalamannya, khususnya dalam asmara bagi pasangan yang memiliki perbedaan latar belakang ekonomi.
Namun, trend ini lebih mengedepankan humor dan candaan yang bersifat menertawakan perbedaan nasib dengan cara yang lebih kasual.
Trend Kesenjangan Sosial biasanya berisi sifat naif ataupun ketidaktahuan seseorang yang memiliki taraf kehidupan lebih baik atas perilaku atau kebiasaan pasangannya yang notabene berada di bawah ekonominya.
Hal-hal remeh seperti bunyi tokek, motor yang dimasukkan ke ruang tamu,rumah di dalam gang dan kamar tidur tanpa plafon menjadi hal biasa yang sudah umum dikalangan orang-orang dengan taraf ekonomi menengah-kebawah.
Namun, hal-hal tersebut menjadi sebuah hal yang tidak biasa bagi orang-orang dengan taraf ekonomi atas yang lebih memiliki privileged untuk hidup lebih nyaman.
Saat kedua orang dari latar belakang berbeda ini menjadi pasangan, obrolan-obrolan ringan atau komunikasi sehari-hari.
Obrolan mereka bisa saja masuk ke perbincangan tentang perbedaan kegiatan antara "si miskin" dengan "si kaya" yang berakhir dengan getir.
Nah, komunikasi antar pasangan itulah yang menjadi ide awal bagaimana Trend Kesenjangan Sosial di TikTok ini bermula.
Trend ini bukan tanpa sebab menjadi pengingat tentang masih tingginya angka kesenjangan sosial yang ada di negara Indonesia.
Lewat humor tragis/ tragikomedi yang ditampilkan, trend ini mampu menggambarkan perasaan generasi muda khususnya tentang topik kesenjangan sosial yang dirasakan masyarakat Indonesia.
Persentase penduduk miskin di indonesia menurut data dari BPS pada September 2021 memiliki angka 9,71% lalu menurun 0,43% poin pada Maret 2021 dan berhasil menurun 0,48% poin sejak September 2020.
Ketimpangan sosial lahir karna ketidakseimbangan pada masyarakat sehingga terlihat perbedaan yang mencolok dari berbagai sisi. Bisa juga dampaknya dari ketimpangan dalam segi kekayaan, pendapatan dan juga ekonomi.
Hal ini salah satunya disebabkan karena kurangnya lapangan pekerjaan di Indonesia sehingga pada akhirnya banyak sekali tenaga kerja yang tidak terpakai “pengangguran” sehingga kemiskinan menjadi semakin meningkat.
Source: TikTok, Student Activity Binus, BPS RI
Editor : Baskoro Septiadi