RADARSEMARANG.ID - Isu pemanasan bumi atau biasa disebut juga global warming memanglah isu yang hangat diperbincangkan ilmuwan dan khalayak ramai akhir ini.
Bukan tanpa sebab, isu ini sudah beredar sejak lama namun baru-baru ini mencuat akibat masyarakat yang makin aware dengan keberlangsungan bumi.
Berbagai kebijakan dilakukan untuk meminimalisir kecepatan rusaknya alam akibat pemanasan global.
Seperti mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, pembatasan pemakaian listrik dan peralihan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Namun tak disangka, salah satu penyebab terbesar pemanasan global justru berasal dari industri peternakan, khususnya sapi.
Kok bisa? hal tersebut justru berasal dari sistem mekanisme pencernaan hewan ternak satu ini.
Dilansir @aksikitaindonesia, gas metana yang dikeluarkan sapi lewat sendawa dan kentut menyumbang sekitar 15% dari presentase penyebab pemanasan global.
Hampir setara dengan pemakaian kendaraan bermotor dan sektor transportasi lainnya.
Bahkan peternakan sapi disebut menjadi sektor peternakan yang paling merugikan lingkungan dibanding peternakan hewan lain.
Gas metana merupakan senyawa yang menjadi ancaman kedua terbesar untuk keberlangsungan hidup lingkungan setelah karbon dioksida.
Selain karena kentut dan sendawa yang dihasilkan, nyatanya sektor industri ternak sapi masih cukup belum ramah lingkungan sepenuhnya.
Seperti deforestasi lahan untuk digunakan sebagai peternakan, pengolahan pakan ternak, distribusi daging yang tentunya menggunakan moda transportasi berbahan bakar minyak.
Serta penggunaan air bersih yang cukup besar dalam perawatan dari sapi-sapi ternak ini.
Karena merupakan ancaman yang cukup memusingkan, akhirnya ilmuwan berhasil mencari jalan keluar dari permasalahan ini.
Para ilmuwan menganjurkan para peternak sapi untuk menambahkan rumput laut pada campuran pakan sapi yang dinilai bisa mengurangi kembung pada sapi.
Sehingga dapat mengurangi kentut dan sendawa oleh hewan bertanduk yang ternyata mampu mengguncang iklim dunia lewat gas yang dihasilkannya tersebut.
Editor : Baskoro Septiadi