RADARSEMARANG,ID- Pengamanan negara merupakan isu penting yang harus dijalankan sebuah negara yang berdaulat.
Berbagai cara dilakukan untuk membentuk program keamanan dalam menjaga keutuhan suatu negara dan masyarakat di dalamnya.
Salah satunya dengan sebuah program wajib militer. biasanya negara yang mewajibkan program ini adalah negara dengan ancaman keamanan tinggi.
Seperti Korea Selatan, negeri ginseng ini masih terancam dengan ancaman perang yang menghantuinya dari negara tetangga sekaligus musuh bebuyutannya, Korea Utara.
Upaya reunifikasi keduanya sudah seringkali direncanakan, namun hingga detik ini perbedaan ideologi dan politis masih menjadi halangan keduanya untuk bersatu.
Kini, mendekati pemilu yang akan diselenggarakan Korea Selatan, sebuah partai bernama 'New Choice' membuat gebrakan baru yang dinilai akan membantu pergerakan progresif.
Yang akan membantu rakyat Korea Selatan menyelesaikan permasalahan konflik gender dan militer yang terjadi di negara tersebut.
Baca Juga: Idol Girlgroup K-Pop Baru Baby Monster Debut, Rilis Single 'Batter Up'
Menurut @cettakorean, negara yang memiliki angka kelahiran rendah tersebut menjadi alasan untuk mengikutsertakan perempuan dalam barisan wajib militer yang sebelumnya hanya diisi oleh lelaki.
Angka kelahiran Korea Selatan semakin menurun setiap tahunnya, diperkirakan pasukan militer akan menyusut menjadi 290.000 personel dalam satu dekade.
Dan akan terus menurun hingga hanya 190.000 personel dalam kurun waktu 20 tahun kedepan.
Para anggota partai konservatif mengungkapkan bahwa adanya ketidakpuasan terhadap program wajib militer sebelumnya, karena generasi muda Korea Selatan memiliki pemikiran yang berbeda.
Mereka tidak lagi merasa bahwa sistem patriarki masih relevan untuk hidup di masyarakat, mereka juga memiliki kehidupan sendiri dan memiliki tanggung jawab atas hidupnya masing-masing.
Jadi mereka sudah tidak menganggap adanya segregasi antara lelaki dan perempuan dalam kewajiban militer.
Baca Juga: RM, V, Jimin, dan Jungkook BTS Jalani Wajib Militer, RM Tulis Pesan Perpisahan Haru untuk Penggemar
Kim Seong Kyung, seorang profesor Universitas Studi Korea Utara Seoul mengatakan " Gender adalah topik perbincangan hangat di Korea Selatan saat ini, terutama saat kita (masyarakat) semakin dekat dengan Pemilu" dilansir Cetta Korean.
Gagasan tentang kewajiban perempuan yang cukup umur untuk mengikuti program wajib militer ini cukup menggebrak tradisi dan budaya Korea yang sangat patriarki.
Selain gagasan kewajiban wajib militer bagi perempuan, beberapa analis juga mengajukan solusi alternatif untuk mengatasi masalah penurunan populasi di Korea Selatan.
Solusi tersebut adalah melakukan perpanjangan durasi wajib militer atau peningkatan integrasi teknologi ke dalam bidang militer, yang juga keduanya memiliki kelemahan masing-masing.
Editor : Tasropi