RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Penyair Martin Suryajaya mencoba memadukan teknologi dengan dunia sastra. Ia Martin menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai penulis buku.
Lahirlah Penyair Sebagai Mesin. Sebuah eksperimen dalam penulisan jauh dan sejarah lain puisi Indonesia".
Martin bereksperimen dengan berbagai model AI diluar Chat GPT, melatih mereka dengan teks-teks puisi sehingga mesin-mesin itu akhirnya bisa menulis puisi sendiri. Dari situ menemukan problematika baru mengenai kerja artistik.
“AI memaksa kita berhadapan dengan pengalaman penciptaan dalam keadaan kapiran: tidak mengandalkan daya kreatif, kerajinan maupun kepribadian sendiri,” kata Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) saat bedah buku Penyair Sebagai Mesin di TBRS Kota Semarang.
Ia mengakui dunia sastra memiliki banyak aliran. Sebagian kelompok membuat ekosistem sastra menjadi kurang baik. Mereka semua merasa paling benar dan menyalahkan yang lain jika berbeda pilihan.
Sastra saat ini didominasi paham fasisme. Fasisme diartikan dimana semua orang merasa puisi merekalah paling benar. Puisi lain yang berbeda dianggap salah.
"Jika ada yang menyalahkan orang lain dalam membuat puisi berarti dia hanya berada di dalam ruang gema (echo chamber) mereka sendiri," tambahnya.
Penari Mentari Isnaini sempat membacakan salah satu puisi karangan AI dalam buku Martin Suryajaya.
“Gaya bahasa yang digunakan embuh (diksi gak ada puitis-puitisnya). Tapi aku kudu membacakan puisi seperti layaknya penyair handal,” akunya. (mg7/mg6/fth)
Editor : Agus AP