RADARSEMARANG.ID, Banyumas - Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) menjadi momentum untuk menguatkan peran keluarga dalam membangun generasi sehat. Semangat itu terlihat dalam pelaksanaan Kelas Bapake Mamake di Balai Desa Pasinggangan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Senin (15/6) lalu.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 30 ibu hamil. Mereka tidak datang sendiri, tetapi didampingi suami maupun keluarga terdekat. Sejumlah kader posyandu juga turut hadir agar ilmu yang diperoleh dapat diteruskan di lingkungan masing-masing.
Sejak pagi, para peserta duduk rapi membentuk setengah lingkaran. Mereka menyimak materi dari petugas kesehatan Puskesmas Banyumas. Suasana kelas berlangsung hangat dan interaktif. Tak sekadar mendengarkan paparan, peserta juga diajak berdiskusi, mengikuti simulasi, hingga praktik langsung.
Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah praktik pijat oksitosin. Melalui kegiatan tersebut, para suami diminta mempraktikkan langsung teknik pijat kepada istri. Praktik ini bertujuan membantu merangsang hormon oksitosin yang berperan dalam memperlancar produksi ASI setelah persalinan.
Kelas Bapake Mamake merupakan inovasi Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk memperkuat pendampingan ibu hamil dengan melibatkan suami dan keluarga sejak masa kehamilan.
Melalui program tersebut, suami tidak hanya diberi pemahaman mengenai kondisi kehamilan, tetapi juga didorong menjadi pendamping utama bagi istri sejak masa kehamilan, persalinan, hingga pengasuhan anak. Harapannya, tanggung jawab merawat dan membesarkan anak tidak hanya dibebankan kepada ibu, tetapi dilakukan secara setara oleh kedua orang tua.
Ketua TP PKK Desa Pasinggangan, Kartikawati, mengatakan bahwa di wilayahnya masih ada ibu hamil yang menjalani masa kehamilan tanpa pendampingan optimal dari suami. Kondisi ini disebabkan berbagai faktor, salah satunya pekerjaan di luar daerah.
“Kalau saya lihat di lingkungan, memang ada beberapa ibu hamil yang tidak bisa didampingi suaminya saat periksa kehamilan atau melahirkan, karena suaminya bekerja di luar kota,” ungkapnya.
Menurut Kartikawati, keterlibatan ayah dalam pengasuhan turut memengaruhi tumbuh kembang anak, terutama dalam aspek komunikasi dan kedekatan emosional.
Karena itu, kata dia, Kelas Bapake Mamake menjadi wadah bagi keluarga, terutama suami, agar lebih peduli dan memperhatikan kebutuhan ibu hamil. Selain membahas kesehatan ibu dan anak, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai gizi, pentingnya konsumsi tablet tambah darah, stimulasi dini, hingga pola pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Materi tersebut sejalan dengan upaya Tanoto Foundation dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui penguatan Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP), kapasitas pendampingan keluarga, dan integrasi data lintas sektor. Di Banyumas, upaya ini dijalankan bersama Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) melalui program Stunting 2.0.
Pendekatan ini menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak cukup hanya melalui intervensi gizi, tetapi juga perlu diperkuat dengan pengasuhan yang responsif dan keterlibatan keluarga sejak masa kehamilan, seperti yang dilakukan melalui Kelas Bapake Mamake.
Lebih lanjut, Pemkab Banyumas juga berkolaborasi dengan Tanoto Foundation melalui Rumah Anak SIGAP di Desa Sokawera dalam penanganan stunting dan stimulasi dini untuk anak usia 0-3 tahun.
Kepala Puskesmas Banyumas, drg. Kartikawati, mengatakan bahwa edukasi kepada suami menjadi bagian penting dalam program Kelas Bapake Mamake. Sebab, keluarga merupakan pihak pertama yang dapat mengenali tanda bahaya pada ibu hamil maupun bayi baru lahir.
“Jadi tadi ada simulasi untuk edukasi kepada suami tentang pengetahuan ibu hamil yang berisiko tinggi dan bayi baru lahir yang berisiko tinggi, supaya nanti mereka tahu tanda-tandanya,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan ayah tidak berhenti saat proses persalinan. Dukungan setelah bayi lahir juga sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI dan tumbuh kembang anak.
Menurutnya, metode pembelajaran melalui permainan dan praktik langsung dalam Kelas Bapake Mamake lebih mudah dipahami. Dengan demikian, para keluarga dapat menerapkannya di rumah.
“Materinya diisi dengan permainan dan praktik simulasi agar peserta tidak bosan, sehingga mereka juga bisa mempraktikkannya di rumah,” bebernya.
Ia menambahkan, angka stunting di Desa Pasinggangan masih fluktuatif. Pada Maret 2026, balita yang teridentifikasi stunting mencapai 130 anak. Angka itu menurun menjadi 123 anak pada April 2026, kemudian kembali naik menjadi 126 anak pada Mei 2026 dari total 698 balita di desa tersebut. Karena itulah, Kelas Bapake Mamake menjadi salah satu sarana edukasi dalam pencegahan stunting.
“Di Kelas Bapake Mamake ini, para ayah diingatkan agar terus mendukung istri, termasuk mengingatkan konsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia yang berisiko menyebabkan anak lahir stunting,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pasinggangan, Aris Sugiyono, menyebut wilayahnya merupakan desa terluas di Kecamatan Banyumas dengan jumlah penduduk yang cukup besar. Kondisi tersebut membuat tantangan penanganan masalah kesehatan anak, seperti stunting, juga lebih kompleks.
“Pasinggangan merupakan desa terluas di Kecamatan Banyumas. Dengan jumlah penduduk yang besar, tantangan penanganan stunting tentu juga lebih kompleks,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, jumlah penduduk di desanya mencapai sekitar 13 ribu jiwa dengan 4.900 kepala keluarga. Karena itu, Kelas Bapake Mamake yang sengaja melibatkan keluarga diharapkan dapat membantu mendampingi ibu hamil secara maksimal.
Menurutnya, program ini diharapkan mampu menekan angka kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Selain itu, suami juga didorong untuk terlibat aktif dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi.
“Harapannya, Kelas Bapake Mamake ini menjadi wadah bagi keluarga untuk berkonsultasi sekaligus menambah pengetahuan,” tegasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi