Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dilantik Jadi Rektor UPGRIS, Sapto Budoyo Bidik Kampus Berdampak bagi Masyarakat, Muhdi Tekankan Kebaruan Perguruan Tinggi

Khafifah Arini Putri • Minggu, 31 Mei 2026 | 20:26 WIB
Pelantikan Dr Sapto Budoyo sebagai Rektor UPGRIS 2026-2030 di Gedung Pusat UPGRIS.
Pelantikan Dr Sapto Budoyo sebagai Rektor UPGRIS 2026-2030 di Gedung Pusat UPGRIS.

 

RADARSEMARANG.ID - Tongkat estafet kepemimpinan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berganti. Dr. Sapto Budoyo resmi dilantik sebagai Rektor UPGRIS periode 2026 -2030. Ia resmi menggantikan Dr. Sri Suciati.

Pelantikan yang berlangsung di Gedung Pusat UPGRIS itu dihadiri jajaran Pengurus Besar PGRI, pimpinan Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (YPLPPT) PGRI Semarang, perwakilan LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah, mitra strategis, serta civitas akademika UPGRIS.

Rektor UPGRIS Sapto Budoyo usai di lantik pun menegaskan komitmennya untuk melanjutkan capaian yang telah dirintis para pemimpin sebelumnya. Menurutnya, jabatan rektor bukan sekadar posisi, melainkan amanah untuk menjaga dan meneruskan kejayaan kampus.

Baca Juga: Perayaan Waisak di Vihara Mahavira Graha Semarang, Umat Diajak Membersihkan Diri dan Menebar Cinta Kasih

“Menjadi rektor bukan soal jabatan tetapi komitmen saya untuk meneruskan estafet kejayaan UPGRIS ini,” ujarnya usai pelantikan di Gedung Pusat, Sabtu (30/5) kemarin.

Melalui kepemimpinannya, Sapto ingin memastikan UPGRIS tidak hanya berkembang sebagai perguruan tinggi yang besar dan berprestasi. Namun juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Saya kira itu yang menjadi visi-misi saya meneruskan UPGRIS, kejayaan UPGRIS, melanjutkan kejayaan UPGRIS dan tentu tidak besar saja, tidak jaya saja, tetapi bagaimana UPGRIS memberikan manfaat dan berdampak tetapi bermakna bagi masyarakat luas,” katanya.

Sebab itu untuk mewujudkannya, ia akan melanjutkan berbagai program yang telah berjalan, termasuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Saat ini UPGRIS tengah mengajukan tiga calon guru besar dan terus mendorong dosen melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor.

Sapto juga menilai perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, kampus tidak bisa hanya mengandalkan pola lama dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat.

“Yang dilakukan saat ini belum tentu besok menjadi kebutuhan. Maka harus bisa membaca masa depan,” tegasnya.

Sementara Pembina YPLP PGRI Semarang Muhdi mengingatkan tantangan yang dihadapi perguruan tinggi saat ini semakin kompleks.

Meski UPGRIS memiliki modal yang kuat, kampus harus terus berinovasi agar tidak tertinggal.

Muhdi menilai perkembangan UPGRIS selama sekitar 25 tahun terakhir cukup menggembirakan.

Jumlah mahasiswa terus meningkat, prestasi penelitian dan pengabdian berkembang, serta reputasi kampus semakin dikenal luas.

Baca Juga: Gerombolan Remaja Pesta Miras dan 43 Motor Terjaring Razia Kamtibmas Petugas Gabungan di Semarang 

“Alhamdulillah sekitar 25 tahun terakhir ini progresnya bagus. Tidak saja jumlah mahasiswanya yang terus naik tetapi prestasi penelitian, pengabdian termasuk PPG dengan prestasi yang bagus dan reputasi kita memang semakin baik,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan persaingan kini semakin ketat. Perguruan tinggi negeri yang sebelumnya tidak terlalu agresif dalam mencari mahasiswa, kini mulai membuka banyak program studi baru dan melakukan promosi secara masif.

Karena itu salah satu pekerjaan rumah rektor baru adalah mengelola potensi besar yang dimiliki UPGRIS. Kampus tersebut memiliki banyak dosen bergelar doktor dan profesor yang harus dikolaborasikan menjadi kekuatan pengembangan institusi.

Selain itu, Muhdi menekankan pentingnya menghadirkan kebaruan dalam pengembangan kampus.

Ia menilai perguruan tinggi tidak boleh hanya mengejar capaian-capaian yang selama ini dianggap sebagai ukuran keberhasilan, tetapi juga harus menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Tantangan perguruan tinggi dari waktu ke waktu itu berubah terus. Hal-hal yang sekarang ada bukan berarti harus diberhalakan,” tegasnya.

Ia mencontohkan penelitian yang tidak harus selalu berorientasi pada capaian akademik semata. Menurutnya, riset sederhana yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat justru dapat memberikan manfaat yang lebih besar.

“Ayo penelitian bisa jadi tidak menembus Q1 atau Q2. Mungkin hanya sederhana. Tapi kalau lebih berdampak orientasinya, maka itu bisa jadi efeknya jauh lebih dahsyat,” ujarnya.

Karena itu, Muhdi berharap kepemimpinan baru mampu melahirkan berbagai terobosan dan cara-cara baru dalam mengembangkan kampus. Baginya, perguruan tinggi harus terus bergerak mengikuti perubahan agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

“Setiap rektor baru punya kreativitas, punya cara untuk mengembangkan kampusnya. Tidak boleh hanya sekadar bertahan. Karena bertahan itu habis nanti,” pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#UPGRIS Semarang #Perguruan Tinggi #Universitas PGRI Semarang