Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menyembuhkan Deprivasi Intelektual Kampus

R
Penulis: Radar Semarang❯
Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dekan FTIK UIN Salatiga - Guru Besar Pendidikan IPS. (DOK PRIBADI)
Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dekan FTIK UIN Salatiga - Guru Besar Pendidikan IPS. (DOK PRIBADI)

Advertisement

 
Oleh: Prof. Dr. Rasimin, M.Pd.
(Dekan FTIK UIN Salatiga - Guru Besar Pendidikan IPS)

RADARSEMARANG.ID, Kegelisahan Bramastia, Dosen PPS FKIP UNS Surakarta, mengenai deprivasi pendidikan tinggi dalam artikelnya di salah satu media massa Jawa Tengah pada 8 April saya nilai sebagai sebuah cermin retak yang memantulkan wajah universitas kita saat ini. Fenomena intelektual yang kehilangan gairah akibat tekanan sistem merupakan kenyataan pahit yang harus kita hadapi bersama secara jujur.

Tulisan tersebut secara tajam memberikan peringatan bahwa ketika institusi kehilangan ruh utamanya, maka yang tersisa hanyalah cangkang birokrasi yang kering. Saya memandang ini sebagai momentum untuk melakukan refleksi mendalam terhadap arah kebijakan pendidikan kita ke depan agar tidak terjebak dalam pusaran rutinitas yang hampa.

Kekosongan makna yang dirasakan oleh banyak akademisi sebenarnya berakar dari kegagalan manajemen dalam mengenali potensi terdalam setiap individu. Dalam banyak kasus, kampus sering kali berubah menjadi mesin dingin yang kaku bagi para penghuninya sendiri karena orientasi yang terlalu mekanistik dan mengabaikan sisi kemanusiaan.

Manusia di dalamnya hanya dipandang sebagai penggerak angka indikator kinerja tanpa diberikan ruang untuk merawat sisi spiritualitas mereka. Hal inilah yang memicu terjadinya keterasingan intelektual dan rasa ketidakberdayaan di tengah hiruk-pikuk tuntutan formalitas yang kian menjauh dari substansi keilmuan.

Advertisement

Model pertama yang saya tawarkan adalah transformasi menuju Pragmatisme Profetik sebagai jawaban atas pragmatisme buta yang selama ini hanya mengejar selera pasar. Gagasan ini mengadopsi pemikiran Kuntowijoyo tentang ilmu sosial profetik yang berlandaskan pada pilar humanisasi, liberasi, dan transendensi (Kuntowijoyo, 2006).

Pendidikan tidak boleh hanya diarahkan untuk melahirkan tenaga kerja yang patuh pada sistem ekonomi global. Melalui pendekatan ini, kita memastikan setiap lulusan memiliki kecakapan teknis yang mumpuni dan memiliki kompas moral yang kuat untuk melakukan perubahan sosial yang nyata di tengah masyarakat.

Apabila pendidikan hanya berhenti pada pemenuhan kebutuhan industri, maka saya khawatir kita sedang menciptakan gelombang sarjana yang terdampar di pantai ketidakpastian akibat hiperinflasi ijazah (Collins, 2019). Data menunjukkan bahwa jumlah lulusan sarjana terus meningkat secara signifikan, namun tidak dibarengi dengan ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas bagi mereka.

Lulusan yang dihasilkan mungkin memiliki gelar yang mentereng, namun mereka akan kehilangan daya kritis untuk menghadapi persoalan zaman yang kian kompleks. Kita membutuhkan otonomi intelektual yang sejati agar setiap sarjana memiliki keberanian untuk berpikir mandiri dan melakukan inovasi yang bermakna bagi lingkungan sekitarnya.

Faktor utama yang mempercepat terjadinya demotivasi di lingkungan kampus adalah beban administratif yang luar biasa besar. Banyak energi dosen habis hanya untuk menyelesaikan tumpukan laporan digital yang sering kali tidak memiliki kaitan langsung dengan kualitas pembelajaran di ruang kelas.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

PERPROMI dan SMA Islam Al Azhar 16 Semarang Teken MoU, Dorong Literasi Seni dan Publikasi Ilmiah

PERPROMI dan SMA Islam Al Azhar 16 Semarang Teken MoU, Dorong Literasi Seni dan Publikasi Ilmiah

"Sinergi ini membuka kanal pembinaan bakat seni murid, sekaligus mengungkit produktivitas para guru untuk melahirkan riset inovatif dan karya tulis ilmiah yang teruji," paparnya. 

UIN Salatiga Gelontorkan 55 Tangki Air Bersih, Sasar Warga Terdampak Kekeringan

UIN Salatiga Gelontorkan 55 Tangki Air Bersih, Sasar Warga Terdampak Kekeringan

Kampus tidak hanya menjalankan aktivitas pendidikan, penelitian dan akademik, tetapi juga hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan kemanusiaan.

337 Pembalap Cilik Adu Cepat Pushbike di Sirkuit UIN Salatiga

337 Pembalap Cilik Adu Cepat Pushbike di Sirkuit UIN Salatiga

Menurut Intan, harga pushbike sangat beragam. Untuk kelas awal bisa didapatkan sekitar Rp500 ribu. Sementara sepeda dengan spesifikasi kompetisi bisa dibanderol hingga sekitar Rp17 juta.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer