RADARSEMARANG.ID, Semarang – Di sela padatnya aktivitas sekolah, Nining Sulistyaningsih, S.Pd., M.Pd., tetap menyempatkan menyapa siswa satu per satu.
Pagi itu saat penerimaan rapor, Jumat (20/12) lalu, senyum tak lepas dari wajahnya. Tak hanya menyapa siswa, Nining sapaan akrabnya juga bercengkrama dengan para orang tua.
Bagi Kepala SMP Negeri 2 Semarang itu, sekolah bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang tumbuh bersama, bagi anak-anak, guru, orang tua, dan juga dirinya sendiri.
Di momen Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember, hari ini, sosok Nining menjadi cermin perempuan tangguh yang menjalani peran ganda. Ia adalah pemimpin sekolah, sekaligus istri dan ibu yang berusaha tetap hadir untuk keluarganya.
“Menjadi wanita karier itu tantangannya membagi waktu. Antara pekerjaan dan peran sebagai istri serta ibu,” ujarnya.
Namun bagi Nining, pilihan hidup itu bukan tentang mana yang dikorbankan. Melainkan bagaimana semuanya dijalani dengan kesadaran dan keikhlasan.
Ia selalu menjaga keseimbangan di tengah padatnya aktivitas. Kesibukan sebagai kepala sekolah tidak membuat Nining melupakan arti kebersamaan keluarga. Ia punya cara sendiri untuk menjaga quality time.
“Setiap akhir tahun dan hari raya, itu waktu untuk keluarga. Saat akhir tahun biasanya kami pergi ke luar kota,” ungkap Nining yang juga Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation.
Momen-momen sederhana itulah yang menjadi penguat, sebelum ia kembali ke rutinitas mengelola sekolah dengan ratusan siswa dan puluhan guru.
Perjalanan Nining di dunia pendidikan dimulai sejak 1988. Ia mengawali karier sebagai guru di SMP Negeri 32 Semarang hingga 2015. Setelah itu, ia dipercaya memimpin SMP Negeri 23 Semarang, SMP Negeri 1 Semarang, dan sejak 2023 menjabat Kepala SMP Negeri 2 Semarang.
Pengalaman panjang tersebut membentuk karakter kepemimpinannya. Ia memahami betul dinamika ruang kelas, beban guru, hingga kebutuhan murid yang beragam.
Selain kepala sekolah, Nining juga tercatat sebagai Kepala Sekolah Inti Program Kemitraan Kemendikbud, FASDA Tanoto Foundation, FASNAS SRA, serta Instruktur Disiplin Positif.
Di bawah kepemimpinan Nining, SMPN 2 Semarang melahirkan banyak inovasi pembelajaran. Salah satunya ialah Student Led Conference (SLC).
Melalui program ini, siswa mempresentasikan sendiri capaian akademik, karakter, hingga minat dan bakat di hadapan orang tua. Anak menjadi subjek pembelajaran, bukan sekadar penerima nilai.
“Anak-anak menentukan targetnya sejak awal tahun. Tidak semua mata pelajaran harus ditingkatkan, mereka memilih sesuai kebutuhannya,” jelas Nining.
Setiap siswa didampingi wali kelas dan guru wali. Jika ada kesulitan akademik, permasalahan pertemanan, hingga perbedaan harapan antara anak dan orang tua, sekolah hadir sebagai jembatan komunikasi.
Dari SLC, akhirnya banyak orang tua baru menyadari persoalan yang dihadapi anaknya. Terutama yang sebelumnya tak terungkap di rumah.
"Anak ini kan biasanya takut kalau mau bilang keinginannya, melalui SLC ini akhirnya orang tua bisa menemukan dan lebih memahami keinginan anak-anaknya," tegasnya.
Inovasi lain yang dikembangkan adalah OTSAB (Orang Tua Sahabat Anak Belajar), wadah kolaborasi orang tua dalam mendampingi kegiatan sekolah, mulai dari program gizi, karakter, hingga kegiatan seni dan literasi.
"Jadi setiap hari Rabu anak-anak akan membawa bekal bergizi dari rumah. Nanti orang tua yang bertanggung jawab mengkoordinir," bebernya.
Tak hanya siswa, guru pun mendapat perhatian. Melalui program Ladybar (Lesson Study dan Rabu Sinau Bareng), para guru belajar bersama, merancang pembelajaran kolaboratif, saling mengamati, dan melakukan refleksi.
“Jadi ketika anak-anak makan di halaman sekolah didampingi orang tua. Kami guru-guru belajar bertukar praktik baik di ruang guru. Jadi kami dan orang tua selalu berkolaborasi," ujarnya.
Bagi Nining, kualitas sekolah tidak hanya diukur dari nilai, tetapi dari proses yang manusiawi dan menyenangkan. Ibu dari tiga anak ini pun menyebut melalui beragam inovasi hingga pendekatan yang berpihak pada anak, berdampak langsung pada capaian akademik. Hasilnya pada Rapor Pendidikan 2025, literasi dan numerasi SMPN 2 Semarang sama-sama meraih skor 100.
Capaian itu didukung program Litnum Experience, latihan soal berbasis AKM lintas mata pelajaran yang dikerjakan rutin oleh siswa. Sehingga ketika hari Sabtu, waktu anak-anak libur, mereka tetap belajar. Sebab peserta didik akan mendapat tugas sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Mereka akan diberikan soal dan menjawabnya. Nanti nilainya akan langsung keluar. Karena itulah mereka akan terus belajar untuk mencapai target yang ditentukan.
“Anak-anak jadi punya target dan semangat belajar. Kalau gagal, kita kuatkan, kita cari solusinya,” kata Nining.
Sebagai perempuan yang telah puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan. Nining turut menitipkan pesan bagi para wanita karier, khususnya ibu.
“Kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja keras, kerja tuntas,” ucapnya singkat.
Ia juga mengajak para ibu untuk terus memperkuat peran di keluarga. Di Hari Ibu ini, kisah Nining Sulistyaningsih menjadi bukti, kepemimpinan bisa berjalan seiring dengan kelembutan. Perempuan dapat berdiri tegak di ruang publik, tanpa meninggalkan peran pentingnya di rumah.
“Dengan kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi yang hangat, kita ciptakan rumah yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak,” pesannya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi