RADARSEMARANG.ID, Banyumas - Di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Banyumas, ada sebuah bangunan yang biasa digunakan untuk bermain dan belajar balita. Namanya Rumah Anak SIGAP yang kini telah berganti nama menjadi Bina Keluarga Balita (BKB) Kartini.
Tepat pukul 09.00 hingga 10.00 pagi anak-anak akan belajar di Rumah Anak SIGAP. Suasana tampak riuh oleh tawa anak-anak, orang tua, juga fasilitator. Lantai beralaskan tikar warna-warni itu penuh dengan biji kedelai yang berserakan. Menggunakan sendok, botol plastik, dan piring. Anak-anak satu persatu belajar motorik halus. Mereka memasukkan biji kedelai ke dalam botol plastik. Anak-anak juga belajar memilah warna biji kedelai hitam dan hijau di dalam piring.
"Ayo biji kedelainya dimasukkan ke dalam botol," kata Fasilitator Rumah Anak SIGAP Sokawera Parsini.
"Iya bu," sahut seorang bocah laki-laki, jemarinya dengan telaten memasukkan kedelai hijau ke dalam botol kecil. Tak puas ia menuang ulang dan mengulangi lagi dengan semangat, seolah permainan sederhana itu tak ada habisnya.
"Kalau anak-anak seperti ini, kelihatannya cuma main, padahal sedang belajar motorik halus. Mereka belajar fokus, mengenal tekstur, dan melatih koordinasi tangan," jelas Parsini.
Ditemani Bidan Sokawera Fenti Uliviana dan fasilitator Rumah Anak SIGAP Sokawera lainnya. Parsini bercerita, Rumah Anak SIGAP ini pertama hadir di Sokawera pada Oktober 2023, hasil kerja sama dengan Tanoto Foundation. Melalui program itu, para fasilitator seperti Parsini dibekali pengetahuan tentang tumbuh kembang anak, gizi, kesehatan, pengasuhan yang responsif, hingga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Setelah program pendampingan selesai pada Desember 2024. Parsini bersama fasilitator lain tak tinggal diam. Akhirnya awal 2025, Parsini bersama bidan desa Fenti Uliviana bertekad untuk tetap melanjutkannya dengan cara swadaya masyarakat.
"Karena manfaatnya banyak. Sayang kalau berhenti, akhirnya kita musyawarah dengan masyarakat dan perangkat desa. Disepakati tetap lanjut dengan swadaya masyarakat, setiap peserta 15 ribu rupiah selama satu bulan untuk operasional," bebernya.
Rumah Anak SIGAP itu kini menjadi tempat belajar bagi 81 anak. Dibagi dalam empat kelas berdasarkan usia. Mereka aktif mengikuti kegiatan setiap minggunya.
Minggu pertama digunakan untuk pembelajaran bagi orang tua, sementara minggu berikutnya diisi dengan Kegiatan Bermain Bersama (KBB). Anak-anak belajar mengenal warna, bentuk, angka, dan huruf lewat permainan edukatif.
“Stimulasi tiap usia berbeda. Anak 1–2 tahun diajak mengenal warna, sedangkan usia 3 tahun mulai dikenalkan berhitung atau numerasi sederhana," ungkapnya.
Selain mendampingi anak, Parsini juga fokus mendidik para orang tua. Terutama ibu muda untuk meninggalkan kebiasaan lama yang bisa menghambat tumbuh kembang anak.
"Dulu, mencari peserta untuk kelas 0-6 bulan itu susah. Mitosnya, bayi belum 40 hari belum boleh dibawa keluar rumah atau ibu habis melahirkan enggak boleh tidur siang, yang katanya tidak baik. Padahal itu mitos," akunya.
Baginya tantangan terbesar bukan saat melatih anak-anak belajar. Tapi justru melawan mitos, yang masih dipercayai oleh orang dewasa dan para sesepuh di desanya.
Melawan arus keyakinan turun-temurun inilah, Parsini bersama rekan fasilitator lain dengan dukungan penuh Bidan Sokawera, Fenti Uliviana, berjuang tiada henti. Dengan ilmu dan kesabaran, mereka mengedukasi satu per satu keluarga untuk beralih dari mitos menuju pola asuh yang berbasis ilmu kesehatan.
"Kadang yang menolak itu nenek atau mertua. Jadi kami sampaikan pelan-pelan, sambil kasih contoh. Kalau anak dibawa keluar pagi-pagi, dijemur, main, nanti lebih sehat,” tegasnya.
Kini, perubahan mulai terlihat. Para ibu sudah lebih terbuka, aktif ikut kegiatan, dan rutin menimbang anak di posyandu.
Hasilnya nyata. Dari tujuh anak yang semula berisiko stunting, kini seluruhnya sudah tumbuh normal. Perubahan itu terjadi berkat pendampingan intensif terhadap orang tua.
“Dulu banyak yang enggak berani kasih telur ke anak karena takut gatal. Setelah orang tua diedukasi soal gizi, mereka mulai paham pentingnya protein. Anak-anaknya sekarang sehat dan berat badannya naik," ujarnya.
Keberhasilan Rumah Anak SIGAP atau BKB Kartini ini menarik perhatian banyak pihak. Mulai dari DP3AKB Banyumas hingga dosen Unsoed datang untuk belajar dan melakukan penelitian tentang model pengasuhan dan pencegahan stunting. Bahkan ada pula Ibu dari desa tetangga sering datang untuk belajar. Ia rela naik motor menempuh waktu 15 menit agar anaknya bisa ikut kelas di Rumah Anak SIGAP Sokawera.
“Karena ibu muda jadi lebih semangat. Rela datang jauh, katanya di sini bisa belajar dan praktik langsung. Anak-anak juga senang karena main sambil belajar,” katanya.
Baginya, tak ada kebahagiaan yang lebih besar selain melihat anak-anak tumbuh sehat dan percaya diri.
“Dulu mereka malu-malu, sekarang berani bicara dan aktif. Dari kegiatan kecil seperti ini, kami ingin anak-anak punya masa depan lebih baik,” tandasnya. (kap/web)
Editor : Baskoro Septiadi