Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

POPS dan Rumah Anak SIGAP Jadi Andalan Desa Kluwut Tekan Angka Stunting

Khafifah Arini Putri • Kamis, 30 Oktober 2025 | 05:39 WIB
Ketua TPPS Desa Kluwut Muniroh (kanan) dan Koordinator Rumah Anak SIGAP Desa Kluwut Sri Yuliana (kiri) saat bercengkrama membahas penurunan stunting di Desa Kluwut dengan pola pengasuhan dan PMT.
Ketua TPPS Desa Kluwut Muniroh (kanan) dan Koordinator Rumah Anak SIGAP Desa Kluwut Sri Yuliana (kiri) saat bercengkrama membahas penurunan stunting di Desa Kluwut dengan pola pengasuhan dan PMT.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Dari sebuah ruang sederhana di Balai Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Sejumlah perangkat desa terlihat menatap layar komputer. Di sana, data demi data tentang anak stunting, ibu hamil, hingga calon pengantin tersaji secara lengkap.

Semua itu tersimpan dalam Pusat Operasi Penurunan Stunting (POPS), sebuah sistem integrasi yang lahir dari kepemimpinan Muniroh, Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Desa Kluwut.

Data POPS terakhir pada September 2025 tercatat, dari 830 balita dan baduta yang menjadi sasaran penimbangan Posyandu, 183 diantaranya teridentifikasi stunting. Jumlah ini terasa tinggi mengingat total populasi balita dan baduta di desa tersebut mencapai 1.055 anak.

Karena tingginya angka stunting itu, inovasi POPS ini hadir untuk mempermudah dalam pendataan dan penanganan agar tepat sasaran. POPS dibentuk pada 2022, saat Tanoto Foundation mulai melakukan pendampingan di Kluwut melalui program Rumah Anak SIGAP. Program ini membuat pemerintah desa lebih mudah memahami pentingnya pengelolaan data yang akurat. Selain itu juga menguatkan peran masyarakat dalam menurunkan angka stunting.

"Dulu data stunting kami berantakan, tersebar di berbagai lembaga. Sekarang semua terintegrasi lewat POPS,” kata Muniroh saat ditemui di Kantor Kepala Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba.

Muniroh bercerita POPS berfungsi sebagai bank data terpadu yang mengonsolidasikan informasi dari berbagai sumber. Utamanya, data dari aplikasi EPPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) untuk Posyandu, catatan dari bidan, serta hasil pendampingan Tim Pendamping Keluarga (TPK) dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3KB) disatukan dalam satu platform.

"Di POPS ini, data balita normal dan bermasalah ada semua. Mulai dari calon pengantin (catin), ibu hamil, ibu nifas, hingga anak balita, terutama yang stunting, semuanya terpantau di sini," imbuhnya.

Keuntungannya sangat nyata bagi pemerintah desa. Misalnya saat Dinas Kesehatan atau Dinas Pertanian ingin memberikan bantuan seperti sembako, beras, telur, atau ayam. Mereka tinggal mengambil data sasaran yang akurat dari POPS. Efisiensi ini membuat penanganan menjadi lebih tepat sasaran.

Kendati demikian, perjalanan belum selesai. Angka stunting 183 pada September 2025 masih dianggap tinggi. Muniroh mengakui, angka ini fluktuatif. Dari 220 kasus pada 2019, sempat turun drastis ke 143 pada 2023. Setelah intervensi, sempat turun lagi ke 198, namun kembali naik. Faktor penyebabnya kompleks, mulai dari pola asuh, pola makan, hingga perkawinan muda, dan rendahnya tingkat pendidikan.

Jika POPS adalah otaknya, maka Rumah Anak SIGAP menjadi jantung dari aksi lapangan. Didirikan hampir bersamaan dengan POPS pada Juli 2022, Rumah Anak SIGAP ini menjadi tempat transformasi pola pikir dan praktik pengasuhan.

Koordinator Rumah Anak SIGAP Desa Kluwut, Sri Yuliana, adalah sosok kunci di balik perubahan ini. Perjuangannya dimulai dari keprihatinan mendalam akan rendahnya sumber daya manusia (SDM) dan masih kentalnya mitos di masyarakat Desa Kluwut.

"Dulu, pola asuh dan pola makan di sini sangat memprihatinkan. Bayi umur sehari sudah dikasih makan pisang atau air tajin. Ibu-ibu percaya itu bisa bikin anak gemuk atau anak umur dua bulan sudah dikasih bubur encer dengan kuah kuning (seperti opor)," kenang Sri Yuliana, menggambarkan betapa pemahaman gizi dan ASI eksklusif masih sangat minim.

Mitos lain yang paling sulit dilawan adalah penolakan terhadap pemberian makanan tambahan (PMT). Menurutnya masyarakat di desanya masih menganggap PMT adalah makanan dari rumah sakit.

"Masyarakat, terutama di wilayah pesisir, sering menolak. Mereka bilang, 'PMT itu masakan rumah sakit, ada obatnya'. Padahal, kami masak sendiri menggunakan bahan lokal, terutama ikan, yang melimpah di sini," ujarnya.

Namun, penolakan itu justru memacu kreativitas. Bu Ana sapaan akrabnya beserta tim kader PKK berinovasi membuat PMT yang lezat dan bergizi dari bahan lokal. Mereka membuat pepes hati ayam, perkedel ikan, bola-bola ayam, pepes telur asin, bahkan es cendol dari ikan yang diolah sedemikian rupa sehingga tidak terasa amis.

"Kami manfaatkan hasil kami sendiri. Kami edukasi bahwa ini bukan obat, tapi makanan sehat untuk anak-anak mereka, dan ini hasil dari potensi lokal," tegas Sri.

Strategi pendekatannya pun sangat personal. Jika ada keluarga yang menolak, tim tidak patah arang. Mereka tetap mendatangi, memberikan PMT, dan terus memberikan edukasi. Sebab penolakan seringkali datang dari nenek dan kakek, bukan orang tua.

"Kalau ditolak, ya tidak apa-apa. Kami ulangi lagi, kami tetep buat (PMT)," ungkapnya.

Ia pun bercerita ada ibu-ibu yang harus sembunyi-sembunyi menerima PMT. Sebab suaminya tak mengizinkan.

"Anak dan ibunya kan mau (PMT), akhirnya sembunyi-sembunyi dimakannya setelah suaminya berangkat kerja," bebernya.

Lebih lanjut Ana menyebut selain PMT, juga ada Rumah Anak SIGAP yang menjadi bekal orang tua untuk pemenuhan gizi anak. Di Rumah Anak SIGAP terbagi menjadi empat kelas berdasarkan usia. Yakni Bintang Kecil (0-6 bulan), Bintang Ceria (7-12 bulan), Bintang Pijar (13-24 bulan), dan Bintang Terang (25-36 bulan). Kelas Bintang Pijar adalah yang paling banyak pesertanya.

Di kelas-kelas ini, anak-anak tidak hanya mendapat PMT, tetapi juga stimulasi dini untuk perkembangan motorik dan kognitif. Orang tua juga diedukasi tentang pemberian ASI eksklusif dan pentingnya pola asuh yang benar.

"Banyak pelatihan dari Tanoto Foundation yang memperluas wawasan kami. Dulu taunya cuma PMT dan gizi dasar. Sekarang kami paham tentang stimulasi, perkembangan anak, dan cara komunikasi yang baik dengan orang tua,"kata Ana.

Kesabaran itu akhirnya membuahkan hasil. Setidaknya, sudah 10 anak yang berhasil "lulus" dari status stunting berkat pendampingan intensif di Rumah Anak SIGAP. Salah satu kisah suksesnya adalah seorang anak yang menderita sindrom jantung.


"Anaknya awal lahir itu normal, 4 kg. Tapi sejak umur tiga bulan, tubuhnya mengecil, hanya kepalanya yang membesar. Umur 10 bulan, berat badannya hanya 4 kg. Orang tuanya sempat percaya pada mitos dan hampir menyerah, tapi ibunya terus berusaha," cerita Sri.

Berkat pendampingan khusus dan pemberian PMT yang konsisten, perlahan kondisi anak itu membaik. Saat umur 22 bulan, berat badannya sudah mencapai 11 kg.

"Dulu orang tuanya, terutama ayahnya, menolak. Sekarang, justru ayahnya yang aktif dan mau berfoto bersama saat ada kegiatan PMT," katanya.

Kini POPS dan Rumah Anak SIGAP menjadi contoh praktik baik bagi penanganan stunting berbasis desa. Bahkan beberapa waktu lalu rombongan dari Sulawesi datang langsung ke Rumah Anak SIGAP Kluwut untuk melakukan studi tiru.

“Desa lain mulai belajar ke sini. POPS jadi model untuk integrasi data, sementara Rumah Anak SIGAP jadi model perubahan perilaku. Kemarin dari Sulawesi juga ada yang datang untuk studi tiru,” tandasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#Posyandu #anak stunting #balai desa #Ibu Hamil #tanoto foundation #Tim Percepatan Penurunan Stunting