Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Round Robin Brainstorming, Jurus Nularsih Latih Siswa Aktif dan Kritis di Kelas Bahasa Inggris

Khafifah Arini Putri • Jumat, 20 Juni 2025 | 21:00 WIB
Guru SMPN 6 Semarang Nularsih S.Pd sedang mengajar siswa menggunakan metode Round Robin Brainstorming di kelasnya.
Guru SMPN 6 Semarang Nularsih S.Pd sedang mengajar siswa menggunakan metode Round Robin Brainstorming di kelasnya.

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Inovasi dalam dunia pendidikan bisa datang dari ruang kelas mana saja, termasuk dari seorang guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 6 Semarang.

Guru inspiratif ini ialah Nularsih S.Pd. Sejak bergabung sebagai fasilitator program PINTAR Tanoto Foundation, Nularsih aktif menerapkan teknik-teknik pembelajaran inovatif yang ia pelajari. Salah satunya, Round Robin Brainstorming.

Teknik ini ia gunakan dalam materi pembelajaran report text, yakni teks Bahasa Inggris yang mendeskripsikan suatu objek secara umum, seperti hewan atau tumbuhan.

Perbedaan antara report text dan descriptive text ini kerap membingungkan siswa karena sama-sama membahas deskripsi suatu objek.

Sebab itu, Nularsih mencari cara yang menyenangkan sekaligus efektif agar siswa lebih mudah memahami materi.

“Saya membentuk kelompok berisi 3–4 siswa. Mereka saya minta menuliskan ide secara bergiliran tentang objek yang didiskusikan, misalnya tentang sapi. Setiap anak tidak boleh menulis ide yang sama. Setelah semua ide terkumpul, mereka presentasi di depan kelas,” jelas Nularsih.

Melalui teknik ini, siswa tidak hanya diajak berpikir kritis dan kreatif. Tetapi juga dilatih untuk mampu bekerja sama dan percaya diri dalam menyampaikan gagasan.

Bagi Nularsih, metode Round Robin Brainstorming membantu memetakan pemahaman siswa terhadap struktur teks dan membiasakan mereka menulis paragraf yang terstruktur.

Salah satu variasi dari teknik ini yang juga diterapkan dalam pembelajaran adalah window shopping, di mana hasil diskusi kelompok ditempel di dinding kelas dan dikunjungi kelompok lain.

Melalui teknik ini setiap kelompok mengamati dan memberi masukan terhadap karya teman-temannya.

“Di setiap kegiatan seperti itu, anak-anak menunjukkan antusiasme luar biasa. Mereka merasa belajar tapi tidak merasa digurui. Pembelajaran menjadi aktif dan menyenangkan,” imbuhnya.

Selain menggunakan metode Round Robin Brainstorming, Nularsih juga menggunakan cara lain dalam menyampaikan pembelajaran agar lebih mudah dipahami.

Metode kedua yang dilakukannya ialah dengan menggunakan pertanyaan produktif, imajinatif, dan terbuka. Melalui teknik ini bisa menggugah nalar dan kreativitas peserta didik.

Menurutnya teknik kedua yang ia terapkan merupakan buah dari pelatihan Tanoto Foundation.

Saat praktik di kelas ia menyisipkan pertanyaan seperti, “What will happen if Sangkuriang married Dayang Sumbi?” atau “What will happen if you bake only 5 minutes instead of 10?” ke dalam teks naratif dan prosedur.

“Pertanyaan ini tidak ada di teks. Tapi justru dari situ anak-anak mengeluarkan ide-ide yang luar biasa. Ini mengasah berpikir kritis dan kreativitas mereka,” bebernya.

Selain menggunakan pertanyaan terbuka untuk memantik berpikir kritis pada siswa. Nularsih juga menggunakan metode integrasi numerasi dalam pembelajaran Bahasa Inggris.

Walaupun Bahasa Inggris bukan mata pelajaran eksakta, Nularsih tetap mencoba mengintegrasikan unsur numerasi.

Misalnya, saat membahas materi “how to compare something”, ia menggunakan data tinggi badan siswa dan meminta mereka menyusun kalimat perbandingan seperti “Ali is taller than Budi” atau “Sita is the shortest”.

Menurutnya, pendekatan ini membuat siswa lebih mudah memahami konteks dan struktur bahasa.

Tak hanya aktif di kelas, Nularsih juga membagikan praktik baiknya ke komunitas dan guru Bahasa Inggris lainnya.

Ia pernah menjadi Ketua MGMP Kota Semarang (2018–2022) dan kini memimpin komunitas guru Bahasa Inggris tingkat provinsi, yakni Central Java English Teacher Association.

Fasilitator program PINTAR Tanoto Foundation ini bahkan pernah menyampaikan praktik baiknya dalam forum MGMP Bahasa Inggris se-Kabupaten Cilacap yang dihadiri lebih dari 100 guru.

Sebagai guru yang telah mengajar sejak 1996, Nularsih percaya bahwa proses belajar tidak hanya milik siswa, tetapi juga guru.

“Ilmu dari Tanoto Foundation saya terapkan di kelas, saya praktikkan, dan hasilnya sangat terasa. Teknik Round Robin ini jadi salah satu yang paling efektif untuk mengajak siswa aktif dan berpikir kritis,” pungkasnya. (kap)

Editor : Tasropi
#Guru Bahasa Inggris #Program Pintar #Nularsih #SMP Negeri 6 Semarang #tanoto foundation