RADARSEMARANG.ID, SEMARANG, - Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang pamerkan kekayaan budaya dan kuliner Jawa Tengah.
Acara 10" Festival Komukino bertema Jateng Bungah ini menjadi sebuah wadah festival budaya untuk merayakan dan melestarikan kekayaan budaya Nusantara.
Satu di antaranya yang menarik yakni di stand dolanan jadul Nusantara bersama komunitas Hompimpa Semarang yang menyuguhkan permainan tradisional.
Mulai dari egrang, ular tangga, bakiak, rangku ulu, dan lain lain.
Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi semester 1 Aufal Ario mengatakan adanya event seperti ini sangat bagus untuk melestarikan budaya lokal. "Apalagi kami ini kan gen Z jadi mainan seperti egrang ini tidak tahu. Sekarang jadi tahu," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia 10th Festival Komukino, Daniel Kukuh Wibisono menyatakan festival ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya tradisional Jawa Tengah kepada generasi muda.
Beragam jenis digelar mulai dari festival kuliner, festival budaya, lomba budaya kreatif, fashion show batik bersama komunitas pembatik Semarang yang anggotanya merupakan penyandang disabilitas tunarungu, hingga pertunjukan seni tradisional.
Ada pula untuk literasi, terdapat stand buku cerita rakyat seperti timun mas, banyu dan manu, roro jongrang, dan lain lain.
“Tema tahun ini adalah Jateng Bungah yang memiliki makna kebahagiaan dan semangat Jawa Tengah. Kami ingin agar generasi muda dapat merasakan kebanggaan terhadap budaya lokal mereka melalui acara ini,” kata Daniel ditemui di sela kegiatan, Kamis (19/12/2024).
Lebih lanjut Daniel mengatakan, Festival Komukino juga menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menerapkan teori-teori komunikasi dalam dunia nyata. Seperti mempraktikkan mata kuliah Komunikasi Pemasaran.
Dalam hal ini mahasiswa terlibat langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, dan promosi festival. Secara tidak langsung, mereka mendapat pengalaman praktis dalam bidang komunikasi dan pemasaran.
“Dengan menggabungkan unsur-unsur tradisi dan teknologi, kami berharap dapat memberikan pengalaman yang edukatif sekaligus menyenangkan,” imbuh dia.
Wakil Dekan I FTIK USM, Fajriannoor Fanani menambahkan, mahasiswa Ilmu Komunikasi USM telah berhasil belajar dalam mengelola dan memproduksi acara dengan skala yang luas dan beragam.
Ia menilai acara ini bukan sekedar pelestarian budaya, melainkan juga bukti akademik yang mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
"Kami percaya pengalaman seperti ini akan menjadi bagian penting dalam mencetak lulusan yang kompeten dan relevan dengan perkembangan zaman,” kata Fajri.
Selain itu, tambahnya, festival ini juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari dalam konteks acara budaya yang besar dan menyenangkan. (ifa)
Editor : Tasropi