RADARSEMARANG.ID, Semarang — Prof Dr Abdul Mu’ti mengungkapkan Kurikulum Deep Learning dapat membantu siswa memahami materi secara lebih baik melalui metode pembelajaran yang membangun pemikiran kritis.
Selain itu, elemen yang dirancang dalam Kurikulum Deep Learning bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang tidak hanya mengedepankan pengetahuan namun juga pengalaman bermakna bagi siswa.
Kita arahkan dengan pembelajaran mindful, pembelajaran meaningful, dan pembelajaran joyful,” sebut Prof Dr Abdul Mu’ti dalam kesempatan yang sama.
Baca Juga: Ini Dia Bocoran yang akan menggantikan Kurikulum Merdeka Besok
Baca Juga: Kisi-kisi Materi Seleksi Kompetensi Bidang CPNS dan Jadwal Terbaru
Dalam kesempatan yang sama, Prof Dr Abdul Mu’ti menjelaskan model pembelajaran dari kurikulum deep learning sudah ada sejak 1995.
Mendikdasmen RI itu menceritakan pengalamannya belajar Kurikulum Deep Learning saat menjalani perkuliahan gelar Master of Education di Flinders University Adelaide Australia.
Terkait hal tersebut, Prof Dr Abdul Mu’ti ingin siswa di Indonesia juga dapat diarahkan untuk mendapatkan pembelajaran serupa.
Prof Dr Abdul Mu’ti pun mencontohkan, pembelajaran dengan prinsip mindful dapat dilakukan oleh guru untuk menyadari setiap murid memiliki karakteristik yang berbeda.
Kemudian, prinsip mindful itu diterapkan agar para siswa didorong untuk berpikir kritis dan terlibat aktif selama proses belajar.
“Tiba-tiba ada yang bertanya di tengah pelajaran, jangan dihentikan,” tandasnya.
Tiga Elemen dalam Kurikulum Deep Learning
Seperti diketahui, Mendikdasmen RI telah membuat gagasan terkait Kurikulum Deep Learning sebagai kurikulum baru di Indonesia dengan pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam.
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Umumkan Nama Menteri Kabinetnya: Kabinet Merah Putih
Berikut ini tiga elemen dalam Kurikulum Deep Learning yang menjadi metode pembelajaran yang disebut Prof Dr Abdul Mu’ti telah diterapkan di Australia:
1. Mindful Learning
Elemen ini berarti para guru dapat menghargai keunikan dan keterlibatan siswa yang bertujuan untuk memberikan ruang bagi siswa untuk aktif terlibat dalam proses belajar.
Mindful learning akan lebih memperhatikan perbedaan kebutuhan dan potensi setiap siswa selama proses belajar berlangsung.
Melalui pendekatan ini, siswa diharapkan dapat terlibat langsung melalui diskusi, eksperimen, dan eksplorasi terhadap materi yang diajarkan oleh sang guru.
Mindfull Learning bertujuan untuk memberikan ruang bagi siswa untuk aktif terlibat dalam proses belajar, dengan memperhatikan perbedaan kebutuhan dan potensi tiap individu.
Dalam pendekatan ini, siswa diharapkan dapat terlibat langsung melalui diskusi, eksperimen, dan eksplorasi terhadap materi yang diajarkan.
Baca Juga: Ini Daftar 48 Nama Menteri dan Kepala Lembaga Presiden H Prabowo Subianto dalam Kabinet Merah Putih
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Lantik 55 Wakil Menteri di Kabinet Merah Putih, Ini Nama-namanya
Baca Juga: Sejarah, Tujuan, Pengertian dan Alasan Pemerintah Menetapkan Hari Santri Nasional 22 Oktober
Misalnya, saat membahas konsep-konsep sains, guru diharapkan tidak hanya memberikan teori, tetapi juga mengajak siswa memahami peran materi tersebut dalam kehidupan nyata.
Sebagai contoh, pembelajaran tentang air dapat dilakukan melalui eksperimen laboratorium untuk mempelajari peran air dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan mampu mengaitkan pembelajaran di kelas dengan realitas sehari-hari mereka.
2. Meaningful Learning
Pada elemen meaningful learning, siswa diajak untuk memahami alasan di balik setiap pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya.
Pendekatan ini memposisikan guru sebagai fasilitator yang membantu siswa mengaitkan pelajaran dengan penerapan di dunia nyata.
Contohnya, guru dapat menjelaskan tentang konsep-konsep tertentu akan bermanfaat dalam mengelola keuangan pribadi.
Melalui pemahaman ini, siswa diharapkan lebih termotivasi dan antusias dalam belajar.
3. Joyful Learning
Elemen ini berarti menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan bagi para siswa, sehingga menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
Baca Juga: Sosok Profil Gus Miftah dan Tugasnya Sebagai Utusan Khusus Presiden RI
Baca Juga: Mengenal Sosok Profil KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq
Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Ini Sosok Profil Gus Iqdam
Baca Juga: Profil K.H. Taj Yasin Maimoen, dari Santri untuk Negeri, Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah 2024-2029
Joyful Learning akan siswa tidak hanya merasa senang, namun juga benar-benar memahami materi yang dipelajari.
Contoh dalam pelajaran sejarah, guru bisa mengadakan simulasi atau diskusi yang membuat siswa lebih aktif terlibat.
Melalui cara ini, siswa tidak hanya belajar sejarah sebagai hafalan, namun juga bisa memahami konteks historis secara lebih mendalam.
Joyfull Learning diharapkan dapat membuat siswa lebih bersemangat dalam mempelajari setiap mata pelajaran.
Kurikulum Deep Learning direncanakan untuk diterapkan pada tahun 2025.
Namun, Prof Dr Abdul Mu’ti menekankan bahwa persiapan yang matang diperlukan, terutama dalam hal pelatihan guru dan penyediaan infrastruktur yang memadai.
Proses transisi menuju kurikulum baru ini juga akan melibatkan pelatihan intensif bagi para guru agar mereka dapat mengadopsi metode pengajaran yang lebih berfokus pada siswa.
Selain itu, perubahan mindset guru menjadi elemen penting dalam keberhasilan Kurikulum Deep Learning.
Guru dituntut untuk lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan siswa.
Baca Juga: Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Semarang Masa Khidmah 2024-2029 Resmi Dilantik
Baca Juga: Ini Dia Susunan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Semarang Masa Khidmah 2024-2029
Baca Juga: Meriah! Karnaval Pembangunan Desa Sumberejo Kecamatan Pabelan Ditonton Ribuan Warga
Prof Dr Abdul Mu’ti menekankan bahwa keberhasilan kurikulum ini sangat bergantung pada kesediaan para pendidik untuk beradaptasi dengan pendekatan yang lebih mengutamakan keterlibatan aktif siswa.
Selain itu, Deep Learning menuntut guru untuk tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memandu siswa dalam memahami tujuan pembelajaran.
Pertanyaan seperti “Mengapa kita mempelajari ini?” atau “Apa manfaatnya dalam kehidupan kita?” menjadi bagian integral dari proses belajar, memastikan setiap materi yang diajarkan memiliki arti bagi siswa.
Pengalaman tersebut menginspirasinya untuk membawa perubahan besar ini ke Indonesia, dengan harapan siswa bisa berkembang lebih baik dalam berpikir kritis dan analitis.
Meski materinya mungkin lebih ringan, pendekatan ini memastikan bahwa siswa mampu menyerap dan memaknai pelajaran dengan lebih mendalam.
Guru harus berperan sebagai fasilitator, memfokuskan proses belajar pada pemahaman, bukan sekadar penguasaan materi yang dihafalkan.
Prof Dr Abdul Mu’ti juga mengingatkan bahwa Kurikulum Deep Learning ini berbeda dengan model pembelajaran yang menuntut siswa menyelesaikan soal-soal sulit tanpa relevansi nyata.
Yang diutamakan adalah membangun keterampilan berpikir yang bermanfaat bagi siswa, baik dalam kehidupan akademis maupun sehari-hari.
Namun, kebijakan ini bukan tanpa tantangan.
Prof Dr Abdul Mu’ti menyadari bahwa penerapan kurikulum ini memerlukan pelatihan khusus bagi guru, agar mereka mampu mengimplementasikannya dengan baik.
Baca Juga: Asal-Usul dan Makna Malam Tirakatan 17 Agustus, Ternyata Begini Sejarahnya
Baca Juga: Baru Tahu, Ternyata Begini Struktur Organisasi Gerakan Pramuka
Baca Juga: Mengapa Hari Pramuka Diperingati Setiap Tanggal 14 Agustus? Ternyata Begini Sejarahnya
Baca Juga: 5 Resep Ikan Bakar Maknyus Bumbu Sederhana, Cocok untuk Acara Kumpul-Kumpul
Dukungan pemerintah dan komunitas pendidikan sangat dibutuhkan agar transformasi ini bisa berlangsung dengan efektif.
Tak hanya itu, pemerintah juga berencana mengkaji ulang kebijakan lain seperti Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dan Ujian Nasional.
Prof Dr Abdul Mu’ti menyebutkan bahwa kebijakan tersebut perlu disesuaikan dengan perkembangan pendidikan dan tuntutan zaman agar lebih relevan.
Kurikulum Deep Learning juga diharapkan mampu menjawab permasalahan dalam dunia pendidikan saat ini, terutama dalam hal keterlibatan dan motivasi siswa.
Dengan cara ini, pendidikan menjadi lebih bermakna dan mampu menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dan kontekstual.
Baca Juga: Jadwal Majelis Gandrung Nabi Bulan November 2024
Baca Juga: Makna, Sejarah, Keutamaan dan 10 Amalan Bulan Jumadil Awwal
Baca Juga: Jadwal Sholawat Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf Bulan November 2024
Baca Juga: November, Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf akan Bersholawat di Semarang, Ini Jadwalnya!
Baca Juga: KPU Kota Semarang Bersholawat Bersama Majelis Az Zahir, Catat Jadwalnya
Perubahan ini disambut beragam oleh para praktisi pendidikan.
Sebagian mendukung, menganggap langkah ini dapat memacu kualitas pendidikan Indonesia, sementara yang lain khawatir akan kesiapan sekolah dalam menjalankan kurikulum baru tersebut.
Meski ada pro dan kontra, Prof Dr Abdul Mu’ti tetap optimis bahwa Kurikulum Deep Learning adalah langkah progresif yang diperlukan Indonesia.
Dengan dukungan yang tepat, dia yakin bahwa ini bisa menjadi awal kebangkitan pendidikan Indonesia yang lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Para guru dan siswa diharapkan menyambut perubahan ini dengan antusiasme dan kesiapan untuk terus belajar.
Transformasi ini memang besar, tetapi dengan kolaborasi antara pemerintah, guru, dan komunitas pendidikan, Prof Dr Abdul Mu’ti yakin bahwa masa depan pendidikan Indonesia akan lebih cerah. (fal/bas)
Editor : Baskoro Septiadi