RADARSEMARANG.ID - Tentunya kita sudah sering menemui kalimat-kalimat berbahasa Inggris yang bermakna suatu larangan di kehidupan sehari-hari.
Tanda seperti “No Smoking!” pasti salah satu kalimat yang sering kita temukan bahkan sudah dipahami oleh banyak orang, namun masih sedikit yang memahami bagaimana kalimat ini bisa terbentuk.
Ketika kita menyampaikan suatu larangan kepada orang lain, kalimat yang dituturkan harus dalam struktur tata bahasa yang tepat layaknya Bahasa Indonesia.
Kata-kata seperti “Jangan” atau tidak boleh” merupakan kata yang sering kita gunakan untuk mengatakan suatu larangan.
Dalam Bahasa Inggris, terdapat 3 (tiga) kata yang identik dipakai ketika melarang atau mencegah seseorang untuk berbuat sesuatu.
- No
Untuk menyampaikan kalimat larangan dengan kalimat ini, pada dasarnya struktur kalimat yang diberikan adalah:
- No + Noun + Adverb
Setelah mengucapkan kata No seperti diatas, kita mengucapkan noun yaitu kata benda kemudian adverb berupa keterangan yang melengkapi kalimat tersebut. Contohnya:
No phone during class
Kalimat tersebut mengandung struktur yang telah disebutkan dengan phone sebagai kata benda (noun) dan during class sebagai keterangannya (adverb).
Sehingga, kalimat diatas memiliki arti, “Tidak boleh bermain handphone selama jam kelas.”
Adapula bentuk lain dari penggunaan kata no diatas. Seperti struktur sebelumnya, susunan tata bahasa tersebut dapat diubah dengan mengembangkan kata benda (noun) menjadi gerund noun.
Gerund noun ini terbentuk dari kata kerja (verb) yang ditambahkan dengan akhiran berupa -ing. Sehingga, disusun menjadi:
- No + Verb-ing
Contoh kalimat yang dapat disusun dengan struktur diatas adalah seperti:
- No trespassing!
- No cheating during exam
Kalimat-kalimat diatas mengikuti struktur yang dibentuk setelah menggunakan kata No kemudian terdiri dari masing-masing kata benda gerund-nya (Verb-ing).
Seperti pada kalimat pertama, kata kerja dasarnya adalah trespass kemudian berubah menjadi trespassing setelah ditambahkan -ing.
Kalimat tersebut berarti, “Dilarang melewati batas/masuk tanpa izin,” yang sering ditemukan di garis perbatasan tanah property milik seseorang bahkan suatu Perusahaan.
Lalu pada kalimat kedua, terdapat kata kerja utama yaitu cheat juga diakhiri dengan -ing menjadi cheating.
Dapat pula struktur kalimat ini ditambahkan dengan keterangan tambahan sepeti during exam diatas untuk melengkapi konteks kalimat tersebut. Sehingga, seluruh kalimat tersebut bermakna, “Dilarang menyontek selama ujian.”
- Don’t
Agar dapat melarang seseorang berbuat sesuatu, kita juga dapat menggunakan kata don’t yang merupakan singkatan dari do not.
Kata tersebut juga mengadung arti “Jangan” dalam Bahasa Indonesia. Struktur tata bahasa (grammar) yang tepat untuk menggunakan kata ini adalah:
- Don’t + Verb 1 + Adverb
Menurut struktur diatas, setelah menggunakan kata Don’t kita harus menambahkan kata kerja dasar atau kata kerja ke-1 (pertama). Seperti pada kalimat berikut:
Don’t go out lonely at night
Kalimat diatas telah mengandung susunan yang telah ditentukan sebelumnya. Setelah menggunakan kata don’t, terdapat kata kerja dasar yaitu go.
Kata kerja ini memiliki bentuk kata kerja 1, 2, dan 3-nya yakni go-went-gone. Sesuai dengan ketentuan struktur diatas, kata kerja yang dipakai adalah go.
Adapun juga bentukan lain dari kata kerja go yaitu goes, namun kata kerja tersebut sudah termodifikasi setelah bertemu dengan subjek ketiga tunggal (3rd person singular); he, she, it. Misalnya, “Here she goes again.”
Namun, karena kalimat larangan ini berasal dari kalimat perintah, kita tidak perlu menambahkan subjek atau pelaku dalam bentuk apapun di dalamnya.
Seperti pada kalimat Don’t go out lonely at night, tidak ditemukan unsur pelaku atau subject di dalamnya. Kalimat tersebut artinya ialah, “Jangan keluar malam sendirian.”
Pengucapan don’t ini, juga dapat dikaitkan dengan kata sifat (adjective). Struktur kalimatnya menjadi:
- Don’t be + adjective
Contoh kalimatnya seperti:
- Don’t be late
- Don’t be a stranger
Pada contoh kalimat-kalimat diatas, adjective yang digunakan adalah late dan a stranger. Late yang artinya terlambat dan a stranger yang berarti orang asing.
Jika diartikan secara keseluruhan, kalimat pertama bermakna, “Jangan sampai terlambat,” dan kalimat kedua bermakna, “Jangan sungkan-sungkan.”
- Mustn’t
Kata ini juga memiliki arti “jangan.” Berbeda dengan kata-kata “Jangan” sebelumnya, kata mustn’t ini tidak terletak di awal kalimat namun digunakan setelah mencantumkan subject pelaku di dalamnya.
Mustn’t ini merupakan singkatan dari must not dan dipakai di tengah kalimat. Sehingga, struktur kalimatnya adalah:
- Subject + mustn’t + verb 1 + adverb
Penggunaan kata ini, dapat dibentuk ketika bermaksud menyampaikan kata yang tidak bersifat lugas dan larangan secara langsung seperti dua kata diatas sebelumnya. Contoh kalimat serta konteksnya seperti ini:
We mustn’t forget who we are
Seperti yang dapat dikaji pada kalimat tersebut, we adalah subject-nya dan forget adalah verb dasarnya. Jika diartikan secara utuh, kalimat tersebut artinya, “kita tidak boleh lupa siapa diri kita.”
Dari maksud kalimat ini, bisa dipahami bahwa kalimat tersebut bukan merupakan larangan secara langsung dan tegas, melainkan untuk mengingatkan atau juga berupa nasihat.
Contoh kalimat lainnya yaitu:
You mustn’t go home lately
Untuk menyampaikan kalimat larangan lainnya, juga bisa digunakan seperti kalimat diatas. Agar dapat memperingati seseorang, bahkan kepada lawan bicaranya langsung, dapat menggunakan subjek you agar lawan bicara lebih merasakan peringatan yang kita sampaikan. Pada kalimat diatas bermakna, “kamu tidak boleh pulang larut malam.”
Dengan menggunakan struktur tata bahasa dan makna yang tepat, pesan larangan kepada seseorang untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan akan lebih mudah dipahami.
Hal ini juga penting dipelajari mengingat bahwa Indonesia tidak hanya berisikan warga negara Indonesia saja namun juga terdapat banyak warga pendatang.
Tentunya, terdapat selisih pada pemahaman budaya antar warga negara baik warga lokal maupun warga negara asing.
Jika kita dapat menyampaikan kalimat yang tepat kepada warga negara asing, pastinya tidak akan terjadi kesalahpahaman dan mereka akan lebih mudah untuk mengerti cara beradaptasi dengan budaya kita.
Dengan begitu, kerukunan antar sesama akan tetap terjaga dan nilai keramahtamahan kita sebagai warga negara Indonesia akan lebih dikenal lagi oleh dunia luar. (mg7/mg9/bas)
Editor : Baskoro Septiadi