Kepala Dinpertan, Agus Herawan menyampaikan, untuk melakukan penanaman sorgum ini, petani mendapatkan pendampingan dari penyuluh pertanian. Mereka diberikan bimbingan agar tanaman bisa berproduksi maksimal. “Kalau bisa produksi sorgum sendiri, maka kita tidak akan tergantung dengan sorgum impor,”katanya.
Berdasarkan data yang ada, impor sorgum atau gandum Indonesia masih sekitar 11,6 juta ton. Artinya, sekitar 40 persen dari total produksi beras nasional. Indonesia masih tergantung dari pasokan impor gandum dari 5 penghasil terbesar. Impor gandum. Indonesia belakangan ini mencapai 4,3 juta ton, maka dengan situasi tersebut diperlukan langkah untuk menggantikan gandum, contohnya singkong, sagu maupun sorgum.
Menurut Agus, pendampingan petugas pertanian terhadap petani sorgum dilakukan mulai sejak awal penanaman hingga pasca tanam. Termasuk, agar produksi sorgum agar bisa diserap pasar, maka perlu pendampingan tersebut.
Sorgum mengandung protein yang baik untuk membantu konsumen dalam mengatur diet. “Juga mengandung serat baik untuk pencernaan,”katanya. Agus menambahkan, lantaran sangat banyak manfaatnya, maka sorgum dibudidayakan petani termasuk mengatasi atau memperkuat ketahanan pangan daerah maupun nasional. (hib/web/bas) Editor : Agus AP