Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Pilkades di 182 Desa, Sempat Ricuh Antartimses

Agus AP • Senin, 17 Oktober 2022 | 15:36 WIB
Kedua massa pendukung saling berseteru di Desa Krajan Bogo, Kecamatan Bonang. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Kedua massa pendukung saling berseteru di Desa Krajan Bogo, Kecamatan Bonang. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Demak - Sebanyak 182 desa di Kabupaten Demak secara serentak menggelar pemilihan kepala desa (Pilkades) pada Minggu (16/20) kemarin.

Pilkades diikuti 472 calon kepala desa (cakades). Terdiri atas 423 laki-laki dan 49 perempuan. Dari jumlah itu, tercatat ada 119 incumbent atau petahana.

Secara umum, Pilkades berlangsung lancar. Hanya ada sejumlah desa yang sempat diwarnai kericuhan. Di antaranya, kericuhan terjadi di Desa Krajanbogo, Kecamatan Bonang dan Desa Tlogorejo, Kecamatan Wonosalam.

[irp posts="399684" ]

Camat Bonang Haris Wahyudi menyampaikan, kericuhan diduga diawali dari bertemunya dua massa masing-masing pendukung nomor 1 (M Syarif) selaku incumbent dan nomor 2 (Sutikno). Karena area masuk ke lokasi pemilihan agak sempit, sehingga kedua massa tidak bisa leluasa berjalan.

"Keduanya saling mendahului. Sudah kami ingatkan. Sempat adu fisik, tapi tidak ada yang luka. Mereka berhasil dilerai petugas keamanan. Tim Dalops Polres Demak langsung datang ke lokasi untuk meredakan. Alhamdulillah, semua bisa diatasi," katanya.

Menurutnya, Pilkades Desa Krajan Bogo sebelumnya sempat menjadi perhatian dan masuk kategori sangat rawan. Embrio kerawanan itu sudah terjadi sejak awal, utamanya saat pengambilan nomor urut cakades. Hal itu berlanjut saat masa kampanye. Namun, petugas berhasil mengimbau agar tidak ada massa dalam kampanye. "Nah, kericuhan justru terjadi ketika berdesak-desakan mau masuk lokasi pemilihan,"katanya.

Di Desa Tlogorejo, Kecamatan Wonosalam pendukung internal nomor 1 (Ahmad Muzaki Adamawi) juga sempat mengalami kericuhan. Yaitu, ketika Ustadz Muharor, pengasuh pondok pesantren setempat hendak mau menggunakan hak suaranya dengan dikawal para santri-santrinya.

Camat Wonosalam, Sri Utami menuturkan, kericuhan diduga dipicu oleh janji cakades yang akan memberikan sejumlah uang namun tidak dipenuhi. Akhirnya, Ustadz Muharor tetap ke tempat pemungutan suara (TPS) dengan dikawal santrinya. "Terjadilah gesekan itu. Namun, masalah itu langsung bisa diselesaikan oleh petugas keamanan. Situasi tetap kondusif," ujarnya.

Bupati Demak dr Eistianah saat melakukan tinjauan ke Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam menyampaikan, pihaknya telah menerima laporan kejadian kericuhan yang terjadi tersebut. "Kericuhan terjadi diduga karena adanya gap antartim sukses yang saling menghalangi. Namun, semua sudah bisa diselesaikan dengan baik," katanya.

Kapolres Demak AKBP Budi Ady Buono mengatakan, gesekan massa antara pendukung cakades nomor 1 Syarif dan cakades nomor 2 Sutikno terjadi di jalan depan masuk TPS Desa Krajan Bogo. Kejadian berlangsung sekitar pukul 06.30.

Menurutnya, sekitar pukul 05.30, cakades nomor 1 dan pendukungnya sudah sampai di lokasi. Kemudian, pukul 06.20, cakades nomor 2 datang dengan pendukungnya. Pada pukul 06.30 terjadi saling orasi antara kedua pendukung cakades hingga saling dorong mendorong yang menyebabkan keributan sekitar 10 menit. Kejadian itu langsung dikendalikan petugas keamanan yang sedang bertugas di TPS.

Dalam perkembangannya, pukul 07.00, petugas BKO dari Jepara dan Kapolsek Bonang datang dan langsung melakukan mediasi antara pimpinan kedua pendukung.

"Pukul 07.15 kami berikan arahan kepada tim sukses nomor 1 dan 2 untuk saling menjaga situasi kamtibmas. Dan, kedua pihak sepakat," kata kapolres. Untuk mengamankan situasi, dilokasi tetap disiagakan 1 peleron Dalmas untuk memperkuat pengamanan di Krajan Bogo.

Pilkades Serentak, Sediakan Doorprize Motor dan Umrah

Potret warna-warni pemilihan kepala desa (Pilkades) di wilayah Kabupaten Demak ini cukup unik. Kreativitas calon kepala desa (Cakades) muncul mengiringi proses demokrasi lokal di Kota Wali tersebut. Berbagai cara dilakukan untuk menarik minat warga agar bersedia menggunakan hak pilihnya.

Warga yang memiliki hak pilih diberikan uang transport dengan besaran variatif. Informasi yang beredar di lapangan menunjukkan, ada yang memberikan Rp 50 ribu. Adapula yang Rp 200 ribu, Rp 300 ribu, Rp 400 ribu, hingga Rp 500 ribu. Bahkan, ada yang nyawer hingga Rp 1,2 juta per orang.

Selain itu, ada yang memberikan iming-iming hadiah atau doorprize. Berupa sepeda motor, kulkas, televisi, sepeda sehat hingga hadiah umroh ke tanah suci. Hanya saja, doorprize baru diundi setelah cakades menang dan dilantik.

Di Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam misalnya. Ada tiga cakades yang maju dalam pilkades kali ini. Yaitu, Sunarto (nomor 1), Dennis Bhakria (nomor 2) dan Samsul Huda (nomor 3). Untuk menyemangati pemilihnya, cakades nomor 2 menyediakan doorprize berupa sepeda motor, dua sepeda mesin cuci dan kulkas. Sedangkan, cakades nomor 3 mengusung hadiah berupa umrah untuk dua orang ke tanah suci. Hadiah langsung ditampilkan atau dibawa ke lapangan dekat TPS tempat mencoblos.

Faizin, selaku tim sukses (timses) nomor 2 mengungkapkan, doorprize baru akan diundi ketika cakades terpilih dan telah pelantikan dilakukan. "Itu sebagai bentuk syukuran yang nanti kita kemas dengan jalan sehat," katanya.

M Deby Rizani, selaku ketua tim pemenangan cakades nomor 3 mengatakan, hadiah umrah juga akan diwujudkan setelah calonnya terpilih dan dilantik. "Setelah itu kita undi," katanya.

Mereka yang mendapatkan adalah masyarakat secara umum. Menurutnya, hadiah umrah tersebut sebagai bentuk penyemangat warga dalam menggunakan hak pilihnya.

Hadiah doorprize juga marak di desa-desa lainnya. Di Desa Pasir, Desa Pidodo, Kecamatan Karangtengah dan desa-desa lainnya. Bahkan, ada yang menyiapkan hingga 7 sepeda motor untuk pemilih.

Terkait dengan fenomena maraknya pemberian uang transport dan doorprize dalam pilkades serentak ini, Bupati Eistianah menyampaikan, bahwa hal itu bukanlah money politics. "Tidak ada money politics. Kalaupun ada, itu barangkali diniatkan sebagai uang transport atau sodakoh (sedekah) agar masyarakat antusias datang ke TPS menggunakan hak pilihnya," ujarnya. Bupati pun berharap, pilkades berlangsung aman, lancar, dan kondusif. (hib/ida) Editor : Agus AP
#top #Pilkades demak #PILKADES