RADARSEMARANG.ID, Semarang - Bagi pengusaha karangan bunga rezekinya mengalir bersumber dari orang yang punya hajat.
Mulai dari hajat penuh kebahagiaan seperti pernikahan, wisuda, promosi jabatan, bahkan hingga kematian.
Apalagi ketika yang bersangkutan merupakan tokoh publik yang tersohor. Pasti banjir orderan bak durian runtuh.
Hal tersebut dialami salah satu pengusaha karangan bunga Manggar Florist Sri Ningsih. Menurutnya sudah menjadi fitrahnya manusia. Dibalik musibah orang lain, selalu ada berkah bagi pihak lainnya.
Meski begitu, dirinya tidak terlalu memperdulikan mengais rezeki dari musibah orang lain. Terutama meninggalnya tokoh publik yang dikenal masyarakat luas.
“Ya memang jalan rezekinya. Bukan berarti kita bahagia diatas penderitaan orang lain dan berharap kematian terhadap orang. Itu sudah menjadi keniscayaan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang pada Kamis (21/9) di toko bunga miliknya Jalan DR. Sutomo, Randusari Semarang.
Meski demikian, terkadang ketika mengetahui seseorang yang dikenalnya apalagi tokoh publik rasa bela sungkawa tetap mengalir. Seperti orang tua ataupun kerabat hingga saudara pejabat publik.
Namun jika tak mengenal tetap merasa biasa saja. Tanggung jawabnya hanya membantu membuatkan ucapan terindah kepada orang yang telah berpulang.
Sri Ningsih sudah menekuni usaha karangan bunga sejak 1988. Perempuan 56 tahun itu sudah paham betul.
Perjalanan usahanya bergantung pada momen ketika orang lain punya hajat hingga meninggal dunia. Apalagi pejabat. Selalu ada pasang surut orderan karangan bunga.
“Kalau sedang ramai kisaran 20-40 orderan. Biasanya pernikahan atau meninggalnya saudara atau orang tua tokoh penting,” jelasnya.
Ia pernah mengalami ketika surut hanya mendapat 15 orderan selama satu bulan. Diakuinya, toko karangan bunga menjadi langganan Sekda Kota Semarang.
Selain itu juga pernah Walikota dan Dinas Penataan Ruang Kota Semarang ketika mereka punya kepentingan menyampaikan ucapan selamat atau duka.
“Dulu pernah mengirimkan 50 karangan bunga sekaligus saat orang tuanya Pak Hendi (Mantan Walikota Semarang) meninggal. Juga ketika ibunya Mbak Ita meninggal itu ngirim 15 ke Jogjakarta,” terangnya.
Rata-rata, lanjut Sri Ningsih, pengerjaan satu karangan bunga menghabiskan waktu sekitar satu jam. Tergantung tingkat kesulitan dan permintaan klien.
Harga karangan bunga paling murah saat ini dibanderol Rp 450 ribu. sedangkan yang paling mahal bisa mencapai Rp. 1,5 juta atau sesuai permintaan pelanggan.
“Kalau ramai pengerjaan bisa dari pagi hingga petang dikeroyok oleh enam pegawai,” pungkasnya. (mia/fth)
Editor : Baskoro Septiadi