RADARSEMARANG.ID - Dokter masih menjadi salah satu profesi yang diimpi-impikan anak muda Indonesia.
Meskipun untuk menjadi dokter sering diklaim butuh biaya besar, tapi pendaftar fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi selalu membludak.
Bahkan di Kota Semarang, sejumlah perguruan tinggi berbondong-bondong membuka Fakultas Kedokteran (FK).
Saat ini, setidaknya sudah ada lima perguruan tinggi di Kota Semarang yang sudah membuka FK.
Dimulai dari Universitas Diponegoro (Undip) yang telah menerima mahasiswa FK pada 1961.
Dua tahun berselang, giliran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) yang membuka pendidikan untuk dokter.
Satu dekade setelah reformasi atau 2008, giliran Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) ikut membuka FK.
Disusul kemudian Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) pada 2016 dan Universitas Katolik (Unika) Sogijapranata di 2019.
Tidak sampai di sini, sejumlah perguruan tinggi di Semarang saat ini juga diketahui sedang mempersiapkan diri untuk membuka FK. Universitas Negeri Semarang (Unnes) termasuk di dalamnya.
Bahkan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo yang selama ini dikenal sebagai perguruan tinggi dengan latar belakang pendidikan agama juga siap-siap membuka FK.
Selain itu, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) dan Universitas Semarang (USM) dikabarkan juga tak mau kalah.
Wakil Rektor 1 Unwahas Andi Purwono mengungkapkan, kebutuhan dokter di Indonesia besar. Rasio dokter dan penduduk belum ideal.
Mengutip data World Health Organization (WHO) yang dihimpun Index Mundi, lanjut Andi, pada 2019 Indonesia hanya memiliki rasio 0,47 dokter per 1.000 penduduk.
"Pada 2022, dengan membandingkan data jumlah dokter dan total jumlah penduduk Indonesia terbaru, angka rasionya naik menjadi sekitar 0,63 dokter per 1.000 penduduk. Standar ideal WHO, yakni satu dokter per 1.000 penduduk," katanya.
Minimnya dokter di Indonesia ini yang melatarbelakangi Unwahas membuka program studi Sarjana Kedokteran dan Profesi Dokter.
Setiap tahun, Unwahas menerima 50 mahasiswa baru dari sekitar 250 pendaftar.
Setidaknya sudah ada 35 alumni yang sudah resmi menyandang gelar dokter.
"Mereka tengah mengikuti internship di berbagai daerah termasuk luar Jawa seperti NTB (Lombok) dan NTT," tuturnya.
FK Unwahas bekerjasama dengan rumah beberapa sakit pemerintah untuk rumah sakit pendidikan utama dan rumah sakit jejaring lain sesuai aturan penyelenggaraan Pendidikan dokter.
Selain jejaring beberapa RS di Semarang dan Tegal, Unwahas juga tengah membangun rumah sakit sendiri.
Wakil Rektor Akademik Kemahasiswaan dan Alumni Unika Soegijapranata Berta Bekti Retnawati juga menyatakan tenaga medis di Indonesia dibutuhkan di tempat-tempat terpencil, yang tidak memiliki banyak akses.
"Itu semangat kami punya semangat pelayanan yang terluar, tidak diperhatikan, terdepan. Kami menanamkan ke mahasiswa kedokteran, values-nya itu. Kami bukan mencari penghasilan setinggi-tingginya tapi melayani," katanya pada Jawa Pos Radar Semarang.
Ia mengungkapkan, saat ini sudah ada 32 mahasiswa Strata 1 yang lulus dengan gelar sarjana kedokteran atau S.Ked.
"Sedangkan untuk lulusan dokter profesi belum karena angkatan pertama kami masih coass, baru 6 bulan. Jadi masih 1,5 tahun lagi," ujarnya.
Saat ini, lanjutnya, pihaknya masih membangun gedung fakultas setinggi tujuh lantai di BSB Mijen.
Selain itu, sebagai fakultas kedokteran, tentu perlu memiliki rumah sakit pendidikan sendiri, RS itu juga dalam proses pembangunan.
Rencananya, dua tahun ke depan bisa dioperasionalkan.
Sedangkan untuk kerjasama dengan rumah sakit pendidikan saat ini dilakukan dengan RS Soewondo Kendal.
Rektor Unnes Prof. S. Martono pada Maret 2023 lalu mengatakan, kampus di Sekaran Gunungpati ini dalam waktu dekat bakal memiliki program studi kedokteran.
Saat ini pengajuan izin masih terus berproses.
Januari lalu, tim dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) melakukan visitasi dalam rangka penilaian kelayakan Calon Program Studi Pendidikan Dokter Unnes.
"Jadi sebelum PTNBH sudah usul Prodi Kedokteran bahkan ada Plt Dekan sejak 20 Oktober 2022 jadi PTN BH, skema pengusulan berubah bukan di Kemendikbud tapi di Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes). Sistem berubah harus mulai lagi," katanya Martono Maret lalu.
Menurut Martono sarana prasarana Prodi Kedokteran saat ini sudah siap.
Tapi pihaknya masih menunggu kelengkapan izin untuk bisa mulai menerima mahasiswa baru.
Majelis Wali Amanat (MWA) Unnes memberikan rekomendasi pembentukan Fakultas Kedokteran pada 5 Januari 2023 dan Rektor menandatangani Pendirian Fakultas Kedokteran pada 17 Januari 2023.
Pelantikan Dekan dan Wakil Dekan juga telah dilakukan pada Mei lalu.
Dihubungi terpisah, Dekan Fakultas Kedokteran Unnes Prof. Mahalul Azam menjelaskan sarana prasarana dan SDM serta kurikulum sudah dirancang Unnes sejak beberapa tahun lalu.
Untuk rumah sakit pendidikan, lanjut dia, pihak Unnes bekerjasama dengan RSUD Kudus.
Bulan ini, Unnes telah mengantongi rekomendasi dari Kemenkes. Sementara rekomendasi dari tim Konsil sudah dikantongi Januari lalu.
UIN Walisongo juga sudah bersiap mulai membuka FK.
Setidaknya sudah ada 41 dokter yang akan bergabung menjadi dosen di UIN Walisongo.
Pada 14 Mei 2023, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bahkan sudah meninjau kesiapan FK UIN Walisongo.
Ditargetkan FK sudah bisa menerima mahasiswa baru pada 2024.
Di Udinus, pada 4 Maret 2023 telah diresmikan renovasi gedung FK dan pada Mei 2023 digelar bimtek sebagai persiapan pembukaan FK.
Bukan Saingan, Tapi Mitra Kolaborasi
Banyaknya perguruan tinggi yang membuka Fakultas Kedokteran, tidak dianggap sebagai saingan.
Para pengelola FK berharap mereka bisa kolaborasi untuk menciptakan dokter-dokter yang kompeten dan berkualitas.
Dekan Fakultas Kedokteran Unimus dr Wahju Budi Martono mengatakan, banyaknya FK di Semarang bukan saingan, tetapi menjadi mitra.
Bahkan pihaknya juga dimintai bantuan perguruan tinggi lain yang ingin membuka FK.
"Unnes berkonsultasi kepada kami, Udinus juga seperti itu. Semua ini mitra bukan saingan. Agar kami selalu berbenah dan memperbaiki diri agar tidak tertinggal dari FK lainnya," katanya.
Muhammadiyah memiliki banyak amal usaha di bidang kesehatan, baik itu klinik maupun RS PKU Muhammadiyah yang tersebar di Indonesia.
Berbagai fasilitas kesehatan ini masih kekurangan dokter.
Unimus memiliki berbagai fakultas kesehatan, seperti FK, Fikes, dan FKG.
Untuk melengkapi fasilitas pendidikan, didirikan Rumah Sakit Unimus selain bekerjasama dengan RS lain. Ada tiga tower, kata dia, yang difungsikan masih dua tower.
"Rencananya RS Unimus akan difungsikan menjadi rumah sakit tipe B untuk rumah sakit pendidikan. Jangka dekat ini akan RS tipe B dulu. Dengan adanya RS Unimus, mahasiswa kesehatan dapat praktik di sana," katanya.
Kebutuhan lulusan Fakultas Kedokteran di Indonesia masih cukup tinggi.
Unissula juga tak khawatir dengan maraknya FK di Semarang. Semua punya pangsa pasarnya sendiri-sendiri.
"Sehingga tidak perlu khawatir dengan persaingan hadirnya FK baru, justru menjadi sebuah peluang bagi kedokteran Unissula untuk semakin menunjukkan kualitas layanan pendidikannya yang saat ini sudah diakui di level nasional," kata Kepala UPT Pemasaran dan Kehumasan Unissula Setiawan Widyoko.
Menurutnya, calon mahasiswa harus jeli memilih FK yang berkualitas.
Mereka bisa membandingkan fasilitas, sumber daya manusia dosen, akreditasi, rekam jejak dan lain-lain.
"Fasilitas untuk belajar mengajar dan laboratorium sangat lengkap. FK Unissula juga memiliki teaching hospital yang berakreditasi unggul memfasilitasi mahasiswa koas sehingga kalau mereka praktik atau koas di rumah sakit lainnya sudah teruji kualitasnya," jelasnya.
Wakil Rektor 1 Unwahas Andi Purwono mengatakan, banyaknya perguruan tinggi yang membuka FK justru bisa menjadi pemacu kolaborasi, perbaikan, dan kemajuan.
"Masing-masing PT memiliki segmen pasar utama seperti Unwahas yang peminat utamanya kalangan Nahdliyyin, meskipun terbuka bagi semua agama," jelasnya.
Wakil Rektor Akademik Kemahasiswaan dan Alumni SCU Unika Soegijaptanata Berta Bekti Retnawati juga tidak khawatir dengan menjamurnya FK di Kota Semarang.
“Bukan menjadi soal. Justru hal itu dijadikan ajang kolaborasi antarkampus,” katanya. (fgr/ifa/den/ton)
Editor : Agus AP