Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Makam Waliyullah di Kawasan Pendopo Kabupaten, Perlu Ditata dan Diajeni Biar Mbarokahi

Agus AP • Rabu, 26 April 2023 | 13:56 WIB
PENDIRI DEMAK : Makam Raja Demak pertama Sultan Fatah yang berada di belakang Masjid Agung Demak. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENDIRI DEMAK : Makam Raja Demak pertama Sultan Fatah yang berada di belakang Masjid Agung Demak. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID-Pendopo Kabupaten Demak yang terletak di Jalan Kiai Singkil Nomor 7, Kota Demak memiliki sejarah panjang. Pendopo yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan ini dikelilingi makam para waliyullah.

Sayangnya, makam para wali ini tidak mendapatkan perhatian semestinya dari Pemkab Demak. Makam dibiarkan tak terurus.

Bahkan, ada pula yang dihilangkan nisannya sehingga sulit dilacak keberadaannya bagi generasi muda yang minim literatur sejarah lokal Demak.

Pengamat sejarah dan penelusur makam Waliyullah se-Jawa, Kiai Sodikin menuturkan, Pendopo Kabupaten Demak antara lain ditandai dengan adanya sejumlah makam tua.

Yaitu, makam Syeh Mughni. Ia tercatat sebagai panglima angkatan darat Keraton Demak Bintoro era Sultan Fatah. Makam Syekh Mughni sendiri berada di belakang Kantor Inspektorat dan Dinas Perizinan.

Makam lainnya adalah makam Syeh Abdul Qodir atau dikenal dengan sebutan Mbah Palembang. Ia menjabat sebagai penasehat Sultan Fatah.

Adapula makam Kiai Singkil atau Raden Bagus Kuningan. Yang bersangkutan wafat di usia  9 tahunan.

Ia meninggal saat berenang di Kali Tuntang Lama saat ditinggal ayahnya ikut membangun Masjid Agung Demak. Jasad Kiai Singkil tergeletak di atas daun atau pohon singkil.

Kiai Singkil merupakan anak dari Syekh Abdurrahman yang makamnya berada di belakang Kelenteng Pecinan. Syekh Abdurrahman adalah putra dari Syekh Abdul Jalil  atau Sunan Jepara.

Adapun, istrinya bernama Roro Ayu Kusumoningrum anak dari Sunan Gunung Jati. Sehingga Kiai Singkil termasuk cucu dari Sunan Gunung Jati dan Sunan Jepara.

Makam lain adalah makam Mbah Lajer atau Syekh Maksum. Akses ke makam bisa lewat jalur kecil Kantor Dinputaru Demak.

Makam berada di belakang kantor dinas wakil bupati Demak. Peran Mbah Lajer sebagai Senopati keraton Demak zaman Sultan Fatah.  Dalam tugas, ia termasuk bawahan dari Syekh Mughni selaku panglima tertinggi.

Kemudian, di dalam Pendopo Kabupaten Demak juga terdapat makam Ki Ageng Suro Kusumo dan istrinya, Nyai Roro Ayu Sundari.

Ia adalah tokoh Majapahit yang bertugas sebagai penata keraton Demak Bintoro. Titelnya adalah insinyur dan merupakan  kakek buyut Sunan Kalijaga.

Mbah Suro masih keturunan Patih Ronggolawe. Posisi makamnya tepat di ruang salah satu kamar di Pendopo sebelah timur.

Dulu, pernah ditempati Bupati Natsir. Sebelumnya pernah dibuat tempat angklung.

Juga ada makam Syeh Muslih An Nabawi. Tepatnya di depan gedung sekretariat daerah (setda). Yaitu, berada di bawah  pohon asam.

Jabatannya adalah penata utama keraton Demak pendatang dari Madinah. Ia termasuk Wali Arab. Angkatan Syekh Jumadil Kubro.

Lalu, ada malam Kiai Jebat atau Syekh Ahmad  Abdullah. Posisi makam ada di belakang Polres lama jalan Bhayangkara Kota Demak.

Kiai Jebat berasal  dari Madura dibawa Kiai Sampang atau Syekh Angling Darmo yang bertugas sebagai agul-agul (keamanan) atau panglima pangarep (terdepan) urusan perang era Sultan Fatah.

Juga ada makam  Pangeran Su'ud atau Mbah Qosim. Dulu menjabat sebagai  hakim keraton Demak. Ia juga ssli keturunan dari Madura. Keturunan Syekh  Syamsudin Batuampar Madura.

Masih tercatat sebagai santri dari  Patih Wonosalam. Pangeran Su'ud merupakan keturunan dari Syeh Abdurrahman  Sumenep Madura. Ia yang menemukan makam Syekh Yusuf keturunan dari jazirah Arab.

"Demak ini dikelilingi para wali dan sayid dari jazirah Arab. Seharusnya siapapun yang memimpin Demak mestinya bisa menghormati atau ngajeni keberadaan makam para Auliya ini. Demak ada, ya salah satunya peran beliau-beliau ini,"ujarnya

Cara ngajeni antara lain bisa digelar doa tahlil bersama tiap hari tertentu. Tiap malam Jumat atau malam Senin di Pendopo.

Juga bisa ditandai dengan haul dan menata makam-makam sepuh tersebut. Dengan ditata sedemikian rupa, maka warga juga bisa berziarah di makam para Waliyullah tersebut.

Makam lain adalah makam Syekh Sahid atau Mbah  Panebah yang bertugas sebagai jaksa keraton. Juga ada wali pembantu.

Yaitu, Syekh Abdul Kholil.  Makam lain ada di seberang kantor BRI Demak. Yaitu, makam Ki Gede Karang. Sekarang dikenal dengan Kampung  Karangbayan. Ia masih keturunan Majapahit.

Di kawasan Kracaan Kota Demak tepatnya di Kampung Bitingan ada makam dalam gudang garam. Yakni, makam Ki Ageng Wonoboyo.  Murid kesayangan Sunan Kalijaga yang khusus mengurusi buaya putih Kalijajar.

Di wilayah Singorejo tepatnya di tikungan ada  makam Simbah  Wibisono atau Syekh . Syafii. Dulu, sebagai senopati pembantu Sultan Fatah.

Kemudian, di jalan Nurcahya, Masjid Taqwa ada makam Kiai Soleh, guru ngaji keraton. Ada pula makam  Mbah Timbul belakang kantor pajak yang lama.

Di sebelah barat ada makam Surogenen alias Kiai Sekar Dadu. Makamnya di bawah pohon asam.  Dulu, adalah santri  Sunan Kalijaga. Bertugas sebagai pengawas keraton.

"Jadi, pengamanan keraton Demak dulu berlapis. Kalo mau ngadep sultan harus melewati pos penjagaan yang ada,"katanya. (hib/ap) Editor : Agus AP
#Makam Kiai Singkil #Jalan Kiai Singkil #Raden Bagus Kuningan #Mbah Lajer atau Syekh Maksum #Makam Waliyullah