Oleh: ISKANDAR
GM RADAR SEMARANG
RADARSEMARANG.ID, Hari ini Radar Semarang genap berusia 26 tahun. Usia yang jika diibaratkan manusia, sedang berada di fase dewasa awal. Artinya, tidak lagi muda, tapi juga belum lelah untuk terus bertumbuh.
Saya yang ikut membersamai sejak terbit perdana pada 1 April 2000, punya satu rasa yang terus berulang: rasa syukur. Karena sampai hari ini, media yang Anda baca ini, masih bertahan, di tengah gempuran media sosial yang setiap hari seperti membawa arus informasi yang kadang sulit dibedakan mana yang jernih, mana yang keruh.
Di tengah riuh itu, apalagi setelah pemilu presiden yang menyisakan keterbelahan masyarakat, hoaks bertebaran ke mana-mana. Informasi sering kali tidak lagi berdiri di atas fakta, tapi di atas kepentingan. Dalam situasi seperti itu, Radar Semarang memilih untuk tetap waras. Tidak ikut larut menjadi bagian dari arus yang menyesatkan.
Baca Juga: Pelaksanaan Ujian Sumatif di Kabupaten Semarang Jadi Otonomi Masing-masing Sekolah
Prinsip cover both side tetap kami jaga. Verifikasi wajib menjadi pegangan. Mungkin terdengar klise, tapi justru itu yang membuat Jawa Pos Radar Semarang bisa bertahan. Karena kami percaya bahwa pada akhirnya, kepercayaan pembaca tidak dibangun dari sensasi, tapi dari konsistensi.
Jujur saja, godaan membuat sensasi selalu ada, ketika pageview sering diperlakukan seperti nyawa. Konten yang viral, meski setengah matang, kadang terasa lebih seksi dibanding berita yang harus diverifikasi berlapis.
Alhamdulillah, sejauh ini, Radar Semarang masih memilih jalan yang on the track. Tetap jadi media arus utama yang bekerja dengan profesionalisme, akurasi, dan verifikasi. Menjadi penjernih di tengah kabut informasi.
Di newsroom, standar itu bukan sekadar slogan. Setiap informasi yang diproduksi kawan-kawan jurnalis harus tunduk pada kode etik, menjaga independensi, dan punya arah. Artinya, tidak sekadar ramai, tapi juga bermakna. Kami sadar, media sosial bergerak cepat, sering kali tanpa rem. Sementara, kami harus tetap cepat, tapi juga hati-hati.
Baca Juga: Polres Salatiga Siagakan 5 Pos Pengamanan dan Pelayanan untuk Mudik Lebih Awal
Barangkali itu yang membuat Radar Semarang masih dipercaya. Baik oleh kalangan swasta maupun pemerintah, dari kota hingga pemerintah provinsi. Kami tidak hanya menyampaikan informasi. Tapi juga ikut menjaga agar komunikasi publik tetap sehat.
Saya teringat satu momen ketika bertemu Sekda Provinsi Jawa Tengah, Bapak Sumarno. Waktu itu kami mengundang beliau untuk hadir dalam Abdi Nagari Award 2025. Dalam obrolan, beliau menyampaikan kegelisahan yang sama: begitu banyak informasi yang beredar, tapi tidak semuanya sesuai dengan fakta di lapangan.
Dalam konteks itu, beliau melihat kami, Radar Semarang, punya peran penting. Yakni, menyampaikan kebijakan secara utuh, menghindari salah tafsir, dan memastikan publik menerima informasi yang benar. Dari situ terasa, sinergi itu bukan sekadar kerja sama. Tapi kebutuhan bersama, untuk meredam hoaks dan menjaga ruang publik tetap sehat.
Hari ini, peran Radar Semarang juga tidak lagi sesederhana menyajikan berita. Kami tumbuh menjadi media multiplatform (koran, online, media sosial, hingga televisi). Tapi lebih dari itu, kami juga ikut mengambil peran sebagai penggerak komunitas, bahkan ikut membangun citra daerah.
Baca Juga: Puluhan Tahun Jadi Pembaca Setia Koran
Salah satu contohnya Lomba Kampung Hebat di Kota Semarang. Itu bukan sekadar even, tapi ruang bagi warga untuk menunjukkan kreativitasnya. Dari sana lahir kampung-kampung dengan identitasnya sendiri, hasil dari inisiatif warganya. Buat kami, itu salah satu bentuk nyata bahwa media juga bisa ikut memberdayakan.
Di sisi lain, kami juga berjalan bersama dunia usaha, pendidikan, kesehatan, UMKM, dan banyak sektor lain. Membantu mereka bertumbuh lewat publikasi yang tidak sekadar promosi, tapi juga bercerita.
Karena itu, di usia ke-26 ini, kami mengusung tema: Satukan Tekad, Maju Bersama. Ini bukan sekadar slogan. Melainkan cerminan dari cara kami berjalan bersama mitra, bersama pembaca, bersama siapa pun yang percaya pada pentingnya informasi yang sehat.
Bagi saya pribadi, Radar Semarang tidak sekadar tempat bekerja. Ia lebih mirip sekolah kehidupan. Tempat belajar jatuh-bangun, belajar bertahan, dan belajar memahami arti proses.
Sebagai perusahaan, Radar Semarang juga tidak hanya bergantung pada asupan iklan. Ia hidup karena mau terus bergerak, terus mencari cara. Saat beberapa media memilih berhenti, kami justru dipaksa mencari jalan lain.
Ada aturan-aturan yang kadang terasa keras. Fokus penuh pada perusahaan, tidak boleh rangkap peran yang mengganggu di luar jam kerja. Juga tidak mencari panggung di luar. Semua energi diarahkan ke satu tujuan: memastikan Radar Semarang tetap tumbuh.
Memang, di titik tertentu itu bisa berbenturan dengan idealisme. Tapi pada akhirnya, kami sepakat pada satu hal yang paling mendasar: yaitu bertahan. Dari situlah lahir banyak inovasi.
Event penghargaan, Kampung Hebat, pelatihan menulis untuk guru, lomba kuliner, sampai berbagai kegiatan yang bahkan tercatat di rekor MURI. Banyak yang kemudian mengikuti, tapi kami sudah lebih dulu memulainya.
Hari ini, semangat itu masih ada. Radar Semarang terus bergerak, juga terus tumbuh. Dan satu hal yang sering luput disebut, tapi penting adalah kesejahteraan karyawan tetap terjaga. Di saat ada perusahaan media lain yang terseok, Jawa Pos Radar Semarang masih berdiri dengan ritmenya sendiri.
Baca Juga: Dari Madol ke Media Sosial: Ketika Warga Mulai Bertindak dan Kegelisahan Hidup di Gotham City
Jika harus diibaratkan, Radar Semarang adalah sebuah rumah. Dihuni oleh orang-orang yang saling menguatkan. Hampir tidak ada sekat. Tidak ada friksi antarkaryawan, apalagi egoisme antardivisi. Setiap ada gawe besar, misalnya, semua karyawan guyub. Semua turun tangan. Kami terbiasa mengerjakannya bersama. Kami saling paham. Saling jaga.
Dan tentu saja, rumah ini tidak berdiri hanya karena penghuninya. Ada keluarga di belakangnya yang diam-diam memberi doa dan dukungan.
Karena itu, di ulang tahun ke-26 ini, kami ingin merayakannya bersama mereka. Melalui halal bihalal, mengundang keluarga besar karyawan. Mumpung suasana Idulfitri, masih sangat hangat. Insya Allah digelar pada Minggu, 5 April 2026, di halaman belakang kantor.
Sederhana saja. Tapi hangat. (*)
Editor : Tasropi