RADARSEMARANG.ID, Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts).
Penunjukan ini mengakhiri spekulasi panjang setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.
Pengumuman dilakukan melalui televisi negara Iran pada Minggu malam waktu setempat (atau Senin pagi WIB).
Majelis Ahli menyebut keputusan itu diambil melalui "pemungutan suara yang tegas" (decisive vote).
Ribuan warga Iran turun ke jalan di Teheran dan kota-kota besar lainnya untuk merayakan pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru, meski situasi keamanan masih tegang akibat eskalasi konflik regional.
Siapa Mojtaba Khamenei? Profil Singkat Pemimpin Tertinggi Iran Ketiga
Mojtaba Hosseini Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran, sehingga berusia 56 tahun pada 2026.
Ia adalah putra kedua dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei dan istri Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh.
Sebelum menjadi Pemimpin Tertinggi, Mojtaba dikenal sebagai figur bayangan yang sangat berpengaruh di balik layar:Menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Politik dan Keamanan di Kantor Pemimpin Tertinggi sejak 1999.
Memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij.
Sering disebut sebagai "otak" di balik kebijakan keamanan internal dan penindasan demonstrasi besar-besaran di Iran.
Meski tidak pernah memegang jabatan publik resmi atau dipilih melalui pemilu, Mojtaba telah lama dianggap sebagai calon kuat pengganti ayahnya.
Pernikahannya dengan Zahra Haddad-Adel (putri mantan ketua parlemen Gholam-Ali Haddad-Adel) semakin memperkuat posisinya di kalangan elit ulama garis keras.
Sayangnya, istrinya juga tewas dalam serangan yang menewaskan ayah mertuanya.
Konteks Penunjukan di Tengah Konflik Besar
Penunjukan Mojtaba Khamenei terjadi hanya beberapa hari setelah kematian ayahnya pada 28 Februari 2026, dalam gelombang pertama serangan AS-Israel yang menargetkan kompleks pemimpin tertinggi di Teheran.
Konflik ini telah menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur minyak, kilang, dan fasilitas desalinasi di Iran serta wilayah Teluk.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa penunjukan putra Khamenei sebagai pemimpin baru "tidak dapat diterima" dan mengklaim AS harus terlibat dalam proses suksesi.
Namun, Iran mengabaikan pernyataan tersebut dan melanjutkan penunjukan internal.
Para analis menilai pemilihan Mojtaba menandakan kelanjutan kebijakan garis keras ayahnya: dukungan kuat terhadap "poros perlawanan" (Hizbullah, Hamas, Houthi), program nuklir, dan penolakan terhadap negosiasi dengan Barat.
Di sisi lain, beberapa pengamat mempertanyakan legitimasi dinasti dalam sistem Republik Islam, karena Mojtaba tidak memiliki prestise keilmuan Syiah setinggi ayahnya.
Reaksi Dunia dan Prospek ke Depan
Militer IRGC dan pejabat senior Iran langsung menyatakan kesetiaan kepada Mojtaba Khamenei.
Di Teheran, warga merayakan pengumuman dengan sorak sorai, meski banyak yang khawatir eskalasi perang semakin parah.
Israel dan AS terus melancarkan serangan, dengan ancaman bahwa setiap pemimpin pengganti juga akan menjadi target.
Dengan stok uranium yang diperkaya tinggi dan militer yang sedang berperang, masa kepemimpinan Mojtaba Khamenei diprediksi penuh tantangan.
Apakah ia akan mampu menjaga stabilitas rezim di tengah sanksi ekonomi, kerusakan infrastruktur, dan tekanan militer dari luar? (tas)
Editor : Tasropi