RADARSEMARANG.ID, Perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa pada 26 Februari 2026 diakhiri dengan klaim kemajuan signifikan, namun hanya dua hari kemudian, serangan bersama AS dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah petinggi militer dan keamanan.
Pada 26 Februari 2026, putaran ketiga perundingan tidak langsung AS-Iran berlangsung di Geneva, Swiss, dengan Oman sebagai mediator.
Menurut pernyataan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, terjadi "kemajuan signifikan" dalam diskusi mengenai program nuklir Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pertemuan berlangsung intens dan serius selama beberapa jam, dengan kesepakatan pada beberapa isu meskipun perbedaan masih ada.
Kedua pihak sepakat melanjutkan pembicaraan teknis di Vienna pada minggu berikutnya.
Tidak ada kesepakatan final yang dicapai, dan Iran menegaskan tidak bersedia menghancurkan fasilitas nuklirnya atau menyerahkan stok uranium yang diperkaya.
Pada 28 Februari 2026 pagi, AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap target di Iran, termasuk di Tehran.
Serangan ini menewaskan Ayatollah Ali Khamenei (86 tahun), yang memimpin Iran sejak 1989. Media negara Iran mengonfirmasi kematiannya pada 1 Maret 2026 pagi.
Selain Khamenei, korban termasuk pejabat senior seperti Menteri Pertahanan, Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan penasihat utama.
Laporan awal menyebutkan puluhan petinggi keamanan tewas dalam operasi yang disebut "Roaring Lion" oleh Israel dan "Epic Fury" oleh Pentagon.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi keterlibatan AS dalam serangan tersebut melalui posting di Truth Social, menyatakan bahwa Khamenei telah tewas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengonfirmasi operasi bersama, dengan target termasuk kompleks kepemimpinan dan fasilitas militer.
Iran merespons dengan meluncurkan rudal balistik dan drone ke arah Israel serta aset AS dan sipil di negara-negara Teluk, termasuk Dubai, Doha, Bahrain, dan Kuwait.
Serangan balasan Iran menyebabkan korban, termasuk tiga tentara AS tewas dan sembilan warga Israel tewas dalam serangan rudal di Beit Shemesh.
Beberapa pangkalan AS di wilayah Teluk dilaporkan telah dievakuasi sebelumnya. Iran menyatakan 40 hari masa berkabung nasional.
Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim mengutuk serangan AS-Israel sebagai "tindakan barbar" dan "kekerasan" yang membahayakan stabilitas Timur Tengah.
Anwar menyatakan akan mengajukan mosi kecaman di Dewan Rakyat pada 2 Maret 2026, serta menyerukan gencatan senjata segera dan kembalinya ke jalur diplomasi.
Serangan berlanjut hingga 1 Maret 2026, dengan Israel dan AS melancarkan gelombang baru terhadap situs rudal balistik dan kapal perang Iran.
Iran menyatakan lebih dari 200 orang tewas sejak awal serangan. Trump menyatakan operasi akan berlanjut selama diperlukan, sementara beberapa pemimpin dunia menyerukan penghentian kekerasan dan kembalinya ke perundingan.
Situasi tetap berkembang, dengan ketegangan regional meningkat dan dampak potensial terhadap stabilitas Timur Tengah serta pasar global. (tas)
Editor : Tasropi