Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Katanyesss, Jalan Panjang Menjauh dari “Dunia Hitam”

Figur Ronggo Wassalim • Selasa, 17 Februari 2026 | 21:39 WIB

 

Katanyesss Es Krim Karang Taruna Kota Semarang
Katanyesss Es Krim Karang Taruna Kota Semarang

RADARSEMARANG.ID - Dari sebuah gang di kawasan Tegalsari, Candisari, aroma sus hangat dan manis susu es krim pelan-pelan menarik perhatian.

Booth kecil itu tak hanya menjual kudapan dingin, tetapi juga menawarkan cerita tentang kesempatan kedua. Tentang pemuda yang memilih berbelok arah, menjauh dari masa lalu yang kelam.

Di balik gerobak dan freezer sederhana itu, ada nama “Katanyesss”. Sebuah usaha es krim yang lahir dari Karang Taruna tingkat RT.  

Pembinanya, Jati Pulung Aji, tak banyak bicara soal mimpi besar. Baginya, semua berawal dari keresahan melihat sebagian anak muda di lingkungannya pernah terjerumus ke “dunia hitam”.

“Karang Taruna ini kami dirikan supaya mereka punya kegiatan. Lalu kami buat usaha es krim agar tidak kembali ke sana lagi,” tuturnya.

Awalnya hanya ikut bazar dari satu acara ke acara lain. Berpindah membawa termos pendingin dan roti es krim yang dibuat otodidak. Perlahan, roda berputar.

Dari yang semula sekadar mencoba, kini mereka sudah memiliki booth permanen. Bahkan cabang mulai bermunculan, meski beberapa sempat “off” sementara demi penataan ulang.

Produk yang dijajakan pun tak main-main untuk ukuran usaha rintisan kampung. Ada es krim roti ala Singapura, es krim sus, es krim cone, es krim waffle, es krim cup, hingga minuman float seperti cola dan fanta.

Menu terbaru mereka diberi nama “Mixed Platter”, racikan snack yang dirancang agar pengunjung bisa nongkrong santai di sekitar booth.

Harga yang dipasang ramah kantong, mulai Rp 5.000 hingga Rp 20.000 per porsi. Segmentasinya jelas, anak sekolah dan mahasiswa. "Rasa premium, tapi harga kaki lima," kata Jati sambil tersenyum.

Lebih dari sekadar jualan, Katanyesss menjadi ruang pemberdayaan. Saat ini delapan pemuda terlibat aktif. Sebagian di antaranya sudah berkeluarga, mayoritas berasal dari latar ekonomi menengah ke bawah. 

Mereka digaji bulanan, bukan sistem bagi hasil harian. Tujuannya sederhana, memberi kepastian dan rasa dihargai. Tak ada syarat rumit bagi pemuda yang ingin bergabung. Cukup komitmen, mau bekerja keras, dan siap mengikuti aturan internal komunitas. 

"Siapa saja boleh. Yang penting niat berubah dan mau belajar," ujarnya.

Proses pembuatan es krim dilakukan secara otodidak. Berulang kali mencoba hingga menemukan formula yang dianggap pas. Booth-booth kecil mereka biasanya mampu menampung hingga enam orang untuk duduk santai. 

Namun di benak Jati, ada mimpi yang lebih besar, sebuah kafe sederhana milik anak-anak muda kampung yang dulu dipandang sebelah mata. Langkah mereka juga tak berhenti di penjualan.

Sebagian keuntungan disisihkan untuk kegiatan sosial. Sembako, beras, minyak goreng, hingga sekadar membelikan kerupuk dan kopi untuk warga sekitar menjadi rutinitas kecil yang dijaga. "Kami wajibkan ada yang kembali ke masyarakat," ucapnya.

Soal omzet, Jati tak gamblang menyebut angka. Fokus mereka bukan menumpuk laba, melainkan memperbanyak booth. Setiap ada dana terkumpul, langsung diputar untuk produksi unit baru.

Perakitan booth bahkan dikerjakan di Magelang agar biaya lebih efisien. Targetnya ambisius, setiap kecamatan di Kota Semarang memiliki satu titik Katanyesss. Saat ini baru menjangkau Candisari dan Tembalang, sejak berdiri pada Juni tahun lalu.

Menjelang bulan puasa, strategi pun disiapkan. Booth tetap buka sore hari, sementara siang dimanfaatkan untuk pasar keliling. 

Mereka berencana berbagi es krim ke kelurahan-kelurahan sekaligus memperluas pemasaran. Sebuah cara sederhana untuk tetap bergerak tanpa melawan ritme ibadah.

Di sela percakapan, Jati menyelipkan pesan yang terdengar klise namun terasa jujur. "Jangan pernah berkecil hati. Apa pun latar belakangnya,". Kalimat itu meluncur tanpa nada menggurui. Lebih mirip pengingat untuk dirinya sendiri, dan untuk anak-anak muda yang dulu pernah dianggap “nakal”.

Dukungan juga datang dari tingkat kota. Ketua Karang Taruna Kota Semarang, H. Suragah Rambing, menyebut Katanyesss menjadi bagian dari program “Kata Preneur”, wadah pengembangan usaha anggota Karang Taruna.

"Di situ ada beberapa produk. Salah satunya yang lagi kita kencangkan ini Katanyesss. Salah satu anggota punya usaha es krim, sudah ada di beberapa titik seperti Sendangmulyo dan Tegalsari. Itu kita godok betul," ujarnya.

Menurutnya, setiap kegiatan atau event, produk-produk binaan Karang Taruna terus diikutsertakan. Harapannya, usaha seperti Katanyesss bisa tumbuh dan membuat organisasi kepemudaan lebih mandiri secara ekonomi. 

"Ke depan tetap berorganisasi, tapi teman-teman juga punya penghasilan sendiri," tambahnya. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#kudapan #KOTA SEMARANG #es krim #KARANG TARUNA