RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, berencana akan membangun beberapa titik embung untuk mencegah terjadinya bencana hidrometeorologi, yakni banjir dan longsor.
Belum lama ini, di Kawasan Jangli terjadi pergeseran tanah yang cukup parah.
Hal yang sama juga terjadi di daerah Ngesrep, dan Pudak Payung. Belum lagi kawasan bawah yang kerap direndam banjir.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengaku prihatin dengan rentetan bencana yang terjadi di Ibu Kota Jateng. Dia menyebut harus ada langkah cepat dari Pemkot dalam proses penanganan.
"Tentu prihatin ya, saya minta DPU, Disperkim bisa bergerak cepat," kata Agustina kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (9/2).
Dia menjelaskan, sebelumnya telah meminta BPBD Kota Semarang untuk melakukan penanganan, misalnya dengan pembuatan bronjong.
Namun hal tersebut tidak bisa dilakukan karena harus ditangan DPU.
"Ternyata BPBD nggak bisa, hanya bisa menutupi longsoran biar nggak tambah parah. Nanti akan ditangani oleh DPU," bebernya.
Adapun longsor dan banjir sendiri, terjadi lantaran kurangnya lahan resapan air serta minimnya vegetasi pada kawasan Semarang bagian atas yang berkontur perbukitan.
Agustina menyebut akan memperbanyak pembangunan embung di wilayah atas khususnya di lahan milik Pemkot.
Tujuannya agar mengurangi tensi tekanan air ke tanah, dan kawasan Semarang Bawah.
"Kita akan buat dan memperbanyak embung di tanah milik Pemkot, mengurangi tensi tekanan air. Selain itu juga sodetan sungai, agar bebannya tidak terlalu tinggi. Jadi seolah-olah membuat alur sungai baru," pungkas dia
Dari data BPBD Kota Semarang sejak awal Januari sampai Kamis (5/2) telah terjadi sebanyak 55 kali.
Kepala BPBD Kota Semarang Endro P. Martanto menjelaskan, jika sampai saat ini bencana tanah longsor menjadi bencana terbanyak.
Pasalnya, hal ini terjadi karena kurangnya lahan resapan air dan minimnya vegetasi pada kawasan Semarang bagian atas yang berkontur perbukitan.
"Jadi sampai saat ini tanah longsor atau tanah amblas ini terjadi sebanyak 55 kali," katanya.
Dia menjelaskan, ika wilayah yang kerap terjadi longsor adalah Semarang bagian atas dan minim area resapan air.
Hal ini membuat Pemkot berencana untuk membuat area resapan.
Selain itu faktor kurangnya lahan hijau untuk resapan alami semakin berkurang, lantaran telah menjadi lahan padat penduduk.
"Rencananya Pemkot akan membuat embung-embung di wilayah yang kurang resapan, untuk mengurangi resiko tanah longsor," ujarnya. (den)
Editor : Baskoro Septiadi