RADARSEMARANG.ID – Mantan Menteri Dalam Negeri Inggris, Suella Braverman (45), secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari Partai Konservatif dan bergabung dengan partai populis sayap kanan Reform UK, yang dipimpin oleh Nigel Farage.
Pengumuman tersebut disampaikan pada 26 Januari dalam sebuah rapat umum yang juga dihadiri langsung oleh Farage.
Langkah politik Braverman ini dinilai sebagai pukulan telak bagi Partai Konservatif, yang selama lebih dari satu abad menjadi salah satu dari dua kekuatan utama dalam sistem politik Inggris.
Berdasarkan sejumlah jajak pendapat terbaru, Reform UK bahkan disebut-sebut mulai melampaui Partai Buruh dan Partai Konservatif dalam tingkat dukungan publik, memunculkan spekulasi bahwa pemilu berikutnya pada 2029 dapat mengakhiri dominasi sistem dua partai di Inggris.
Dalam pidatonya, Braverman secara terbuka mengkritik Partai Konservatif, menuding partai lamanya telah berbohong kepada pemilih, khususnya terkait janji untuk menarik Inggris keluar dari Konvensi Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR).
Ia menyatakan bahwa isu imigrasi telah gagal ditangani secara tegas oleh pemerintah sebelumnya.
“Inggris sedang berada dalam kondisi rusak. Kita bisa terus berada di jalur kemunduran, atau memilih untuk membangun kembali negara ini,” ujar Braverman di hadapan para pendukung Reform UK.
Baca Juga: Hono Sejati Pimpin Hanura Jateng, Fokus Konsolidasi Jelang Pemilu
Braverman, yang berlatar belakang sebagai pengacara, pernah mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Konservatif dan dikenal memiliki pandangan keras terkait kebijakan imigrasi.
Ia menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri di pemerintahan mantan Perdana Menteri Rishi Sunak, serta di beberapa pemerintahan sebelumnya.
Reform UK sendiri dalam beberapa waktu terakhir aktif merekrut figur-figur politik berpengaruh. Sebelumnya, partai ini juga menyambut Robert Jenrick, mantan Menteri Negara untuk Imigrasi dan mantan tokoh senior Partai Konservatif.
Dengan bergabungnya Braverman, Reform UK kini memiliki delapan anggota parlemen, meski masih jauh tertinggal dari Partai Buruh yang saat ini menguasai parlemen dengan lebih dari 400 kursi.
Baca Juga: 23 Anggota Marinir Tertimbun Longsor Saat Sedang Latihan di Cisarua
Reform UK menegaskan komitmennya untuk menarik Inggris keluar dari Konvensi Hak Asasi Manusia Eropa apabila berhasil memenangkan kekuasaan dalam pemilu mendatang, menjadikan isu kedaulatan dan imigrasi sebagai agenda utama mereka.
Editor : Baskoro Septiadi