RADARSEMARANG.ID – Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh sejak akhir November 2025 menjadi salah satu peristiwa paling memilukan dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam hitungan hari, curah hujan ekstrem memicu arus air yang menghancurkan rumah, merusak jembatan, memutus akses jalan, dan mengisolasi banyak desa di pedalaman.
Lebih dari 200 warga meninggal dunia, puluhan lainnya masih dinyatakan hilang, sementara ratusan ribu orang terpaksa mengungsi ke titik-titik aman.
Di tengah suasana duka dan kepanikan, muncul satu fenomena menarik di linimasa media sosial Indonesia kerinduan publik terhadap sosok-sosok komunikator BNPB yang dulu dikenal humanis, informatif, dan menenangkan.
Nama-nama seperti Sutopo Purwo Nugroho, Letjen (Purn) Doni Monardo, dan dr. Ahmad Yurianto kembali ramai diperbincangkan,
seolah menjadi simbol harapan publik akan hadirnya figur yang mampu menyampaikan informasi bencana dengan lebih jelas, empatik, dan dapat dipercaya.
Fenomena ini bukan sekadar nostalgia. Ada alasan kuat mengapa publik merindukan figur-figur tersebut: karena krisis besar membutuhkan suara yang jernih di tengah kabut ketidakpastian.
- Pernyataan Kepala BNPB Suharyanto yang Memicu Kritik Publik
Gelombang kerinduan itu semakin menguat setelah sebuah pernyataan kontroversial disampaikan oleh Kepala BNPB saat ini, Letjen TNI Suharyanto, dalam konferensi pers pada 28 November 2025.
Dalam kesempatan itu, ia menyebut bahwa banjir bandang di Sumatra “terlihat mencekam di media sosial”, namun menurut parameter resmi, belum termasuk kategori bencana nasional.
Pernyataan tersebut sontak memicu kemarahan publik. Di berbagai platform, terutama X (sebelumnya Twitter), warganet menganggap komentarnya kurang sensitif terhadap kondisi masyarakat.
Di lapangan, fakta yang muncul justru sangat memprihatinkan:
- 217 korban meninggal
- 79 warga hilang
- ratusan desa terisolasi
- banyak titik belum tersentuh bantuan
- kerusakan infrastruktur masif
- ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal
Dalam situasi yang penuh trauma ini, publik berharap ada empati, ketegasan, dan kejelasan informasi.
Sebaliknya, komentar yang terlalu teknis tanpa sentuhan kemanusiaan justru menghadirkan jarak emosional antara BNPB dan masyarakat.
Keesokan harinya, Suharyanto langsung terbang ke Tapanuli Selatan dan meninjau langsung Desa Aek Garoga wilayah terdampak paling parah.
Saat melihat kondisi sebenarnya, ia tak kuasa menahan tangis dan meminta maaf secara langsung kepada Bupati Gus Irawan Pasaribu.
Langkah itu diapresiasi, namun gelombang kritik sudah telanjur menguat. Publik menilai komunikasi BNPB saat ini kurang menyentuh, kurang jelas, dan tidak sekomunikatif era sebelumnya.
- Kerinduan pada Sosok Humanis Sutopo Purwo Nugroho
Di antara nama-nama yang paling sering muncul dalam percakapan publik, Sutopo Purwo Nugroho adalah yang paling disorot.
Mantan Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB itu dikenal sebagai figur yang penuh ketulusan, mampu menyampaikan situasi bencana dengan gaya yang tenang, jernih, dan berbasis data, tetapi tetap sarat empati.
Isi komentar warganet ;
"Saat ada bencana, langsung ingat Pak Sutopo. Informasinya selalu ada, jelas, dan menenangkan." — @SBKCF
"Beliau selalu hadir dengan data yang akurat. Alfatihah untuk Pak Sutopo." — @irenejuliency
menggambarkan betapa besarnya warisan komunikasi yang ia tinggalkan.
Meski saat itu ia sedang berjuang melawan kanker, Sutopo tetap aktif memberikan keterangan pers hampir setiap hari.
Ia tak pernah bersikap defensif. Justru, ketika ada hoaks atau informasi yang simpang siur, dialah orang pertama yang meluruskannya dengan bahasa yang mudah dipahami.
Sutopo bukan hanya juru bicara; ia adalah jembatan antara negara dan rakyat di saat rakyat membutuhkan kepastian.
- Letjen Doni Monardo: Pemimpin Lapangan yang Dirindukan
Selain Sutopo, sosok lain yang banyak disebut adalah Letjen (Purn) Doni Monardo, mantan Kepala BNPB periode 2019–2021.
Doni dikenal sebagai pemimpin lapangan yang sigap, tegas, dan selalu turun langsung ke titik bencana.
Isi komentar warganet ;
"Putra asli Batusangkar yang tidak pernah asal bicara. Tegas, cepat, dan menyentuh hati." — @s4br1na
"Kangen leadership-nya Pak Doni, selalu menenangkan para korban." — @are_inismyname
Di banyak bencana besar, Doni hadir sebagai garda depan: dari gempa Cianjur hingga banjir besar di Jawa.
Sikapnya yang tidak ragu memimpin koordinasi TNI, Polri, Basarnas, dan pemerintah daerah membuatnya dicintai publik.
Kutipan yang diucapan yaitu “Manusia hidup harus saling menjaga, saling peduli, dan saling menolong.”
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa pemimpin bencana tidak hanya mengatur, tetapi juga merangkul.
- Dr. Ahmad Yurianto: Figur Tenang Saat Indonesia Dilanda Pandemi
Sosok lain yang tak kalah dirindukan adalah dr. Ahmad Yurianto, juru bicara gugus tugas Covid-19 pada fase awal pandemi.
Setiap sore, masyarakat menunggu konferensi persnya, bukan hanya untuk mengetahui jumlah kasus, tetapi juga untuk mendengar penjelasannya yang tenang dan tidak menakut-nakuti.
Isi komentar warganet ;
"Berkat beliau, banyak orang memahami apa itu protokol kesehatan. Komunikasinya jelas dan tidak berlebihan." — @shura_ni
"Beliau selalu meluruskan informasi dengan data yang benar." — @Amelianovtrii
Yurianto adalah contoh bagaimana komunikasi yang tepat dapat mengurangi kepanikan, bukan menambah ketakutan.
- Mengapa Publik Merindukan Sosok-Komunikator yang Kredibel?
Di era media sosial, informasi bergerak cepat. Dalam satu jam, sebuah video bisa viral, sebuah kabar bisa memicu kepanikan, dan sebuah kesalahan komunikasi bisa mengundang kemarahan nasional.
Untuk sebuah lembaga sebesar BNPB, komunikasi bukan hanya penyampaian data. Komunikasi adalah:
alat untuk menciptakan rasa aman
jembatan antara korban dan pengambil kebijakan
bentuk empati pemerintah
cara mengarahkan publik agar tidak terjebak hoaks
simbol kehadiran negara di saat genting
Sutopo, Doni Monardo, dan Ahmad Yurianto menjadi ikon bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka mampu menghadirkan kepastian di tengah ketidakpastian.
- Publik Berharap BNPB Menemukan Sosok Komunikator Baru yang Humanis
Bencana besar yang melanda Sumatra saat ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang membutuhkan figur komunikator yang kuat dan kredibel. Publik berharap:
penyampaian informasi yang lebih terstruktur
konferensi pers rutin dengan data yang jelas
komunikasi empatik yang memahami penderitaan korban
kehadiran fisik dan simbolik pemimpin di lokasi bencana
bahasa yang tidak teknis dan mudah diikuti masyarakat
Di tengah situasi darurat, rakyat tidak hanya menunggu bantuan logistik atau evakuasi. Mereka juga menunggu suara yang mampu menenangkan, bukan menambah kepanikan.
Kini, harapan publik tertuju pada BNPB untuk menghadirkan kembali standar komunikasi yang pernah ditunjukkan oleh para tokoh yang dirindukan tersebut.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi