
RADARSEMARANG.ID - Ketidakpastian ekonomi global masih membayangi pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut membuat investor cenderung menahan transaksi sambil menunggu arah pergerakan pasar yang lebih jelas.
Dampaknya, nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun menjadi sekitar Rp 12 triliun. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu transaksi harian mampu mencapai sekitar Rp 24 triliun.
Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Tengah Fanny Rifqi El Fuad mengatakan, karakter investor saat ini masih didominasi sikap wait and see.
Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan penguatan dibanding pekan sebelumnya, pelaku pasar masih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
"Kalau kita lihat dari transaksi yang saat ini berada di satu hari itu sekitar Rp 12 triliun, investor masih wait and see ya. Dibandingkan tahun kemarin yang rata-rata satu hari itu bisa sampai Rp 24 triliun," ujarnya di Kantor BEI Semarang usai sosialisasi dan edukasi pasar modal, Selasa (21/7).
Ia menambahkan saat ini IHSG mulai menunjukkan perbaikan. Menurutnya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, aksi buyback saham BUMN, hingga meredanya ketegangan geopolitik setelah adanya kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran turut menopang pergerakan pasar.
Namun, arus dana investor asing masih mencatatkan net sell hingga Rp 75,6 triliun sepanjang Januari-Juli 2026. Kondisi itu turut menekan pergerakan IHSG dibandingkan tahun sebelumnya.
Di tengah perlambatan transaksi tersebut, minat masyarakat berinvestasi di pasar modal justru terus meningkat.
Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal di Jawa Tengah mencapai 3,19 juta investor.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

