Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Manajemen Orkestrasi Cara Dian Kelola Bakat dan Minat Siswa di SDN 2 Sukorejo Kendal

Khafifah Arini Putri • Selasa, 18 November 2025 | 17:49 WIB
Kepala SDN 2 Sukorejo Kendal Dian Ayu Kurniasih yang juga sebagai fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation melihat proses pembelajaran peserta didik.
Kepala SDN 2 Sukorejo Kendal Dian Ayu Kurniasih yang juga sebagai fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation melihat proses pembelajaran peserta didik.

RADARSEMARANG.ID, Kendal - Di balik ruang-ruang belajar SDN 2 Sukorejo yang selalu hidup dengan karya dan aktivitas anak-anak. Ada satu sosok yang membuat semua gerak itu menyatu bak orkestra. Dialah Diannita Ayu Kurniasih, Kepala SDN 2 Sukorejo Kendal ini selalu fokus pada aset yang dimiliki sekolah. Baik itu siswa, guru, bahkan infrastrukturnya.

"Saya tidak fokus pada apa yang kurang. Saya lihat dulu apa aset yang sudah saya punya," jelas Dian, sapaan akrabnya.

Dian punya cara unik membaca gerak-gerik siswa. Ketika beberapa guru mengeluh ketika ada anak yang menggambar saat pembelajaran dan tidak memperhatikan pelajaran dengan seksama. Ia justru fokus pada bakat siswanya.

“Anak-anak (yang punya bakat menggambar) seperti itu harus diarahkan. Kalau yang sibuk ini harus berkelompok. Nanti ada yang bagian ide, ada yang nggambar. Mereka saya bentuk sesuai minatnya,” ungkapnya.

Dengan 330 murid dan 12 rombel, ia memanfaatkan keragaman karakter peserta didik menjadi kekuatan. Pendekatan Dian sangatlah unik, ia menerapkan konsep Manajemen Orkestrasi. Yakni kemampuan untuk melihat bakat dan minat masing-masing siswa, kemudian mengelompokkan sesuai keunggulan yang dimiliki.

Nantinya dalam kelompok ini, siswa dibimbing untuk saling berbagi tugas, menyalurkan ide, dan mengekspresikan kemampuan masing-masing. Misalnya, anak visual diberi ruang menggambar, yang komunikatif bertugas mempresentasikan, yang teliti menjadi pengatur alur kerja kelompok. Hasilnya, kelas bukan lagi ruang yang dipenuhi teguran, melainkan ruang eksplorasi.

"Kalau anak-anak sudah sesuai bidangnya, mereka akan maksimal,” imbuhnya.

Dian yang juga sebagai fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation menjadi motor gerak perubahan pembelajaran. Inovasinya terlihat dalam pembelajaran literasi dan numerasi.

Ia melibatkan guru dan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran dengan big book. Tak hanya menggunakannya, tapi juga memproduksi big book itu sendiri. Siswa dan guru yang pandai menggambar bisa menuangkan bakatnya, sedangkan yang pandai membuat cerita akan menuliskannya. Dengan kolaborasi itu, maka big book bisa diproduksi sendiri.

“Anak-anak ikut dilatih, gurunya tetap harus belajar. Karena sampai jadi Big Book itu butuh pendampingan. Mau tidak mau guru terlibat,” katanya.

Tak hanya itu, Dian juga menerapkan pemanfaatan barang bekas untuk pembelajaran numerasi dan literasi. Tutup botol, kardus, atau pecahan kaca diolah menjadi media belajar, bukan hanya untuk seni, tetapi untuk menghitung, mengenal huruf, atau memahami konsep literasi sehari-hari.

Ia juga memanfaatkan brosur belanja atau kemasan snack untuk mengajarkan konsep uang, perbandingan harga, hingga kandungan gizi. Cara ini membuat matematika menjadi relevan dengan kehidupan siswa.

"Misalkan anak-anak membawa uang saku Rp 5000, dari brosur itu mereka berfikir bisa membeli apa saja. Anak-anak akan memilih juga mengutamakan yang sehat makanan apa. Jadi numerasinya jalan," ujarnya.

Pendekatan yang ia gunakan ini membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan dekat dengan kehidupan siswa. Bahkan, setiap Selasa digelar kegiatan numerasi oleh guru yang bergilir, sementara Sabtu menjadi hari kreasi, memberi kesempatan bagi siswa yang tidak mengikuti lomba untuk tampil dan menunjukkan kemampuan mereka.

Kepekaan Dian terhadap siswa dengan kebutuhan khusus juga patut diacungi jempol. Sekolah inklusi yang dipimpinnya menerima siswa dengan kondisi akademis atau fisik yang berbeda, dan Dian menekankan agar setiap anak diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan diri.

“Saya tidak melihat kekurangan mereka, tapi apa yang bisa dikembangkan dari mereka. Selalu ada potensi yang bisa diangkat,” akunya.

Dengan pendekatan ini, anak-anak inklusi diberi peran penting, misalnya sebagai ketua kelas, sehingga mereka belajar memimpin dan dihargai oleh teman-temannya. Dengan demikian akan timbul percaya diri dari anak tersebut.

"Jadi ketika anak-anak inklusi ini diberi ruang untuk dia bisa beraktualisasi. Maka dia sudah mencapai puncak kebahagian. Misalnya ketika dia diberi kesempatan jadi ketua kelas, mau berangkat sekolah sangat semangat sekali, padahal dulunya mau sekolah takut dibully," tegasnya.

Manajemen orkestrasi Dian tidak hanya berlaku untuk siswa. Ia juga memberdayakan guru sesuai bidang keahliannya. Guru seni mengajar seni, guru olahraga fokus di bidang olahraga, sehingga setiap tenaga pendidik bisa bekerja maksimal. Pendekatan ini terbukti efektif, karena setiap guru dan siswa dapat menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam berbagai kegiatan.

Keberhasilan Dian tidak hanya diukur dari inovasi di kelas. Prestasinya pun gemilang. Ia pernah menjadi Juara 1 Guru SD Berprestasi Tahun 2017, Peraih Bupati Award Kategori ASN Handal Tahun 2019, dan PNS Berprestasi Tahun 2022. Selain itu, Dian aktif menulis dan menyunting buku, menyusun modul pembelajaran, serta menjadi fasilitator nasional dalam berbagai program literasi dan numerasi.

Pengalaman panjangnya sebagai guru sejak 2005 dan berbagai posisi strategis membuat Dian paham betul tantangan pendidikan. Ia memulai kariernya di SD Ngenting Gunung, salah satu SD di pelosok kaki Gunung Prau. Di sana, ia menemukan kepuasan mendalam ketika berhasil membantu siswa yang awalnya tidak bisa membaca dan menulis akhirnya mampu.

Kepuasan ini kemudian menjadi motivasi utama dalam setiap langkahnya di dunia pendidikan. Ia juga menekankan pentingnya konsistensi.

“Kalau memang sesuai bidangnya masing-masing, pasti optimal. Konsistensi itu kuncinya,” kata Dian.

Selain fokus pada siswa dan guru, Dian juga memanfaatkan peluang kolaborasi dengan orang tua dan komunitas. Ia membangun komunikasi intens, termasuk dengan wali murid yang memiliki keahlian tertentu, untuk mendukung pembelajaran. Contohnya, saat melihat kosakata Bahasa Jawa siswa yang minim, ia menggagas pelatihan menulis cerkak (cerita pendek Bahasa Jawa).

Dengan memanfaatkan potensi wali murid yang ahli dalam Bahasa Jawa, ia membimbing siswa hingga salah satu karyanya meraih juara di tingkat provinsi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI).

“Anaknya pendiam banget, tapi ternyata tulisannya bagus. Jadi bakatnya tetap tertampung dengan baik, ” bebernya.

Diannita Ayu Kurniasih adalah bukti nyata bahwa kepala sekolah bisa menjadi penggerak perubahan. Dengan manajemen orkestrasi, kepekaan terhadap bakat siswa, konsistensi, serta inovasi kreatif, Dian tak hanya membentuk siswa yang cerdas akademik, tetapi juga berkarakter, kreatif, dan percaya diri. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#program pintar tanoto foundation #Big Book #literasi dan numerasi #Media Belajar #anak-anak #Sekolah Inklusi