RADARSEMARANG.ID, Kendal - Di SD Negeri Kalibogor, suasana istirahat tampak ramai. Anak-anak berbaris rapi di depan meja kecil yang penuh jajanan warna-warni. Ada dimsum, siomay, potongan buah segar, hingga nasi goreng dalam kemasan mungil.
Di balik meja, guru-guru melayani mereka dengan sabar. Setiap transaksi menjadi momen belajar, tentang angka, uang, dan tanggung jawab.
Program itu bukan sekadar kantin biasa. Namanya Kantin Sehat, gagasan yang kini jadi kebanggaan sekolah di bawah kepemimpinan Susilowati, Plt Kepala SD Negeri Kalibogor. Bu Susi sapaan akrabnya menyebut kantin ini lahir dari keprihatinan, karena banyak siswa yang jajan di luar berakhir sakit perut.
Karena itulah Susi yang juga sebagai fasilitator daerah (fasda) Porgram PINTAR Tanoto Foundation menerapkan Kantin Sehat untuk mengantisipasi hal serupa kembali terjadi.
"Awalnya kami prihatin, karena banyak siswa sakit perut akibat jajan sembarangan di luar sekolah. Dari situ muncul ide membuat kantin sendiri, yang sehat dan mendidik," jelas Susi.
Baginya program Kantin Sehat ini bukan hanya untuk menyehatkan anak, tapi menjadi ruang belajar kontekstual bagi siswa. Mereka dapat menumbuhkan literasi dan numerasi dengan praktik langsung. Di setiap aktivitas jajan, anak-anak belajar membaca, menghitung, dan berinteraksi.
“Anak-anak kami biasakan membawa uang saku dua ribu sampai lima ribu rupiah. Mereka memilih makanan, lalu menghitung kembalian. Di situ numerasinya berjalan alami," katanya.
Tak hanya berhitung, literasi juga tumbuh lewat papan-papan kecil di meja kantin. Di situ tertulis nama dan harga makanan. Anak-anak yang baru belajar membaca, bisa mengenali huruf-huruf dari nama jajanan.
Kegiatan sederhana itu ternyata punya dampak besar. Anak-anak yang dulunya sering bingung menghitung uang kembalian, kini sudah lancar berhitung. Bahkan siswa kelas empat dan lima sudah mulai memahami konsep untung-rugi dari jual beli.
“Kalimatnya sederhana, tapi itu bagian dari pembelajaran membaca. Anak-anak senang, karena belajar sambil jajan,” tambahnya.
Melalui Kantin Sehat ini Susi menegaskan ruang belajar tidak harus selalu di dalam kelas. Kantin bisa menjadi kelas kehidupan nyata di mana anak-anak mempraktikkan ilmu yang mereka pelajari setiap hari.
“Di sini ada pembelajaran kontekstual. Anak belajar berhitung, mengenali nilai uang, berkomunikasi, berinteraksi, dan berefleksi, jelasnya.
Konsep ini kata Susi sejalan dengan prinsip Pembelajaran Mendalam (PM) yang kini digaungkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Prinsip berkesadaran (mindful) terlihat ketika anak-anak menyadari tujuan belajar mereka yakni mengelola uang dan membaca label. Prinsip bermakna (meaningful) terwujud karena pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Sementara prinsip menggembirakan (joyful) jelas terpancar dari semangat dan kegembiraan siswa yang bisa praktik langsung.
"Kantin Sehat ini juga selaras dengan pengalaman belajar dalam Pembelajaran Mendalam, yaitu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksi. Anak-anak tidak hanya paham teori matematika, tetapi langsung mengaplikasikannya, lalu merefleksikan pengalaman mereka, misalnya bagaimana cara berhemat," bebernya.
Menurutnya pembelajaran ini juga selaras dengan prinsip MIKiR yang diadopsi dari Program PINTAR Tanoto Foundation, yakni Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi.
“Anak mengalami proses belajar nyata, berinteraksi dengan guru dan teman, berkomunikasi dalam transaksi, lalu merefleksikan hasilnya,” tuturnya.
Kantin Sehat di SDN Kalibogor tidak berdiri sendiri. Wali murid turut terlibat penuh. Mereka menjadi penyedia menu harian yang selalu berganti. Setiap hari, minimal lima orang tua membawa makanan buatan rumah.
Ada yang membawa kebab mini, pisang krispi, bakso tusuk, hingga pudding buah. Semua makanan harus memenuhi syarat utama, tanpa pewarna, tanpa pengawet, dan bernilai gizi seimbang.
“Setiap item makanan kami jual seragam. Sekolah mendapatkan seratus rupiah dari setiap item untuk kas kegiatan. Tapi tujuan utamanya bukan mencari keuntungan, melainkan memberi contoh praktik ekonomi sederhana bagi anak-anak,” bebernya.
Keterlibatan wali murid ini menjadi bukti kuat bahwa pendidikan bisa tumbuh lewat gotong royong. Orang tua merasa memiliki peran langsung dalam proses belajar anak, sementara anak belajar menghargai jerih payah orang tuanya.
“Anak-anak jadi tahu, makanan yang mereka beli itu buatan ibunya teman sendiri. Mereka lebih menghargai dan tidak membuang makanan,” ujarnya.
Sejak Kantin Sehat berjalan, perubahan nyata terlihat di SDN Kalibogor. Tingkat kesehatan siswa meningkat, kasus sakit perut akibat jajan sembarangan hampir tidak ada lagi.
Lebih lanjut kata Susi, sekolah juga memadukan program Kantin Sehat dengan gerakan literasi sekolah dan Peraturan Bupati Kendal Nomor 49 Tahun 2024 tentang Gerakan Peningkatan Kemampuan Literasi dan Numerasi.
Setiap Rabu, sebelum pelajaran dimulai, siswa diwajibkan membaca selama 15 menit. Buku-buku diambil dari pojok baca yang dibuat di setiap kelas. Bukunya juga berasal dari sumbangsih orang tua dan guru.
Bagi Susilowati, inovasi tak bisa berjalan tanpa kebersamaan. Ia selalu melibatkan guru, wali murid, dan siswa dalam setiap program.
“Sekolah itu bukan hanya tempat belajar anak, tapi juga ruang tumbuh bagi semua,” katanya. (kap/web)
Editor : Baskoro Septiadi