RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sebanyak 71 ribu perempuan di Indonesia mempunyai keinginan untuk menjalani kehidupan pernikahan tanpa anak atau childfree. Mayoritas penyebabnya karena masalah ekonomi.
Hal itu disampaikan oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji usai memberikan kuliah umum dan MoU antara BKKBN dan Univeritas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas), Selasa (22/7).
Baca Juga: Ratusan Nelayan di Pesisir Mangunharjo Semarang Gelar Tradisi Sedekah Laut
“Ada 71 ribu berdasarkan survei menginginkan childfree, menikah tapi tidak pengin punya anak. Tapi itu baru keinginan. Saya selaku menteri tidak yakin keinginan itu akan dikerjakan. Kenapa? Karakter Indonesia bukan begitulah, dan ini kan sunatullah,” jelas Wihaji di Unwahas.
Wihaji menegaskan pihaknya menghormati pilihan perempuan yang menginginkan childfree.
Tetapi sebagai Menteri ia tidak menyarankan keputusan tersebut secara kelembagaan.
Sebab ketika semua perempuan mmeilih untuk tidak punya anak, maka negara bisa bubar karena tak ada penerusnya.
“Saya menghormati childfree. Tetapi selaku menteri tentu tidak menyarankan karena apa? Ya, negara nanti bubar kalau keluarga, enggak ada. Misalnya 50 tahun enggak ada yang keluarga, misalnya wartawan enggak mau nikah semua, enggak mau punya anak semua, nikah tapi enggak punya anak semua kan enggak ada yang meneruskan jadi wartawan nanti,” bebernya.
Menurutnya mayoritas para perempuan ini memilih untuk childfree karena masalah ekonomi.
Misalnya ketika punya anak, seorang istri harus berhenti kerja karena punya kewajiban mengurus buah hati.
Kemudian kata dia, mereka juga takut akan mahalnya membayar asisten rumah tangga.
“Salah satu yang menginginkan child free adalah ketakutan tentang ekonomi,” ungkapnya.
Menanggapi fenomena tersebut, BKKBN kata dia meluncurkan program Tamasya atau Taman Asuh Sayang Anak sebagai solusi pendampingan bagi para orang tua muda.
Sehingga meski orang tua bekerja, anak tetap ada yang mengurus.
“Saya selalu menyampaikan, setiap peristiwa ada sebab. Maka yang kita selesaikan adalah sebabnya. Kalau kamu ketakutan ini, saya siap. Tamasya bukan tempat menitipkan anak, tapi bentuk pendampingan,” jelasnya.
Pada kesempatan itu Wihaji juga memberikan pembekalan kepada 870 mahasiswa Unwahas yang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Ia menekankan pentingnya kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat untuk menyerap dan menjawab persoalan lapangan.
Pihaknya juga menyambut baik kerja sama antara BKKBN dan Unwahas yang dituangkan dalam nota kesepahaman untuk penguatan program-program strategis, seperti penanggulangan stunting, bina keluarga, bina lansia, dan program inovatif Lima Quick Win BKKBN.
Lima program ini adalah Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), TAMASYA (Taman Asih Sayang Anak), GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), Gerakan SIDAYA (Lansia Berdaya), dan I–SuperApps.
Sementara Rektor Unwahas, Helmy Purwanto, menegaskan komitmen kampusnya dalam mendukung program-program pemerintah, khususnya di bidang kependudukan dan keluarga.
“Kami tidak ingin menjadi menara gading. Mahasiswa kami harus mampu menjadi bagian dari solusi. Dengan MoU ini, semangat kami bertambah untuk mendukung program-program kementerian,” ujar Helmy. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi