RADARSEMARANG.ID, Semarang - Nama Hatami, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lampung Utara, dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), tengah menjadi buah bibir masyarakat.
Dirinya viral setelah videonya menyawer seorang DJ wanita pada sebuah acara hiburan, tersebar luas di media sosial.
Dalam video berdurasi sekitar 30 detik tersebut, Hatami terlihat berjoget sambil menyebarkan uang pecahan Rp50.000 kepada seorang DJ.
Aksi tersebut terjadi pada sebuah acara khitanan, di Kecamatan Abung Pekurun, Kabupaten Lampung Utara.
Kritik tajam pun berdatangan dari berbagai pihak yang menilai tindakan itu.
Banyak yang menganggap bahwa perilakunya tidak pantas bagi seorang anggota dewan.
Menanggapi hal itu, Hatami akhirnya buka suara.
Dirinya membantah bahwa acara tersebut merupakan kegiatan tidak senonoh.
Hatami menegaskan bahwa uang yang ia sawerkan bukan berasal dari dana publik.
"Itu acara khitanan keponakan saya sendiri, bukan di tempat hiburan malam. DJ itu memang diundang sama keluarga untuk hiburan," ujarnya.
Hatami menambahkan bahwa ia diminta untuk naik ke atas panggung dan spontan melakukan joget serta sawer.
Dalam hal itu, Hatami juga tidak memiliki niat yang buruk.
"Saya punya usaha sendiri, saya petani. Punya kebun singkong, kelapa, dan kolam ikan. Jadi uang yang saya sawerkan itu murni hasil kerja saya. Gak ada pakai uang negara," jelasnya.
Ketua DPRD Lampung Utara, M. Yusrizal, menyatakan bahwa pihaknya telah mengetahui kejadian tersebut.
Selain itu, pihaknya akan segera memanggil Hatami untuk dimintai klarifikasi secara resmi.
"Kami akan memanggil beliau untuk meminta penjelasan secara langsung. Setelah itu, pimpinan DPRD akan berdiskusi apakah perlu ada tindakan etik atau lainnya," ucap Yusrizal.
Sementara itu, dari pihak partai, DPW PKB Lampung juga telah memberi peringatan kepada Hatami.
Dirinya mengaku siap menerima sanksi jika dinilai melanggar kode etik sebagai anggota partai.
"Saya ditelepon langsung oleh DPW. Saya minta maaf dan siap diberi sanksi. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya juga akan menjaga nama baik partai dan konstituen saya," ungkapnya.
Hatami bukan berasal dari keluarga politikus atau pengusaha besar. Ia lahir dan besar di sebuah desa di Kecamatan Abung Selatan.
Sebelum masuk ke dunia politik, Hatami dikenal sebagai petani dan pengusaha kecil di bidang perikanan dan pertanian.
"Saya ini orang desa. Sejak muda sudah kerja di kebun dan pelihara ikan. Saya maju jadi caleg karena ingin bawa suara rakyat kecil. Saya nggak mau munafik. Saya apa adanya," tutur Hatami.
Ia terpilih menjadi anggota DPRD Lampung Utara pada Pemilu 2019 setelah memperoleh dukungan kuat dari masyarakat desa-desa di Dapil 3.
Hatami dikenal cukup aktif dalam memperjuangkan aspirasi petani, terutama terkait subsidi pupuk dan infrastruktur jalan desa.
Namun, karir politiknya juga tidak lepas dari kontroversi.
Pada tahun 2020, ia pernah terseret kasis hukum terkait penadahan sepeda motor hasil curian.
Ia divonis tiga bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Kalianda dan telah menjalani masa hukumannya.
"Itu masa lalu saya. Saya akui salah dan sudah saya jalani hukumannya. Sekarang saya ingin membuktikan bahwa saya bisa berubah dan bekerja untuk rakyat," kata Hatami.
Meski Hatami telah meminta maaf dan menjelaskan duduk perkaranya, tidak sedikit masyarakat yang menuntut adanya evaluasi etika terhadap perilakunya.
Kini publik masih menantikan sikap resmi dari DPRD dan PKB terkait nasib politik Hatami pascainsiden ini.
Apakah akan ada sanksi, teguran tertulis, atau cukup dengan klarifikasi lisan.
Semua masih menunggu proses internal lembaga dan juga partai.
Editor : Baskoro SeptiadiSumber : Twitter, Tik Tok