RADARSEMARANG.ID - Kota Ambarawa merupakan kota kecil di Kabupaten Semarang yang lebih dikenal masyarakat sebagai kota tempat Perang Ambarawa berkecamuk.
Perang ini merupakan konflik yang terjadi dalam upaya mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia atas kedatangan sekutu kembali ke Tanah Air.
Perang Ambarawa juga merupakan salah satu dari sebagian perang dimana kemenangan diperoleh oleh pihak republik Indonesia atas pihak kolonial.
Namun, selain itu kota ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi salah satu pahlawan nasional yang berjasa bagi republik ini, Dr Tjipto Mangunkusumo.
Sebelumnya, di Ambarawa sendiri telah berdiri patung monumen Dr. Tjiptomangunkusumo setinggi 4 meter yang berdiri di Pertigaan Tugu Jam pada bagian depan pasar Gamblok Ambarawa.
Namun menurut kabar yang beredar, kini pihak berwenang kembali membuat patung Dr. Tjipto yang lebih kecil (berbentuk patung dada) untuk kemudian diinstalasi di makam Dr. Tjipto yang berada di Kupang Tegal, Ambarawa.
Sebelum diresmikan, Patung Dr. Tjipto ini akan diarak dengan iring-iringan kirab budaya dari Tugu Jam Ambarawa hingga komplek makam Dr. Tjipto.
Prosesi kirab ini akan dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2025, dan dimulai pada pukul 15.00 WIB. Setelah sampai, acara kemudian berlanjut dengan berbuka puasa dan tarawih bersama.
Dr. Tjipto sendiri merupakan tokoh pergerakan nasional yang berperan penting dalam pemberantasan wabah pes yang terjadi dahulu di Hindia Belanda.
Ia merupakan seorang dokter yang mendapatkan medali bintang emas, sebuah penghormatan tertinggi yang diberikan oleh Pemerintahan Hindia.
Namun, karena kekecewaannya yang mendalam akibat perlakuan para penjajah terhadap warga pribumi, Dr Tjipto mengembalikan penghargaan tersebut.
Dr Tjipto juga dikenal berkat peran aktifnya dalam perpolitikan di Indonesia, bersama dengan Ernest Douwess Dekker dan Ki Hajar Dewantara. Mereka mendirikan Indische Partij.
Baca Juga: Pemberontakan Prajurit Korea Penjaga Penjara Ambarawa Diambang Kekalahan Jepang
Yakni sebuah organisasi politik masa kolonial yang pertama kali mencetuskan ide bahwa pemerintahan harus ada di bawah kendali penduduk setempat, bukan justru dari warga asing.
Karena nasionalismenya, Dr. Tjipto harus merasakan pengasingan yang dilakukan oleh Belanda dengan membuang tokoh tersebut di Banda Neira.
Namun, karena terlalu berpengaruh bagi masyarakat setempat. Dr. Tjipto pun kembali diasingkan ke Bali, Makassar lalu Sukabumi, dimana akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di Ambarawa, Jawa Tengah.
Source: Ambarawa Tercinta (FB), Kemdikbud
Editor : Baskoro Septiadi