Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Amalan, Larangan, Keutamaan Bulan Syaban 2025 Bulan Mulia Terangkatnya Amal Langsung

Falakhudin • Sabtu, 25 Januari 2025 | 12:56 WIB
Amalan, Larangan, Keutamaan Bulan Syaban 2025
Amalan, Larangan, Keutamaan Bulan Syaban 2025

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Tidak terasa, Rajab 2025 alias 1446 Hijriah sudah hampir memasuki minggu keempat.

Artinya, tak lama lagi umat Islam akan memasuki bulan baru, yakni Syaban. 

Lantas, Syaban 2025 mulai kapan?

 

Berikut ini informasi seputar jadwal, amalan,  larangan dan keutamaannya.

Syaban berarti percabangan atau pembagian.

Akar katanya adalah sya’aba. 

 

Ibnu Duraid menjelaskan, Syaban disebut percabangan karena pada bulan tersebut, banyak orang Arab mencari air dari lingkungan Yaman dan Himyar.

Ada pula yang menyebut bahwa penamaan ini muncul karena letaknya di antara Ramadhan dan Rajab. 

Pun juga ada yang menyatakan bahwa alasan penamaan Syaban disebabkan berpencarnya suku-suku Arab pada bulan tersebut.

Terlepas dari arti namanya, Syaban adalah bulan yang spesial. 

Pasalnya, ia mendahului datangnya Ramadan dan kerap dijadikan bulan ‘latihan’. 

 

 Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, Abu Bakar al-Balkhi berkata:

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, sedangkan bulan Syaban adalah bulan untuk menyiram tanaman tersebut, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen apa yang telah ditanam.” (Lata’if al-Ma’arif halaman 121).

Berdasar Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2025 yang diterbitkan Ditjen Bimas Islam RI Kementerian Agama, 1 Syaban 1446 Hijriah jatuh pada Jumat, 31 Januari 2025.

Artinya, kurang lebih, 5 hari lagi, bulan pembuka Ramadan tersebut tiba.

Keterangan tanggal senada juga dijumpai dalam Kalender Hijriyah Global Tunggal (KGHT) 1446 Hijriah.

 

Tertulis bahwasanya 1 Syaban 1446 H bertepatan dengan Jumat, 31 Januari 2025. Begini keterangan dalam kalender tersebut:

“Ijtima’: Rabu, 29 Januari 2025 M pukul 12:35:53 GMT.

Awal Imkan Rukyat Dunia: Kamis, 30 Januari 2025 M pukul 02:01:23 GMT. Lintang: 10° 00’ 00” LS. Bujur: 112° 49’ 00” BB.

Tinggi bulan: 07° 03’ 08”. Elongasi: 08° 00’ 00”. 1 Sya’ban 1446 H: Jumat, 31 Januari 2025 M.”

Tentunya, Anda sudah tahu bahwasanya waktu pergantian hari kalender Hijriah berbeda dengan Masehi.

Jika hari berganti tiap pukul 00.00 malam dalam kalender Masehi, maka, dalam kalender Hijriah, pergantian ini terjadi sewaktu Matahari terbenam alias waktu maghrib.

 

Artinya, pada Kamis, 30 Januari 2025 usai Matahari terbenam, sudah masuk 1 Syaban 1446 Hijriah.

Usai mengetahui waktu tibanya Syaban, mungkin pembaca bertanya-tanya, apa amalan yang bisa dikerjakan?

 

Amalan Bulan Syaban 2025

Nah, mengingat bulan Syaban sudah di depan mata, sebagai seorang Muslim hendaknya kita bersiap-siap untuk menyambutnya.

 

Salah satu cara untuk memaknainya adalah dengan mengamalkan bacaan doa.

1. Doa Menyambut Bulan Syaban 1

اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيْمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ، وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيطَانِ، وَرِضوَانٍ مِنَ الرَّحمَنِ

Allahumma ad-khilhu ‘alainaa bil amni wal iimaani was salaamati wal islaam, wa jiwaarim minasy-syaithooni, wa ridhwanim minar rohmaani

 Artinya: “Ya Allah, masukkanlah kami pada bulan ini dengan rasa aman, keimanan, keselamatan, dan Islam, juga lindungilah kami dari gangguan setan, dan agar kami mendapat rida Allah (Ar-Rahman).” (HR. Al-Baghawi dalam Mu’jam Ash-Shahabah, sanadnya sahih).

 Baca Juga: Nama 5 Pimpinan KPK dan Dewas Terpilih Baru Periode 2024-2029

 

2. Doa Menyambut Bulan Syaban 2

Jika seseorang telah melihat hilal secara langsung, maka doa yang dibacakan adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ رَبِّى وَرَبُّكَ اللَّهُ

Allahumma ahlilhu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal islaami. Rabbi wa rabbukallah

Artinya: “Ya Allah, tampakkanlah bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR. Ahmad, 1:162 dan Tirmidzi, no. 3451, dan Ad-Darimi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).

3. Puasa Bulan Syaban

Amalan pertama yang bisa anda amalkan pada Syaban adalah berpuasa. Rasulullah SAW diketahui memperbanyak puasa selama bulan kedelapan kalender Hijriah ini.

  

Dari Aisyah berkata:

 مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ, وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

 Artinya: “Saya tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah mengetahui beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Syaban.” (HR Bukhari no 1969 dan Muslim no 782)

 

Dari Usamah bin Zaid, ia berkata:

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ, لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ, قَالَ : ذَلِكَ شَهْرُ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ, وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ, فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, saya tidak melihatmu berpuasa di bulan seperti engkau berpuasa di bulan Syaban (karena seringnya)?’ Beliau menjawab, ‘Bulan itu banyak manusia lalai, yaitu antara Rajab dan Ramadan, bulan diangkat amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan saya ingin untuk diangkat amalku dalam keadaan puasa.” (HR Nasai no 4/4201 dan Ahmad no 5/201. Oleh Syaikh al-Albani, hadits ini dihukumi hasan)

Baca Juga: Meriahkan Milad Ke-112 Muhammadiyah dengan 50 Ucapan, Sejarah, Tema, Tujuan, Gratis Downlod Logo Miladnya Disini

 

4. Sholat Sunnah Tathawwu’

Dalam hadits sebelumnya, Rasulullah menyatakan bahwa Syaban banyak dilalaikan manusia karena letaknya antara dua bulan mulia, yakni Rajab dan Ramadan.

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, kalimat Nabi Muhammad SAW di atas layaknya isyarat bahwasanya umat Islam sudah semestinya memanfaatkan waktu-waktu lalai dengan amal ketaatan.

 Oleh karena itu, sejumlah Ulama salaf ada yang menunaikan sholat sunnah tathawwu’ di antara Maghrib dan Isya.

Alasannya, waktu tersebut adalah momen lalainya manusia.

Di samping itu, sholat malam pada sepertiga malam terakhir bisa diutamakan.

 

Sebab, sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling banyak dilalaikan manusia dari mengingat Allah.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

النبي صل اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : «أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ العَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللهِ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

 Artinya: “Waktu terdekat Rabb kepada hamba-Nya adalah di saat malam terakhir. Karena itu jika kau mampu untuk menjadi orang yang berdzikir kepada Allah di waktu tersebut, maka kerjakanlah.” (HR Tirmidzi no 3579 dan Nasai no 572)

 

Di samping amalan di atas, juga disarankan untuk banyak beribadah.

Mulai dari menunaikan sholat-sholat sunnah, bersedekah, hingga membaca Al Qur'an.

Semua ini insya Allah akan membantu seseorang menjalani Ramadan secara maksimal. 

 

Larangan Bulan Syaban

Selama Syaban, ada satu larangan yang telah begitu termasyhur di tengah masyarakat, yakni larangan puasa setelah Nisfu Syaban alias pertengahan Syaban (kira-kira tanggal 16-29/30).

Dilihat dari laman resmi Badan Amil Zakat Nasional, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila telah masuk pertengahan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Lebih lanjut, sebagaimana penjelasan dari situs NU, sebagian ulama mempermasalahkan hadits di atas karena adanya perawi bermasalah.

 

Alhasil sebagian ulama tidak melarang puasa setelah Nisfu Syaban.

Misalnya, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Kitab Fathul Bari berkata:

وقال جمهور العلماء يجوز الصوم تطوعا بعد النصف من شعبان وضعفوا الحديث الوارد فيه وقال أحمد وبن معين إنه منكر

Artinya: “Mayoritas ulama membolehkan puasa sunnah setelah Nisfu Syaban dan mereka melemahkan hadits larangan puasa setelah Nisfu Syaban. Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan hadis tersebut munkar.”

Selain pendapat Ibnu Hajar, bagaimana pendapat ulama-ulama Syafiiyyah lainnya

Syaikh Wahbah az Zuhaili dalam Kitabnya Fiqhul Islami wa Adillatuhu menjelaskan:

 

قال الشافعية: يحرم صوم النصف الأخير من شعبان الذي منه يوم الشك، إلا لورد بأن اعتاد صوم الدهر أو صوم يوم وفطر يوم أو صوم يوم معين كالا ثنين فصادف ما بعد النصف أو نذر مستقر في ذمته أو قضاء لنفل أو فرض، أو كفارة، أو وصل صوم ما بعد النصف بما قبله ولو بيوم النص.

 Artinya, “Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, puasa setelah nisfu Syaban diharamkan karena termasuk hari syak, kecuali ada sebab tertentu, seperti orang yang sudah terbiasa melakukan puasa dahr, puasa daud, puasa senin-kamis, puasa nadzar, puasa qadha’, baik wajib ataupun sunnah, puasa kafarah, dan melakukan puasa setelah nisfu Syaban dengan syarat sudah puasa sebelumnya, meskipun satu hari nisfu Syaban.”

 

Pada intinya, mazhab Syafii melarang puasa setelah Nisfu Syaban.

Alasannya ada dua, yakni:

Hari-hari setelah Nisfu Syaban adalah hari syak atau keraguan, mengingat, tak lama setelahnya, Ramadan tiba.

Jadi, dikhawatirkan, seorang puasa Syaban padahal telah masuk Ramadan. Waktu persiapan untuk menjalani puasa Ramadan.

 

Keutamaan Bulan Syaban

1. Bulan Terangkatnya Amal Manusia

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, keutamaan Syaban yaitu di dalamnya amalan manusia diangkat kepada Allah SWT.

Amalan yang diangkat ini merupakan kumpulan amalan umat muslim selama satu tahun penuh.

Amalan manusia dalam setahun terangkat keseluruhannya pada bulan Syaban. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW;

“Di bulan ini amalan terangkat sampai ke Rabb semesta alam”.

 

 Setelahnya, barulah diangkat seluruh amalan seumur hidup ketika sudah meninggal.

Pada bulan Syaban ini, Rasulullah SAW akan merasa senang jika amalannya terangkat ketika sedang berpuasa.

Sebagaimana ditunjukkan dalam sabdanya berikut ini:

 “Di bulan ini amalan terangkat sampai ke Rabb semesta alam, dan saya senang apabila saat amalku terangkat saya sedang berpuasa”.

 

Oleh karena itu, umat muslim sebaiknya meneladani Nabi SAW dengan memperbanyak puasa di bulan Syaban.

Karena pada momen itu amalan lebih diterima dan derajat akan diangkat.

 

2. Puasa Syaban Disenangi Rasulullah

Puasa merupakan amalan yang disenangi oleh Rasulullah SAW di bulan Syaban.

Hal ini diterangkan dalam sebuah hadits dari Usamah bin Zayd RA, sebagai berikut:

يَا رَسُولَ الله، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ؛ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ (۱)

 

Artinya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa di bulan-bulan lainnya seperti Anda berpuasa di bulan Sya’ban ini?

Rasulullah SAW menjawab: Karena ini bulan yang banyak dilalaikan manusia diantara Rajab dan Ramadan.

Padahal di bulan ini amalan terangkat sampai ke Rabb semesta alam, dan saya senang apabila saat amalku terangkat saya sedang berpuasa.”

 

Maka dari itu, Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Syaban.

Seperti yang diceritakan Ummul Mu’minin Aisyah RA berikut:

ما رَأَيْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ (٢).

Artinya: “Tidak pernah saya melihat Rasulullah menyempurnakan puasa di suatu bulan seperti di bulan Ramadhan, dan belum pernah saya melihat beliau lebih banyak berpuasa di suatu bulan seperti berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

3. Pendahulu Bulan Ramadan

Syaban merupakan pendahulu sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Bulan Syaban dapat diisi dengan memperbanyak ibadah puasa sebagai latihan sebelum memasuki Ramadan.

Maka dari itu, ibadah pada bulan Ramadan juga disyariatkan di bulan Syaban seperti puasa dan membaca Al-Qur’an.

 

Dengan begitu, diri menjadi lebih siap dan mantap dalam menaati Allah di bulan suci.

Menyiapkan diri di bulan Syaban juga dapat menghilangkan rasa berat untuk beribadah di bulan Ramadan karena sudah dibiasakan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Abu Bakr al-Balkhi Rahimahullah berikut:

قال أبو بكر البَلْخِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «شهر رَجَبشهر الزرع، وشهر شعبان شهر سقي الزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع»

Artinya: “Bulan Rajab adalan bulan untuk menanam.

Bulan Sya’ban adalah bulan untuk mengairi tanaman.

Sedangkan bulan Ramadan adalah bulan untuk menuai hasil panen.”

 

4. Bulan Para Pembaca Al Quran

Keutamaan selanjutnya yaitu bulan Syaban merupakan bulannya para pembaca Al-Qur’an.

Para salaf terdahulu mendedikasikan waktu di bulan Syaban untuk membaca Al-Qur’an.

Dengan begitu, mereka mengatakan:

شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ القُرَّاء

Artinya: “Bulan Sya’ban adalah bulannya para pembaca Al Qur’an.”

 Baca Juga: Miras Diteguk Santri Ditusuk, Puluhan Ribu Santri Yogyakarta Demonstrasi Tuntut Pelaku Penusukan Dihukum Setimpal

 

5. Bulan untuk Membantu Fakir Miskin

Bulan Syaban merupakan waktu yang tepat untuk membantu fakir miskin.

Dengan cara bersedekah kepada mereka agar bisa lebih kuat dalam melaksanakan puasa di bulan selanjutnya yaitu Ramadan.

 Selain itu, bulan Syaban menjadi tempat untuk menunaikan zakat.

Sebab banyak yang menunda pembayaran zakat karena ingin membayarnya di bulan Ramadhan dengan anggapan pahalanya lebih besar.

 

Padahal, menunda-nunda zakat tidak diperbolehkan apabila telah sempurna selama satu tahun penuh.

Menunda zakat ini mengandung kezaliman dan bentuk maksiat kepada Allah SWT.

 Namun, zakat ini boleh disegerakan untuk di bayar sebelum waktunya. Hal tersebut dilakukan sesuai dengan kebutuhan fakir miskin.

 

 6. Diapit Dua Bulan Mulia

Bulan Syaban merupakan bulan kedelapan dalam kalender Hijriah.

Syaban terletak diantara dua bulan mulia yaitu Rajab dan Ramadan.

Bulan rajab sendiri disebut bulan mulia karena termasuk bulan al-Haram yang di dalamnya dianjurkan untuk berpuasa.

 

Oleh karena itu, Syaban biasanya dilalaikan orang-orang karena letaknya.

Padahal, di dalam bulan ini terdapat banyak keberkahan.

Selain bulan terangkatnya amal, Syaban menjadi tempat berlatih sebelum memasuki Ramadan seperti yang diibaratkan dalam pernyataan Abu Bakr al-Balkhi Rahimahullahu berikut:

وقال: «مثل شهر رجب كالريح، ومثل شعبان مثل الغيم، ومثل رمضان مثل المطر» (1)

“Perumpamaan bulan Rajab itu seperti angin, bulan Syaban itu seperti mendung dan bulan Ramadhan itu seperti hujan.

 Baca Juga: Sosok Profil Gus Miftah dan Tugasnya Sebagai Utusan Khusus Presiden RI

 

7. Arah Kiblat Dialihkan

Melansir NU Online, keutamaan berikutnya yang dimiliki bulan Syaban yakni di dalamnya terdapat peristiwa bersejarah dalam Islam.

Peristiwa itu yakni Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengalihkan arah kiblat dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Ka’bah di Makkah.

Sebagaimana yang dijelaskan Allah SWT dalam firmannya Surat Al Baqarah 144: 

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ  وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ  وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Lantik 55 Wakil Menteri di Kabinet Merah Putih, Ini Nama-namanya

 

Artinya: “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi.

Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam.

Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu.

Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 144).

 

8. Diturunkan Ayat Perintah Bersholawat

Pada bulan Syaban, terjadi peristiwa bersejarah lainnya dalam Islam.

Yaitu Allah SWT memerintahkan hambanya untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Ayat tersebut terdapat dalam surat al Ahzab ayat 56.

Berikut bacaan serta terjemahannya: 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.

Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab Ayat 56)

 

9. Kemuliaan Malam Nisfu Syaban

Keistimewaan pada bulan Syaban selanjutnya terletak di pertengahan bulan yang disebut dengan Nisfu Syaban.

 

Nisfu Syaban berarti hari atau malam pertengahan bulan Syaban yaitu pada tanggal 15 Syaban.

Pada bulan ini umat muslim dapat memperbanyak amalan dengan berpuasa dan menunaikan salat malam.

Seperti yang telah diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا. رواه أبو دود

Artinya: “Jika tiba malam Nisfu Syaban, maka sholatlah (sunnah) pada malam harinya (malam lima belas) dan berpuasalah (sunnah) pada siang harinya (hari kelima belas)” (HR. Ibnu Majah)

 

Selain itu, dalam hadits riwayat Ibnu Hibban dijelaskan bahwa Nisfu Syaban menjadi momen Allah SWT mengampuni seluruh penduduk Bumi.

 

 

Kecuali orang-orang yang berlaku syirik atau menduakan Allah SWT dan menyimpan rasa dengki seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut:

يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ والطَّبَرَانِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ)

Baca Juga: Meluap! Ribuan Jama’ah hadir di PHBI Langensari Bersholawat bersama Majelis Gandrung Nabi

 

 Artinya: “Allah merahmati para hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, maka Ia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan seorang muslim yang ada permusuhan, kedengkian dan kebencian terhadap muslim lain karena urusan duniawi.” (HR Ibnu Hibban, ath-Thabarani dan al-Baihaqi). (fal/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Puasa Bulan Syaban #Bulan Para Pembaca Al Quran #memperbanyak puasa di bulan Syaban #Bulan Terangkatnya Amal Manusia #Syaikh Wahbah az Zuhaili dalam Kitabnya Fiqhul Islami wa Adillatuhu #nisfu syaban #puasa ramadan #Surat Al Ahzab ayat 56 #mazhab Syafii melarang puasa setelah Nisfu Syaban #Masjidil Aqsha di Palestina #Surat Al Baqarah 144 #Diturunkan Ayat Perintah Bersholawat #Amalan Bulan Syaban 2025 #Kitab Fathul Bari #Puasa Syaban Disenangi Rasulullah #Sholat Sunnah Tathawwu #Kemuliaan Malam Nisfu Syaban #Keutamaan Bulan Syaban #Rajab 2025 #Doa Menyambut Bulan Syaban