RADARSEMARANG.ID - Di penghujung bulan September ini menjadi momen yang indah bagi pohon Tabebuya untuk mekar.
Pohon yang biasanya juga disebut Pohon Terompet Emas ini seperti menjadi pohon sakura versi KW.
Tabebuya atau Handroanthus Chrysotrichus ini sering ditanam di pinggir jalan raya ataupun jalan daerah.
Seperti halnya di Jalan Lingkar Salatiga (JLS) yang ada di Kota Salatiga dan di sebagian ruas jalan di Ungaran, Kabupaten Semarang.
Pohon dengan bunga yang berwarna-warni mulai dari putih, merah, pink, hingga kuning ini membuat sebagaian jalanan tampak indah.
Apalagi di JLS, pohon tersebut ditanam di pulau sepanjang 11 kilometer dari Blotongan hingga Tingkir.
Sedangkan di Ungaran sendiri, pohon Tabebuya bisa ditemui di depan Kantor DPRD Kabupaten Semarang dan di dekat SMA Negeri 1 Ungaran yang berada di Jalan Diponegoro.
Tidak hanya indah untuk di pandang, bunga dari pohon Tabebuya ini juga sering berjatuhan dan luruh ketika terhembus oleh angin. Sehingga banyak berceceran di jalanan.
Di Indonesia sendiri, pohon Tabebuya tumbuh dan bermekaran di bulan Maret dan April. Namun kenyataanya di penghujung bulan September ini, pohon Tabebuya yang ada di berbagai daerah di Jawa Tengah tengah bermekaran.
Sontak hal ini akan menjadi salah satu spot atau lokasi untuk berswafoto atau mengabadikan lewat video. Karena keindahannya seperti pohon bunga sakura yang berada di Jepang.
Pohon Tabebuya sendiri bisa beradaptasi dengan lokasi yang mendapatkan matahari sedang hingga penuh. Yang terpenting yakni perawatan pohon Tabebuya dengan memangkas batang tua dan kayu mati yang telah rapuh.
Selain itu pohon yang satu ini relatif memiliki ketahanan yang cukup kuat dari hama dan penyakit. Bahkan bisa hidup dengan waktu yang lama dan tidak terganggu dari berbagai jenis hama, seperti serangga.
Selain indah, bunga pohon Tabebuya juga memiliki kegunaan untuk dijadikan pupuk. Dimana cara pengolahannya pun sangat mudah.
Kumpulkan bunga Tabebuya yang berjatuhan, kemudian iamkan hingga membusuk.
Setelah itu kubur atau letakkan di dalam tanah layaknya pupuk. Dan biarkan hingga tanaman menjadi subur. (nun/bas)
Editor : Baskoro Septiadi