RADARSEMARANG.ID—Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) belum lama ini menghebohkan jagat maya.
BMKG mengingatkan kekhawatiran terjadinya gempa megatrush. Tepatnya, kekhawatiran terjadinya Megathrust Selat Sunda M 8.7 dan Megathrust Mentawai-Suberut M 8.9.
Lantas, apa itu gempa megatrush? Menukil dari sejumlah sumber menyebut bahwa gempa bumi megathrust berasal dari zona megathrust.
Megathrust adalah bagian dangkal suatu lajur pada zona subduksi yang mempunyai sudut tukik yang landai.
Di Indonesia, ada tiga zona megathrust. Termasuk dalam zona subduksi aktif. Yaitu, subduksi Sunda. Mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.
Ada juga subduksi Banda, subduksi Lempeng Laut Maluku, subduksi Sulawesi, subduksi Lempeng Laut Filipina, dan subduksi Utara Papua.
Tercatat, ada tiga segmentasi megathrust di Samudra Hindia selatan Jawa. Yaitu, segmen Jawa Timur, segmen Jawa Tengah-Jawa Barat. Juga segmen Banten-Selat Sunda.
Ketiga segmen megathrust ini, memiliki magnitudo tertarget M 8.7. Artinya, zona megathrust menyimpan potensi gempa besar.
Daryono selaku Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG menyampaikan kekhawatiran terhadap Seismic Gap Megathrust Selat Sunda M 8.7.
Juga kekhwatiran terjadinya Megathrust Mentawai-Suberut M 8.9.
Baca Juga: Menegangkan! Publik Heboh Saat Jepang Alami Gempa Bumi Berpotensi Tsunami
Sebab, zona sumber gempa sangat potensial. Hanya saja belum mengalami gempa besar dalam kurun waktu ratusan tahun lalu.
"Rilis gempa di kedua segmen megathrust ini boleh dikata 'tinggal menunggu waktu', karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar," jelas Daryono dalam keterangannya, Selasa (13/8/2024).
Merujuk peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 disebutkan, segmen Megathrust Mentawai-Suberut dan Megathrust Selat Sunda, kali terakhir gempa lebih dari ratusan tahun lalu.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 3,2 Guncang Bantul Yogyakarta, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Megathrust Selat Sunda sepanjang 280 km, lebar 200 km, dan pergeseran (slip rate) 4 cm per tahun.
Megathrust Selat Sunda tercatat pernah 'pecah' pada tahun 1699 dan 1780, dengan M 8.5. Sedangkan Megathrust Mentawai-Siberut, memiliki panjang 200 km dan lebar 200 km.
Kendati demikian, Daryono meminta masyarakat tidak khawatir. Sebab, BMKG sudah menyiapkan sistem monitoring, prosesing, dan diseminasi informasi gempa bumi.
Baca Juga: Ngaliyan Banjir Bandang seperti Tsunami; Terjang Perumahan Wahyu Utomo, Delapan Mobil Hanyut
BMKG juga sudah memiliki system peringatan dini tsunami yang semakin cepat dan akurat. Ini sebagai upaya antisipasi dan mitigasi.
Daryono menyebut, BMKG memiliki sistem InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System).
Baca Juga: 104 Bencana Menerjang Sejumlah Wilayah di Jateng Sepanjang 2024, Ini Data Lengkapnya
Sistem ini bisa digunakan untuk segera menyebarluaskan informasi terkait gempa bumi dan peringatan dini tsunami. Dengan jangkauan seluruh wilayah Indonesia.
Masih menurut Daryono, BMKG juga telah melakukan berbagai upaya mitigasi lainnya.
Antara lain, memberikan edukasi, pelatihan mitigasi, drill, hingga evakuasi berbasis pemodelan tsunami. (isk)
Editor : Iskandar