RADARSEMARANG.ID - Hari ini pada tanggal 26 Juli 2024, Indonesia memperingati Hari Puisi Indonesia.
Penetapan Hari Puisi Indonesia pada tanggal ini diketahui sebagai bentuk penghormatan atas lahirnya tokoh penyair terkemuka Indonesia, Chairil Anwar, pada 26 Juli 1922.
Dikutip dari Gurudikdas Kemdikbud, peringatan Hari Puisi Indonesia pertama kali dideklarasikan pada tanggal 22 November 2012 oleh Sutardji Calzoum Bachri, yang dijuluki sebagai Presiden Penyair Indonesia.
Saat itu ia didampingi oleh 40 sastrawan se-Indonesia di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau.
Chairil Anwar dianggap sebagai tonggak utama lahirnya puisi modern di Indonesia.
Ia juga dinobatkan sebagai pelopor sastra Angkatan 45 sehingga dijuluki sebagai si ‘Binatang jalang’.
Pengaruhnya yang besar dalam dunia puisi Indonesia dihormati tidak hanya melalui penetapan Hari Puisi Indonesia, tetapi juga melalui penetapan Hari Puisi Nasional.
Berbeda dengan Hari Puisi Indonesia, Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April. Tanggal itu merupakan tanggal di mana Chairil Anwar wafat, tepatnya pada 28 April 1949.
Memiliki kehidupan yang sangat singkat, hanya 27 tahun, Chairil Anwar berhasil meninggalkan jejak yang mendalam lewat karya-karyanya yang mendobrak.
Karya-karyanya tidak hanya memengaruhi Sastra Indonesia pada masanya, tetapi juga membuka jalan bagi generasi penyair setelahnya.
Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatra Utara, dan berasal dari keluarga terpandang di Payakumbuh, Sumatra Barat.
Dikutip dari Ensiklopedia Sastra Indonesia Kemdikbud, Chairil Anwar sudah memiliki pandangan dan sikap hidup yang sangat idealis sejak remaja.
Hal tersebut ditandai dengan sikap tegas menolak bergabung dan menjadi alat propaganda politik pada masa pendudukan Jepang.
Sajak-sajak yang ia ciptakan tak lepas dari dinamika sosial politik dan budaya pada zamannya seperti "Diponegoro" (1943).
Beberapa karyanya yang sudah dipublikasikan, antara lain kumpulan sajak Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, 1950).
Karya-karyanya yang lain dihimpun H.B. Jassin dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956) dan Aku Ini Binatang Jalang (1986).
Meski demikian, menurut Jassin, di luar buku-buku tersebut masih banyak karya Chairil Anwar yang belum dibukukan, tersebar di berbagai majalah, surat kabar dan media cetak lainnya. (mg4/bas)
Editor : Baskoro Septiadi