Beruntung peristiwa itu terjadi di jalan lama yang jarang dilewati, sehingga tidak terlalu mengganggu. Meski demikian pihak Perhutani segera menyingkirkan.
Pohon jati berusia 102 tahun yang berada di petak 79E itu tumbang karena terpaan angin kencang dan struktur tanah miring.
"Begitu mendapat laporan kami segera mengirim pekerja dengan peralatan lengkap," kata Asper Perhutani BKPH Plelen BT Santoso.
Selain di Jalan Daendels, pada saat yang hampir bersamaan insiden pohon tumbang juga terjadi di jalan alternatif Alas Roban. Pohon jati yang tumbuh di tebing yang nyaris tegak lurus tergerus air hujan dan tumbang ke jalan.
Kejadian ini menjadi perhatian serius pihak Perhutani karena tahun ini sudah ada lima pohon jati yang roboh di wilayah BKPH Plelen.
Menurut BT Santoso, Perhutani sudah melakukan langkah-langkah pengamanan melalui pemasangan banner di jalan maupun sosialisasi kepada masyarakat yang bermukim di dekat hutan. Pendataan juga sudah dilakukan.
"Pohon yang dianggap rawan sudah kami laporkan. Kami tidak bisa langsung menebang karena ada prosedur yang harus dilalui," tambah BT Santoso.
Ancaman serupa datang dari pohon-pohon mahoni maupun flamboyan berukuran raksasa. Pohon ini tumbuh di tepi jalan Pantura, terutama Jalan Daendels.
Banyak di antara pohon itu yang miring ataupun cabangnya melintang di atas jalan raya. Jika roboh atau patah dahan bisa membahayakan karena lalu lintas padat sepanjang hari. (yan/zal) Editor : Agus AP