Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Komunitas Batang Heritage Temukan Banyak Benda Terpendam, Berharap Ekskavasi

Agus AP • Senin, 12 Juni 2023 | 15:49 WIB
Komunitas Batang Heritage saat berkunjung ke situs-situs peninggalan bersejarah. (Istimewa)
Komunitas Batang Heritage saat berkunjung ke situs-situs peninggalan bersejarah. (Istimewa)
RADARSEMARANG.ID, Batang - Kabupaten Batang punya banyak temuan benda-benda purbakala. Salah satu komunitas pemerhatinya adalah Batang Heritage. Komunitas yang dibentuk pada 2015 ini sudah mengunjungi ratusan temuan benda-benda diduga cagar budaya.

Para anggota komunitas ini paham, mereka bukan seorang ahli benda-benda cagar budaya. Karenanya, tiap berkunjung ke suatu situs, mereka selalu melakukan sosialisasi kepada warga sekitar agar menjaga benda-benda purbakala itu. Sehingga tidak merusak tatanan aslinya.

Ketika ada temuan candi atau apapun di dalam tanah, mereka meminta warga tidak melakukan penggalian. Hal ini dilakukan untuk melindungi struktur-struktur yang ada di dalam tanah. Karena hal ini hanya boleh dilakukan oleh seorang ahli arkeologi saat ekskavasi dilakukan.

"Penggalian tanah itu kan bisa merusak data-data timbunan tanah yang ada. Padahal itu penting saat dilakukan penelitian yang sesungguhnya. Misal di Silurah, kami sudah memetakan. Ada beberapa titik candi di dalam tanah. Warga diedukasi agar tidak merusak titik-titik itu," ujar Pegiat Batang Heritage MJA Nashir di kediamannya Kelurahan Kalisalak, Kecamatan Batang.

Ia menjelaskan, awal komunitas ini dibentuk, seminggu sekali sudah pasti turun ke tempat-tempat temuan benda bersejarah. Kegiatan itu rutin dilakukan, hingga hampir seluruh tempat sudah dikunjungi. Saat ini, intensitas kunjungan sudah berkurang drastis. Anggota Batang Heritage hanya ke lapangan dalam beberapa bulan sekali.

Nashir mengatakan, komunitasnya tidak hanya konsen ke benda-benda cagar budaya saja. Melainkan juga tradisi dan budaya-budaya yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, tradisi yang ada di masyarakat tak kalah penting sebagai peninggalan nenek moyang. Sehingga perlu untuk dijaga dan dilestarikan.

"Kami mencari informasi, terutama penelitian-penelitian yang sudah pernah dilakukan pada zaman dahulunya. Yang penting kan, bagaimana itu diinformasikan ke masyarakat. Jadi kita bergerak di situ," terangnya.

Anggota Batang Heritage saat ini hanya tersisa 10-an orang. Para anggota yang terdahulu sudah banyak pindah ke daerah lain. Batang Heritage diketuai oleh Prastyo Widi. Nashir menambahkan, komunitas ini dilatarbelakangi oleh orang-orang yang peduli terhadap budaya.



Saat sosialisasi sudah dilakukan, terkadang ada pihak lain yang tiba-tiba mendatangi benda peninggalan itu dan mengubah tatanan yang ada. Pihaknya pun hanya bisa menyayangkan aksi-aksi sepihak tersebut. Seperti yang terjadi di situs peninggalan pemandian Balekambang. Ada pihak yang tiba-tiba mengubah struktur kolam sehingga bentuknya berubah.

"Kita tidak pengen sok tahu, karenanya kita melibatkan orang-orang ahli di bidangnya. Di Batang, saat ini yang perlu dilakukan itu ekskavasi. Banyak situs bersejarah yang masih terkubur. Seperti di Silurah ada punden berundak. Ini tergantung pemerintah, keseriusan untuk ke arah itu," tegasnya.

Sedangkan berkaitan dengan kebudayaan, pihaknya sedang gencar untuk pengajuan Nyadran Gunung di Silurah untuk diajukan sebagai warisan budaya tak benda. Selain itu, ada juga Batik Rifaiyah yang sedang diangkat agar lebih dikenal.

"Ketika kita bersinergi dengan Balai Arkeologi, diketahui tentang pintu masuk indianisasi di Jawa itu pintu masuknya Batang. Ditandai dengan Balekambang di Gringsing, prasasti Sojomerto di Reban, hingga Silurah," imbuhnya.

Situs yang paling menarik menurutnya adalah prasasti Sojomerto. Prasasti itu diibaratkan sebagai kartu keluarga seorang tokoh pada zaman Syailendra. Begitu juga dengan arca watu gajah di Wonotunggal. Arca ini unik karena hanya ada di Kabupaten Batang. (yan/ton) Editor : Agus AP
#Batang Heritage #CAGAR BUDAYA #Komunitas Batang Heritage