Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Singo Barong Langgeng Budoyo Batang Pertahankan Pakem Pertunjukan, Anggota Dilarang Molimo

Agus AP • Senin, 22 Mei 2023 | 16:13 WIB
Lutut Nugroho yang beternak burung perkutut di rumahya di Kebondalem, Kecamatan Kota Kendal. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Lutut Nugroho yang beternak burung perkutut di rumahya di Kebondalem, Kecamatan Kota Kendal. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Batang - Kesenian tradisional Singo Barong sangat terkenal di Jawa. Sejarah kesenian ini ternyata cikal bakalnya dari Batang. Tepatnya dari Alas Tunggorono yang menjadi bagian dari Alas Roban. Berada di wilayah pesisir timur Kabupaten Batang hingga selatan ke wilayah Pegunungan Bismo Dieng. Singo Barong merupakan perwujudan Singa Putih besar yang sakti. Dulu menjadi salah satu penghuni hutan ini.

Di Kabupaten Batang, tepatnya di Desa Krengseng, Kecamatan Gringsing, terdapat grup Langgeng Budoyo yang memainkan kesenian Singo Barong. Grup ini masih eksis dan setia dengan pakem pertunjukan asli, tanpa campur tangan hiburan modern.

Kelompok kesenian Singo Barong yang dipimpin Bejo ini sudah berdiri sejak 1980. Beranggotakan remaja dari lingkungan sekitar. Dari grup kecil ala kadarnya, sekarang Langgeng Budoyo menjadi besar dan menjadi referensi kesenian serupa di Batang.

Mbah Dawam, 81, penasihat sekaligus pawang Langgeng Budoyo menceritakan, cikal bakal munculnya kesenian Singo Barong ini  bermula dari raja di Jenggolo Manik di wilayah Jawa Timur yang mempunyai putri cantik bernama Dewi Sekartaji. Karena kecantikannya itu, ia menjadi incaran para kesatria. Sang Raja Jenggolo Manik lalu membuat sayembara bagi siapa saja yang ingin menyunting Dewi Sekartaji harus membawa macan putih yang bisa "Toto Jalmo" atau berperilaku seperti manusia sebagai mahar.

Sayembara ini akhirnya direspon oleh Panji Asmorobangun dari Kerajaan Kediri. Yang kemudian mengutus dua abdinya bernama Bancak Doyok atau lebih dikenal sebagai Penthul Tembem. Dua abdi ini selama berbulan-bulan keluar masuk hutan mencari macan putih. Dalam upaya pencarian Bancak Doyok masuk berbagai hutan angker di Pulau Jawa. Akhirnya masuk Alas Tunggorono bagian dari Alas Roban.

Setelah membabat semak belukar dan pohon-pohon besar, Bancak Doyok bertemu dengan macan putih. Keduanya pun bertarung hebat. Macan putih kalah. Dan minta jangan dibunuh dan bersedia dijadikan mahar Panji Asmorobangun untuk Dewi Sekartaji.

“Perjuangan Bancak Doyok ternyata tidak semudah itu. Karena ada beberapa makhluk gaib lain yang mengganggu. Macan ireng, macan loreng, dan gendruwo berusaha menghalangi. Makanya di kesenian Singo Barong selain macan putih, ada juga macan ireng dan loreng. Untuk gendruwo diwujudkan dalam bentuk Dawangan dan setanan,” jelas Mbah Dawam kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pimpinan Kelompok Kesenian Singo Barong Bejo mengisahkan bagaimana suka duka mengurus grup Langgeng Budoyo, mulai dari pengadaan alat sampai ritual khusus supaya penampilan Singo Barong terlihat garang. Ketulusannya pada budaya lokal membawa Bejo habis-habisan berupaya agar kesenian tradisional Singo Barong tetap hidup. “Tak jarang, saya nombok untuk menutup biaya operasional saat ditanggap,” akunya.



Bejo benar-benar mandiri dan keluar biaya dari kantong sendiri. Yang mana dengan menguras kantong pribadi, membuat berbagai perlengkapan. Ada empat Singo Barong, Dawangan, Buroq, dan dan lainnya, serta alat musik telah dimiliki.

“Untuk Singo Barong, kami menggunakan kayu Lo, karena suaranya keras saat mengatupkan bibir. Kami belum pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah, baik finansial maupun bimbingan,” tegas Bejo yang mengaku habis Rp 50 juta untuk pengadaan satu set perlengkapan alat musik dan lainnya.

Bejo mengaku, mengadakan ritual khusus setiap malam Jumat Kliwon dengan meletakkan Singo Barong di kuburan dengan posisi mulut terbuka. Jika mulut Singo Barong tertutup dengan sendirinya berarti ritual selesai. Saat akan main pun Bejo mengadakan ritual pada malam sebelumnya. "Kami tidak musyrik. Ritual ini adalah wujud permintaan izin kami kepada Sang Pencipta supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," jelasnya.

Setiap malam 1 Sura, Bejo bersama anggotanya juga mengadakan ritual di situs pemanduan Balekambang yang berada di Alas Tunggorono Desa Sidorejo, Gringsing.

Bejo dan Mbah Dawam telah menjadikan keberadaan grup Singo Barong menjadi wadah kreativitas anak-anak muda. Setiap minggu berlatih menabuh gamelan dan tari kuda lumping. Dipilihnya hari minggu karena sebagian besar anggotanya masih pelajar. Yang putra main barongan dan menabuh gamelan, sedangkan yang putri menari kuda lumping.

Untuk menjadi anggota Langgeng Budoyo selain mencintai kesenian itu sendiri, juga dilarang Molimo. “Moh madat tidak penggunaan obat-obatan terlarang. Moh madon tidak main perempuan. Moh mabuk  tidak minum minuman keras. Moh maling tidak mencuri, dan moh main tidak berjudi dalam bentuk apapun,” bebernya.

Bejo berharap ada perhatian dari pemerintah daerah agar kesenian tradisional asli ini tidak punah. Langgeng Budoyo secara langsung memberi dampak positif. Anak-anak muda yang menjadi anggota tidak pernah terlibat tawuran atau bertindak criminal, karena Bejo dan Mbah Dawam juga menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada mereka. (han/aro) Editor : Agus AP
#Singo Barong #Pegunungan Bismo Dieng #Alas Tunggorono #Alas Roban