Ketua Asosiasi Kakao Indonesia Kabupaten Batang Zaenal Acheroh mengatakan, lahan kakao berkurang karena imbas proyek. Ada pembangunan PLTU dan jalan tol yang membelah Kabupaten Batang. Pihaknya kini berusaha memperbaiki kualitas perkebunan kakao. Mengingat kondisinya terbilang buruk, baik segi produktivitas maupun kualitas.
Menurutnya, kendala utama merosotnya produktivitas kakao di Batang adalah pendampingan dan perawatan tanaman. Sudah bertahun-tahun tidak ada pendampingan, sehingga petani tidak merawat tanamannya. Bahkan, banyak petani kakao menebang tanamanya karena dianggap kurang menghasilkan.
“Pendamping sekarang ini hanya diserahkan Asosiasi Kakao Indonesia Kabupaten Batang, dengan membantu program Dinas Pertanian dan Perkebunan yang bekerja sama dengan produsen pupuk organik melalui demplot kebun kakao,” ucapnya.
Pihaknya telah menyiapkan tiga hektare lahan sebagai demplot kakao. Tersebar di dua kecamatan. Yaitu di Desa Kenconorejo, Desa Kedungsegok di Kecamatan Tulis, dan Desa Siwatu, Desa Brokoh di Kecamatan Wonotunggal.
Hasil demplot dianggap cukup bagus, dalam waktu enam bulan sudah terlihat peningkatan. Pohon kakao yang sudah tua bugar kembali, mulai daun hingga batang dan buahnya.
Usia tanaman di sana mulai 8 sampai 15 tahun. Dulu satu pohon menghasilkan 3-4 buah, kini bisa sampai 15 buah. "Ke depan jika demplot ini berhasil, akan ditingkatkan hingga ratusan hektare," terangnya.
Pihaknya ingin mengembalikan kejayaan kakao Kabupaten Batang seperti tahun 2.000-an. Masa itu, Kabupaten Batang menjadi penghasilan biji kakao terbesar di Jawa.
"Panen raya tanaman kakao itu di Desember, Mei dan Juni. Produktivtas kakao di Batang belum mampu mencukupi kebutuhan PT UGM Cocoa Teaching Industry. Sekalipun keselurahan produktivitas petani itu bagus," tandasnya. (yan/zal) Editor : Agus AP