DI sebuah rumah produksi di Pekalongan Utara, seorang perajin mencelupkan kain ke dalam bak berisi rebusan daun dan kulit kayu. Warnanya keluar perlahan: cokelat tanah, hijau daun, semburat kuning dari kunyit. Beberapa ratus meter dari situ, sungai kota masih kerap berubah warna dalam semalam - merah, hijau, biru - bekas limbah pewarna sintetis yang selama puluhan tahun dianggap wajar oleh sebagian besar warga. Salah seorang perajin bercerita, ia baru sadar sungai tak seharusnya berwarna-warni, justru ketika merantau kuliah ke kota lain.
Pekalongan adalah "Kota Batik", dan batik adalah nyawa ekonominya. Tetapi Pekalongan juga salah satu wajah paling telanjang dari krisis iklim di Indonesia. Bersama Jakarta, kota ini disebut-sebut terancam "hilang" pada 2030, bila penurunan muka tanah dan banjir rob tak ditangani.
Rob - air laut yang naik ke daratan - kini datang nyaris tanpa jadwal, mengasinkan sumur, merusak perabot, dan memaksa warga meninggikan rumah berkali-kali hingga rendah dan pengap. Di kota batik Pekalongan, air memiliki banyak wajah: sumber kehidupan, sumber warna, dan sumber bencana.
Batik berdiri persis di titik temu itu. Maka mendorong batik yang lebih ramah lingkungan bukan sekadar urusan estetika. Batik yang lebih ramah lingkungan adalah strategi bertahan bagi sebuah kota dan sebuah kebudayaan.
Sebuah kontribusi yang nyata
Di sinilah kerja program adaptasi iklim yang didanai Adaptation Fund melalui Kemitraan menjadi menarik. Alih-alih hanya membangun infrastruktur keras, program ini bekerja lewat pendekatan pengembangan masyarakat: mengumpulkan perajin dari berbagai latar belakang, baik perempuan dan laki-laki, yang lawasan dan pemula, ke dalam satu Perkumpulan Batik Ekologis, melatih mereka membuat warna dari bahan alam (termasuk dari buah mangrove).
Melalui batik ekologis, batik pewarna alam menautkan pelestarian pesisir dengan penghidupan sehari-hari. Dalam perkumpulan ini, pencemaran sungai dari pewarna sintetis juga mulai dipersoalkan. Pencemaran sungai bukan lagi dianggap takdir, dan sedikit banyak, transisi dari pewarna sintetis ke pewarna alam berkontribusi mengurangi perburukan situasi air dan ruang hidup.
Motif-motif ekologis baru khas Pekalongan pun tercipta. Sebagian perajin juga menemukan kebebasan berkreasi yang tak terikat pakem lama. Dalam pameran batik, produk batik ekologis justru menarik generasi muda, entah karena tren fashion lambat atau ingin mengurangi dosa ekologi.
Dalam kerangka Adaptasi Perubahan Iklim (API), model semacam ini menjanjikan. Ia memperlakukan warga sebagai pelaku, bukan korban. Cara yang dikembangkan oleh program Adaptation Fund dengan menautkan ekologi dengan ekonomi; dan menanam kesadaran iklim lewat pekerjaan yang sudah menjadi identitas kota. Bila berhasil dan meluas, bisa menjadi cerita adaptasi yang layak ditiru tentang peran komunitas pesisir dalam menahan bencana.
Tetapi siapa yang menanggung ongkosnya?
Di sinilah kita perlu jujur. Sebab di balik cerita baik itu, ada aritmatika yang keras. Membatik dengan pewarna alam bisa memakan biaya produksi hingga empat kali lipat dibanding pewarna sintetis, khususnya bila pewarna alamnya masih beli yang langsung jadi. Prosesnya lebih lambat, menuntut kesabaran dan modal yang tak dimiliki banyak perajin kecil.
Tak heran, keanggotaan perkumpulan sempat merosot dari sekitar 40 menjadi 22 orang. Sebagian yang kurang aktif adalah mereka yang harus mengejar nafkah utama: warna sintetis memberi uang lebih cepat. Yang bertahan justru sering perempuan dengan komitmen tinggi, yang menanggung kerja lambat dan mahal ini di sela beban rumah tangga.
Artinya, transisi hijau yang kita puji itu sesungguhnya sedang dibebankan pada mereka yang paling sedikit mampu menanggungnya. Perajin kecil diminta membayar dengan modal, waktu, dan risiko pasar untuk sebuah kebaikan bersama, yaitu sungai yang lebih bersih dan kota yang lebih tahan iklim.
Sementara pihak yang paling diuntungkan oleh sungai bersih dan pesisir yang terlindungi: pemerintah kota, industri besar, dan kita semua nyaris tak ikut membayar. Inilah wajah tersembunyi dari banyak strategi iklim berbasis komunitas: ketika tanggung jawab atas krisis yang bersifat struktural dikemas ulang menjadi proyek-proyek kecil yang harus diselesaikan sendiri oleh warga.
Batas dari kebaikan proyek
Ada satu lagi kerapuhan yang jarang diucapkan: keberlanjutan. Banyak kegiatan hanya berjalan selama dana program masih mengalir. Warga bahkan menggambarkan Kemitraan seolah "yang memberi segalanya": dana, infrastruktur, pengetahuan.
Dari sudut pandang hak warga negara, ini pertanda yang mencemaskan: sebuah lembaga proyek sedang mengisi kekosongan yang semestinya diisi negara. Warga menggambarkan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan lebih sering hadir sebagai narasumber ketimbang penanggung jawab, dan komitmen untuk melanjutkan program setelah pendanaan berakhir belum jelas benar.
Maka pertanyaan yang sesungguhnya bukan "apakah batik ekologis baik?" ia jelas baik. Pertanyaannya adalah: apa yang terjadi ketika proyek selesai? Siapa yang akan menjaga agar perajin tak kembali ke pewarna sintetis begitu proyek berhenti dan pasar tetap dingin? (*)
Ditulis oleh : Retno Agustin (Mahasiswa S3 Sosiologi Fisipol UGM) dan Eva Sokhifatun Nisa (KEMITRAAN AF Pekalongan)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Radar Semarang